Rugi Bersih WSBP Membengkak Jadi Rp285,59 Miliar di Semester I 2026
JAKARTA – Perusahaan produsen beton pracetak, PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) mencatatkan peningkatan rugi bersih pada semester I/2026 yang dipicu oleh pembengkakan beban pokok pendapatan sehingga menekan profitabilitas perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan per akhir Juni 2026, yang diperoleh Selasa (14/7/2026), entitas anak dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) ini menderita rugi bersih periode berjalan senilai Rp285,59 miliar.
Capaian negatif tersebut terhitung membengkak bila dibandingkan dengan rugi bersih pada semester I/2025 yang tercatat sebesar Rp236,88 miliar.
Padahal, jika ditinjau dari aspek top line, WSBP sebenarnya berhasil mengantongi pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 10,29% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp808,06 miliar pada paruh pertama 2026.
Sementara pada periode yang sama tahun lalu, realisasinya berada di angka Rp732,65 miliar.
Walaupun pendapatan mengalami kenaikan, performa tersebut tetap terbebani oleh pos beban pokok pendapatan yang membengkak lebih tinggi, yakni melonjak hingga 19,44% YoY menjadi Rp717,99 code miliar.
Sebagai perbandingan, beban pokok per Juni 2025 berada pada angka Rp601,14 miliar.
Konsekuensinya, laba kotor WSBP merosot 31,51% yoy menjadi Rp90,07 miliar, dari posisi sebelumnya yang mencapai Rp131,50 miliar pada semester I/2025.
Kinerja keuangan pada kuartal berjalan ini kian tertekan menyusul beban keuangan yang merangkak naik ke angka Rp155,44 miliar, jika dibandingkan dengan posisi tahun lalu yang sebesar Rp142,81 miliar.
Di sisi lain, koreksi pada kinerja laba rugi ini ikut berdampak terhadap kondisi neraca keuangan atau balance sheet perusahaan yang memperlihatkan adanya pengetatan likuiditas.
Total aset Waskita Beton per Juni 2026 terpantau menyusut menjadi Rp2,91 triliun dari posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp3,05 triliun.
Penurunan nilai aset ini berbanding lurus dengan jumlah kas dan setara kas pada akhir periode yang menipis menjadi Rp37,71 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp49,67 miliar.
Sementara itu, total liabilitas perusahaan merangkak naik menjadi Rp5,15 triliun pada pertengahan tahun ini, dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu yang sebesar Rp5,02 triliun.
Lantaran pos utang nilainya lebih besar ketimbang aset, nilai defisiensi ekuitas WSBP menjadi semakin melebar ke angka minus Rp2,24 triliun per Juni 2026. Angka saldo negatif modal ini terpantau membengkak dari posisi tahun 2025 yang minus Rp1,96 triliun.
Pada tahun ini, perseroan merencanakan bidikan nilai kontrak baru di kisaran Rp2,6 triliun. Setidaknya terdapat empat langkah strategi yang bakal diimplementasikan guna mencapai target tersebut.
Anak Agung Gede Sumadi, Direktur Utama Waskita Beton, menyampaikan bahwa prospek bisnis perseroan ke depan akan berfokus pada bisnis inti sebagai produsen beton pracetak. Lini bisnis tersebut menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi perseroan.
“Pada 2026, WSBP menargetkan Nilai Kontrak Baru [NKB] kurang lebih Rp2,6 triliun dari sektor beton pracetak, beton readymix, jasa konstruksi, dan sewa alat,” paparnya dalam laporan hasil public expose pada akhir tahun lalu sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Untuk mengakselerasi performa eksekusi tersebut, manajemen WSBP merumuskan empat langkah taktis. Pertama, perusahaan akan memperlebar penetrasi ke proyek-proyek pemerintah maupun swasta di sektor eksternal yang saat ini mendominasi porsi kontrak hingga 65%.
Kedua, demi menjaga pasar internal, WSBP membidik penyerapan seluruh proyek dari sang induk usaha Waskita Karya dengan porsi alokasi sekitar 35%.
Langkah ketiga berfokus terhadap pemangkasan beban operasional. WSBP berencana merampingkan struktur organisasi supaya dapat bergerak lebih lincah serta kompetitif. Skema tersebut akan dioperasikan selaras dengan peningkatan kualitas produk.
Terakhir, langkah keempat bertumpu pada penguatan mitigasi risiko melalui penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Kebijakan ini bakal dijalankan dengan memperketat kepatuhan regulasi sekaligus standarisasi terhadap prosedur operasional.