Timur Tengah Memanas, IHSG Mampu Bangkit ke Level 5.885

Ilustrasi Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: CNBC Indonesia)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 09 Juli 2026 | 15:37:17 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu berbalik menguat pada sesi pertama perdagangan Kamis (9/7/2026) saat konflik di Timur Tengah kembali memanas. 

Kenaikan pasar saham dalam negeri didorong oleh keyakinan terhadap prospek ekonomi Indonesia yang dianggap tetap kokoh di tengah situasi global yang tidak menentu. Berdasarkan data perdagangan, IHSG menguat 12 poin atau 0,21% menuju posisi 5.885 pada penutupan sesi I.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas berpandangan, penguatan IHSG berlangsung saat bursa saham Asia bergerak bervariasi akibat eskalasi geopolitik pasca militer Amerika Serikat (AS) memastikan adanya gempuran ke Iran selama dua hari berturut-turut. 

Di pihak lain, Iran memberikan ancaman bakal mengeksekusi aksi balasan skala besar ke basis militer AS di wilayah Timur Tengah. Perseteruan ini membuat harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik dan menimbulkan kecemasan pasar atas potensi terjadinya lonjakan inflasi.

"Permusuhan terbaru di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi, memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga global dapat bertahan di level tinggi lebih lama," tulis Pilarmas dalam risetnya, Kamis (9/7/2026).

Pilarmas mengimbuhkan, notulen rapat Federal Reserve (The Fed) edisi Juni memperlihatkan cuma sebagian kecil pejabat yang menyetujui pengetatan suku bunga lanjutan. 

Walau begitu, otoritas moneter AS tersebut tetap mengawasi risiko inflasi yang merangkum naik. Pelaku pasar saat ini masih memproyeksikan minimal ada satu kali kenaikan suku bunga acuan dari The Fed sebelum penutupan tahun 2026. 

Para pemodal pun sedang menunggu rilis data klaim pengangguran mingguan serta penjualan hunian di AS yang bakal menjadi indikator baru terkait arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam.

Proyeksi Ekonomi RI Dari domestik, Pilarmas menyebutkan, angin segar bertiup dari estimasi Asian Development Bank (ADB) yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal bertahan stabil pada angka 5,2% di tahun 2026 dan 2027. 

Menurut Pilarmas, estimasi tersebut memperlihatkan ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap prima di tengah kelesuan ekonomi dunia dan tensi geopolitik yang tidak menentu.

"Proyeksi ADB memberikan gambaran bahwa ekonomi Indonesia masih mampu mencatatkan pertumbuhan yang stabil di tengah kondisi global yang penuh tantangan," tulis Pilarmas.

Dalam perdagangan sesi pertama, deretan saham yang membukukan penguatan tertinggi (top gainers) meliputi PRDL, JELI, JAST, MMIX, dan COCO. 

Sedangkan saham-saham yang terkoreksi paling dalam (top losers) ditempati oleh JECX, BAPA, SQMI, PBSA, dan EMMI.

Pilarmas menyarankan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan rekomendasi beli, lewat batasan support pada 470 serta resistance pada 595.

Reporter: Ibtihal