Dolar AS Dekati Level Tertinggi Sepekan Ditengah Isu Perang AS dan Iran

Ilustrasi indeks dolar (Sumber : NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 21 Juli 2026 | 00:17:37 WIB

JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak mendekati posisi tertinggi dalam sepekan pada Selasa (21/7/2026).

Indeks dolar AS yang mengukur kinerjanya terhadap enam mata uang utama bertahan stabil di level 100,96, mendekati rekor tertinggi sejak 15 Juli.

Terhadap yen Jepang, posisi dolar AS cenderung stabil pada level 162,50 yen.

Euro juga hampir tidak mengalami perubahan di level USD1,1415, sementara poundsterling Inggris bertahan pada USD1,3434 usai Perdana Menteri baru Inggris Andy Burnham berjanji tetap mematuhi aturan disiplin fiskal.

Pasar masih dibayangi ketegangan kawasan Timur Tengah dengan pergerakan harga minyak yang berfluktuasi tajam di dekat level tertinggi dalam enam pekan.

Ancaman terhadap pasokan energi global meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Meski demikian, asa meredanya konflik tetap terbuka usai Teheran menerima tawaran gencatan senjata selama 10 hari dari pihak mediator.

“Ada harapan ketegangan sedikit mereda dan pada akhirnya kami akan memasuki fase jeda. Namun, situasinya masih sangat bergejolak,” kata Senior Currency Strategist National Australia Bank, Rodrigo Catril, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tercatat kembali merangkak naik secara tipis.

Para pelaku pasar terus mengkalkulasi potensi lonjakan harga minyak akibat meluasnya peperangan yang berisiko memicu inflasi konsumen.

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di level 4,5937 persen, sedangkan yield tenor 30 tahun tetap bertengger di atas level psikologis 5 persen.

Dolar Selandia Baru melesat 0,4 persen ke USD0,5860 hingga menyentuh posisi tertinggi sejak awal Juni usai rilis data inflasi yang kuat memperbesar peluang kenaikan suku bunga lanjutan.

Di sisi lain, dolar Australia turut menguat tipis mencapai posisi USD0,7001.

Hasil survei Bank Sentral Eropa (ECB) pada Senin memperlihatkan bahwa jajaran perusahaan di kawasan euro memprediksi kenaikan harga jual berlangsung lebih moderat.

ECB diperkirakan bakal mempertahankan suku bunga pada pekan ini, namun melambungnya harga minyak memicu spekulasi bahwa suku bunga deposito sebesar 2,25 persen dapat dinaikkan lagi pada September.

Sementara itu, pergerakan dolar Kanada terpantau stabil setelah sebelumnya sempat jatuh ke level terendah dalam kurun satu bulan.

Depresiasi tersebut terjadi pasca Amerika Serikat menerapkan tarif baru sebesar 50 persen pada berbagai produk asal Kanada sebagai bentuk respons atas tuduhan "perlakuan diskriminatif" dari pemerintah Kanada.

Reporter: Akbar