Laba Bersih Meroket, Saham MBMA Ditargetkan Naik 57 Persen

ILUSTRASI, Saham MBMA naik signifikan usai membukukan laba bersih US$82 juta kuartal I-2026. (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 03 Juli 2026 | 15:46:26 WIB

JAKARTA – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatatkan capaian gemilang selama kuartal I-2026. Perusahaan berhasil mengubah kerugian bersih senilai US$3,5 juta menjadi laba bersih sebesar US$82 juta. Kinerja finansial yang positif ini diproyeksikan menjadi katalis utama yang mampu mendongkrak harga saham MBMA ke level yang lebih tinggi.

Mengacu pada data Phintraco Sekuritas, pendapatan produsen nikel ini meningkat 24 persen hingga mencapai US$455 juta. Kenaikan tersebut didorong oleh kontribusi yang lebih besar dari unit bisnis NPI serta bijih nikel. 

Pertumbuhan ini didukung oleh tingginya ekspor ke China yang berkontribusi sebesar 31 persen terhadap total pendapatan, serta kenaikan harga rata-rata penjualan (ASP) menyusul menguatnya harga nikel di awal tahun 2026.

Dari sisi operasional, sebagaimana dilansir dari berita sumber, Phintraco mencatat bahwa hasil produksi bijih nikel saprolit mencapai 2,3 juta ton atau meningkat 72 persen, sementara volume penjualan naik 42 persen menjadi 1,9 juta ton. 

Pencapaian ini diraih berkat strategi MBMA yang fokus meningkatkan pasokan bijih nikel dari tambang SCM untuk kebutuhan smelter, sekaligus mengurangi ketergantungan pembelian saprolit dari pihak luar.

"Sementara itu, produksi dan penjualan bijih nikel limonit naik 195% menjadi 5,4 juta ton dan 126% YoY menjadi 4,8 juta juta ton," tulis Phintraco, dikutip Kamis (2/7/2026).

Akselerasi produksi limonit secara khusus ditujukan untuk mendukung operasional fasilitas HPAL PT ESG New Energy Material. Saat ini, proses produksi MHP yang merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik telah berjalan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Phintraco memaparkan bahwa progres pembangunan fasilitas HPAL terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. 

Manajemen menargetkan tahapan commissioning untuk pabrik SLNC dapat dilakukan pada semester kedua tahun 2026, yang kemudian akan diikuti dengan produksi perdana MHP pada periode yang sama.

Phintraco tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MBMA dengan estimasi harga wajar di angka Rp790, yang mencerminkan potensi kenaikan sebesar 57 persen. 

Kendati demikian, sejumlah faktor risiko perlu diwaspadai, di antaranya rencana pemberlakuan windfall tax, kenaikan harga mineral acuan (HMA), serta potensi penerapan skema tarif royalti baru di sektor nikel.

Reporter: Gemilang Ramadhan