Harga Jagung dan Kedelai Turun akibat Prospek Panen AS Membaik

Ilustrasi jagung (Sumber : NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 21 Juli 2026 | 00:26:26 WIB

JAKARTA – Harga jagung dan kedelai berjangka Chicago mengalami penurunan pada Selasa setelah rilisnya laporan kondisi tanaman Amerika Serikat yang membaik menekan harga pasaran, walaupun kedua komoditas tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir karena peningkatan permintaan dan tensi geopolitik Timur Tengah.

Sementara itu, komoditas gandum justru mengalami penguatan harga akibat munculnya kekhawatiran atas terganggunya pengiriman dari wilayah Laut Hitam. Adanya eskalasi serangan pada kapal pembawa biji-bijian turut menopang pergerakan harga gandum.

Kontrak jagung paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) mengalami penurunan sebesar 0,6 persen menjadi USD470,25 per bushel pada pukul 07.20 WIB, setelah sempat berada di level tertinggi sejak 20 Mei pada perdagangan Senin.

Harga kedelai turut mengalami pelemahan sebesar 0,3 persen menjadi USD1.223 per bushel usai menyentuh titik tertinggi sejak 13 Mei pada sesi sebelumnya. Sebaliknya, harga kontrak gandum tercatat menguat 0,2 persen menjadi USD675,50 per bushel.

Munculnya tekanan pada jagung dan kedelai terjadi setelah Departemen Pertanian AS (USDA) mempertahankan peringkat kondisi tanaman kedua komoditas tersebut cukup stabil dibandingkan pekan lalu. Perolehan hasil itu tercatat melampaui perkiraan para analis dalam survei Reuters yang melibatkan 11 ekonom serta analis komoditas.

USDA menaksir sebanyak 67 persen tanaman jagung AS berada pada kondisi baik hingga sangat baik, atau mengalami penurunan satu persen dibanding pekan lalu. Meski demikian, angka itu masih melampaui ekspektasi analis yang memprediksi hanya sebesar 66 persen.

Pada komoditas kedelai, USDA mencatat 66 persen tanaman berada dalam kondisi baik sampai sangat baik, yakni naik satu persen dari pekan sebelumnya sekaligus melampaui ekspektasi pasar.

Capaian data tersebut memperkuat optimisme terhadap prospek hasil produksi tanaman pangan Amerika, sehingga mampu meredakan tekanan kenaikan harga pascareli sebelumnya.

Di sisi lain, pergerakan harga gandum terus ditopang oleh meningkatnya risiko hambatan pada pasokan global. Pada pekan lalu, harga gandum berhasil menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir setelah marak aksi serangan terhadap kapal pembawa biji-bijian dan fasilitas pelabuhan di kawasan Laut Hitam serta Laut Azov yang melibatkan Ukraina dan Rusia.

Analis menilai tarif ekspor gandum Rusia mengalami kenaikan akibat situasi pelayaran yang kian rumit di Laut Hitam dan munculnya ketegangan baru di wilayah Selat Hormuz.

Hambatan pada distribusi gandum kian membesar setelah pihak pejabat Ukraina melaporkan adanya serangan rudal Rusia pada kapal pembawa jagung di area dekat pelabuhan Odesa, Ukraina selatan, yang mengakibatkan 10 orang tewas. Insiden tersebut menjadi peristiwa paling mematikan dalam rentetan eskalasi kekerasan selama beberapa pekan terakhir di wilayah Laut Hitam.

Para pelaku pasar saat ini terus memantau dinamika geopolitik di dua jalur perdagangan vital dunia, yaitu Laut Hitam dan Timur Tengah, yang berisiko mengganggu rantai pasokan pangan dunia sekaligus memicu volatilitas harga komoditas pertanian.

Reporter: Akbar