Inflasi Indonesia Tertekan Kenaikan Harga Minyak Dunia

Ilustrasi minyak (Sumber : NET)
Penulis: Akbar
Senin, 20 Juli 2026 | 11:24:45 WIB

JAKARTA – Samuel Sekuritas Indonesia memprediksi inflasi akan bertahan di rentang target Bank Indonesia, yaitu 2,5 persen ± 1 persen. Namun, risiko kenaikan kini semakin menguat akibat lonjakan harga minyak mentah global.

Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (20/7/2026) pukul 11.55 WIB, harga minyak mentah WTI berada di angka US$ 84,26 per barel, meningkat 8,03 persen dalam sepekan dan melonjak 47,02 persen secara year to date. Sementara itu, harga minyak mentah Brent menyentuh US$ 90,28 per barel, naik 8,49 persen dalam sepekan dan melesat 48,51 persen secara year to date.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, menyatakan bahwa langkah pemerintah dalam mengendalikan harga pangan, penurunan harga LPG non-subsidi, serta dukungan bagi peternak ayam dan produsen telur diharapkan mampu meredam tekanan harga domestik dalam waktu dekat.

“Namun demikian, lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi secara bertahap mendorong kenaikan inflasi pada sektor transportasi, logistik, biaya produksi, serta harga yang diatur pemerintah,” ujar Prasetya dalam risetnya pada Senin (20/7/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Prasetya menilai bahwa menjaga ketahanan pangan tetap menjadi prioritas utama dalam strategi makroekonomi pemerintah. Selain mengelola stabilitas pasokan daging ayam dan telur, pemerintah terus mempererat koordinasi dengan daerah guna memantau ketersediaan bahan pokok setelah adanya fluktuasi musiman di awal tahun.

Keberhasilan Indonesia dalam meredam inflasi pangan baru-baru ini memperlihatkan signifikansi intervensi dari sisi pasokan. Upaya seperti perbaikan logistik, koordinasi produksi, dan pengawasan pasar menjadi pelengkap krusial bagi kebijakan moneter.

Oleh sebab itu, Prasetya berpendapat bahwa investasi berkelanjutan pada produktivitas pertanian, infrastruktur rantai dingin, serta jaringan distribusi regional akan terus menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas harga. Hal ini terutama penting saat variabilitas iklim dan volatilitas harga komoditas global masih membayangi pasar pangan dalam negeri.

“SSI mempertahankan proyeksi inflasi tahun 2026 sebesar 3,0%, dengan catatan bahwa gangguan berkepanjangan di sekitar Selat Hormuz dapat mendorong inflasi melampaui proyeksi dasar,” jelas Prasetya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Akbar