Pacu Hilirisasi, Kementan Perkuat Daya Saing Perkebunan Nasional

Ilustrasi Buah Kopi. (Foto: Dok. Shutterstock)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 08 Juli 2026 | 14:35:14 WIB

JAKARTA - Pemerintah terus berupaya memulihkan daya saing sektor perkebunan nasional lewat peningkatan mutu produksi, pembenahan tata kelola rantai pasok, serta penguatan hilirisasi. 

Langkah ini diambil supaya Indonesia tidak sekadar menjadi penyedia bahan mentah, melainkan sanggup memegang peran yang lebih dominan dalam perdagangan internasional. 

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Ali Jamil memaparkan bahwa penguatan daya saing pada tiap komoditas perkebunan andalan, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, hingga tembakau, merupakan kunci utama dalam mendongkrak ekspor sekaligus memperbesar nilai tambah domestik. 

Pemerintah pun mematangkan beragam sokongan, mulai dari perbaikan kualitas produk, pelatihan ekspor, penyediaan data pasar, sampai menjembatani para pelaku usaha dengan calon mitra di pasar global.

"Kami harus mulai menjadi pelaku utama dalam rantai perdagangan global. Pemerintah siap memberikan pendampingan, mulai dari peningkatan kualitas produk, pelatihan ekspor, market intelligence, hingga membantu mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli di luar negeri," ujar Ali dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Kondisi Sosial Ekonomi Perkebunan dan Hilirisasi Perkebunan Rakyat.

Ali membenarkan bahwa kekuatan kompetitif komoditas perkebunan Indonesia masih membentur sejumlah kendala, salah satunya berupa penolakan ekspor karena masalah penanganan pascapanen serta kontaminasi zat tertentu. 

Oleh sebab itu, pemerintah memacu pembenahan sistem pergudangan, pengemasan, pengiriman, dan tata kelola rantai pasok secara terpadu demi memastikan mutu produk sanggup memenuhi kriteria pasar dunia.

Di sisi lain, para pelaku usaha dan petani berpendapat bahwa langkah tersebut wajib dibarengi dengan kebijakan yang ajek dalam merawat keberlangsungan komoditas perkebunan andalan. 

Di samping penguatan produktivitas, para petani memerlukan keterbukaan akses yang lebih luas terhadap info pasar, pergerakan harga, terobosan teknologi, serta metode budidaya yang lebih hemat agar mempunyai daya tawar yang lebih kokoh.

Sementara itu, percepatan hilirisasi dianggap sebagai instrumen krusial guna melipatgandakan nilai tambah ekspor. 

Indonesia memegang keunggulan pada beragam komoditas perkebunan, contohnya kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, cengkih, sampai tembakau, yang berpeluang menelurkan produk turunan bernilai tinggi ketimbang sekadar mengapalkan bahan mentah.

Secara khusus pada sektor pertembakauan, para petani berharap garis kebijakan pemerintah bisa tetap memelihara keseimbangan antara proteksi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan usaha tani. 

Tembakau dipandang mempunyai nilai ekonomi yang besar lantaran menjadi tumpuan hidup masyarakat di berbagai wilayah pusat produksi, sekaligus menyokong industri pengolahan domestik yang mayoritas memanfaatkan bahan baku lokal.

Sumbangsih sektor ini bagi devisa negara pun masih memperlihatkan tren yang baik. Angka ekspor produk hasil tembakau pada 2024 menembus US$1,7 miliar atau melonjak 21,7% bila disandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Realisasi tersebut membuktikan bahwa industri hasil tembakau tetap memiliki masa depan cerah sebagai penyumbang ekspor nasional, asalkan ditopang oleh regulasi yang mendukung, penguatan daya saing, serta keikutsertaan petani dalam perumusan kebijakan.

Reporter: Ibtihal