Saham RANS Alami Volatilitas Tinggi, Cari Harga Wajar di BEI

Pencatatan saham perdana PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk. (RANS). Dok:BEI
Penulis: Ibtihal
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:47:55 WIB

JAKARTA — Pergerakan harga saham emiten di bidang hiburan besutan Raffi Ahmad, PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk. (RANS) atau RANS Entertainment, memperlihatkan fluktuasi yang cukup tajam selama empat hari pertama perdagangan pasca-melakukan pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Merujuk pada laporan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan hari Rabu (15/7/2026) hingga pukul 10.25 WIB, saham perusahaan milik figur publik Raffi Ahmad tersebut tercatat menguat sebesar 8,26% atau bertambah 18 poin menuju posisi Rp236 per lembar saham. 

Catatan tersebut kian mempertegas riwayat volatilitas tinggi yang dialami RANS sejak resmi melantai pada hari Jumat (10/7) dengan patokan harga perdana sebesar Rp170. 

RANS dilaporkan sempat melambung hingga 34,12% ke angka Rp228 pada hari pertama debutnya, sebelum akhirnya merosot sebesar 10,53% ke posisi Rp204 pada perdagangan hari Senin (13/7), lalu berbalik menguat lagi sebesar 6,86% menuju level Rp218 pada sesi penutupan perdagangan hari berikutnya.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangan bahwa dinamika naik-turun yang tajam sepanjang empat hari perdagangan perdana ini mengindikasikan bahwa proses penyesuaian untuk menemukan nilai wajar saham masih berjalan dengan dinamis di pasar.

“Antusiasme investor ritel terhadap nama besar Raffi Ahmad dan Nagita Slavina membuat sentimen serta psikologi pasar berperan lebih dominan dibandingkan fundamental pada fase awal perdagangan,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (15/7/2026).

Nafan memaparkan bahwa demi keberlangsungan dalam jangka menengah hingga panjang, tren kenaikan harga saham RANS ke depannya tidak lagi bisa semata-mata bertumpu pada popularitas figur pendirinya. Arah laju saham kelak akan diuji secara riil oleh kapabilitas manajemen perseroan dalam mengubah narasi merek (brand story) menjadi capaian laba (earnings story).

Selain itu, para pelaku pasar saat ini tengah menantikan pembuktian dari pihak manajemen dalam merealisasikan alokasi dana segar hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). 

Dana tersebut diharapkan dapat dioptimalkan untuk menunjang ekspansi usaha, mendongkrak monetisasi atas kepemilikan hak kekayaan intelektual, serta menjaga konsistensi pertumbuhan keuntungan bersih secara berkesinambungan.

Terlebih, Nafan memberikan catatan bahwa industri hiburan tidak bisa dikelompokkan ke dalam sektor defensif seperti halnya saham-saham di sektor barang kebutuhan pokok konsumen. 

Menurut analisisnya, karakteristik dari operasional bisnis hiburan cenderung bersifat non-primer atau discretionary, sehingga tingkat keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat serta serapan belanja iklan dari korporasi yang sangat peka terhadap siklus perkembangan ekonomi. 

Di kala roda ekonomi mengalami perlambatan, pos anggaran untuk promosi dan iklan umumnya menjadi sektor pertama yang akan dipangkas oleh pelaku usaha.

Meski demikian, entitas bisnis RANS dinilai mempunyai keunggulan tersendiri berupa diversifikasi portofolio usaha yang cukup variatif, mulai dari pengelolaan media digital, penyelenggaraan acara (event), manajemen artis, komersialisasi lisensi kekayaan intelektual (IP), hingga ekspansi ke lini bisnis gaya hidup serta produk konsumen.

“Diversifikasi tersebut dapat membantu meredam ketergantungan terhadap satu sumber pendapatan, meskipun tetap tidak sepenuhnya menghilangkan risiko siklus konsumsi,” pungkas Nafan.

Reporter: Ibtihal