Sentimen S&P DJI Tekan IHSG, Saham SMGR, BRPT, dan CUAN Melemah
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan lebih dari 1 persen pada perdagangan sesi pertama hari Rabu (8/7/2026). Tekanan pada pasar saham domestik dipicu oleh sentimen negatif setelah S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantau untuk kemungkinan penurunan status dari emerging market menjadi frontier market.
Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG terkoreksi 1,11 persen atau 66,35 poin ke level 5.920,15. Sebanyak 447 saham melemah, sementara 197 saham menguat dan 142 saham lainnya stagnan dengan volume perdagangan mencapai 12,2 miliar saham.
Mayoritas indeks sektoral bergerak di zona merah, dengan tiga sektor yang mencatatkan pelemahan terdalam adalah IDX Basic, IDX Property, dan IDX Cyclicals. Di jajaran saham LQ45, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) turun 3,62 persen, diikuti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melemah 3,16 persen, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang turun 3,15 persen.
Di sisi lain, saham LQ45 yang mencatat penguatan dipimpin oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Sentimen negatif ini bersumber dari pernyataan S&P DJI yang memasukkan Indonesia dan Turki ke dalam daftar pantau evaluasi klasifikasi pasar tahun 2027.
S&P DJI mengaitkan risiko penurunan status Indonesia dengan isu transparansi pasar, yang sejalan dengan perhatian yang sebelumnya disampaikan oleh MSCI. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti hal tersebut melalui komunikasi yang intensif.
"Kami akan berdiskusi secara konstruktif dengan S&P Dow Jones Indices untuk memahami isu-isu yang menjadi perhatian dalam proses evaluasi. Bersama OJK dan seluruh pemangku kepentingan, BEI akan terus melakukan berbagai upaya untuk menjawab berbagai perhatian yang ada," ujar Jeffrey sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Sebelumnya, MSCI menilai bahwa reformasi Indonesia merupakan langkah yang tepat, namun implementasi konsisten dan dampak jangka panjangnya masih perlu pembuktian. Spesialis ASEAN dari Aletheia Capital, Angus Mackintosh, berpendapat bahwa evaluasi MSCI pada November mendatang tetap menjadi faktor yang krusial.
"BEI dan OJK perlu menyelesaikan berbagai isu yang masih menjadi perhatian agar persoalan ini benar-benar tuntas. Penegakan hukum terhadap pelaku manipulasi saham juga akan menjadi langkah yang positif," ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Selain isu klasifikasi, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh penurunan outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif oleh Moody's dan Fitch. Kekhawatiran investor terhadap rencana belanja besar pemerintah turut menekan prospek investasi, di mana investor asing telah mencatatkan aksi jual bersih lebih dari US$4 miliar sepanjang tahun berjalan.