Suku Bunga Naik dan Rupiah Melemah, IHSG Diprediksi Masih Tertekan

Ilustrasi: Kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah memengaruhi tekanan pada IHSG di semester II-2026. (Foto: NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 03 Juli 2026 | 15:07:47 WIB

JAKARTA – Setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam sekitar 35 persen dari puncaknya pada semester I-2026, pasar domestik diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat. Meski valuasi saham sudah sangat murah, tekanan kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian kebijakan pemerintah dinilai belum sepenuhnya mereda.

Dalam laporan outlook semester II-2026 berjudul The Best Offense is Defense, Samuel Sekuritas menyatakan strategi investasi defensif adalah pilihan paling rasional karena belum terlihat katalis kuat untuk memicu pemulihan. Tantangan terbesar saat ini bersumber dari perubahan sikap Bank Indonesia (BI) yang memasuki siklus kenaikan suku bunga.

Kenaikan suku bunga kali ini lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan. BI diperkirakan lebih mengutamakan stabilitas dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan tersebut dapat membantu menjaga daya tarik aset rupiah, namun berpotensi membatasi ruang pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan. Samuel membandingkan kondisi ini dengan siklus 2018, saat BI menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah dan meredam arus keluar modal asing.

IHSG cenderung bergerak mendatar selama periode kenaikan suku bunga, sementara investor asing tetap melakukan aksi jual. Samuel menilai, akar persoalan bukan pada kenaikan suku bunga itu sendiri, melainkan sinyal bahwa BI kini lebih mengutamakan stabilitas dibanding pertumbuhan ekonomi.

Strategi tersebut memang menopang rupiah, tetapi mengurangi daya tarik Indonesia sebagai pasar negara berkembang yang mengandalkan prospek pertumbuhan. Kondisi ini menjadi salah satu alasan investor asing terus mengurangi eksposur di pasar saham domestik.

Persepsi investor terhadap kebijakan pemerintah juga membebani pasar karena dinilai meningkatkan policy risk premium. Investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menempatkan dana di Indonesia karena adanya berbagai kebijakan yang dinilai berisiko.

Faktor yang disorot meliputi kekhawatiran disiplin fiskal, perubahan desain program pemerintah, sentralisasi modal, dan pembentukan Danantara. Kondisi tersebut menimbulkan ketidakpastian di kalangan investor.

Samuel menilai pelemahan rupiah bersifat struktural karena selisih pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat semakin menyempit. "Dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang secara struktural relatif rendah serta lingkungan suku bunga riil yang rendah, kami meyakini rupiah masih akan menghadapi tekanan depresiasi dalam jangka panjang," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Valuasi pasar saham Indonesia kini berada di level sangat rendah dengan rasio price to earnings (P/E) IHSG di kisaran 13,6 kali. Angka ini sekitar 27 persen lebih murah dibandingkan rata-rata pasar negara berkembang (MSCI Emerging Markets) dan 34 persen di bawah rata-rata historis 10 tahun.

Murahnya valuasi dinilai belum cukup menjadi alasan untuk agresif membeli saham. "Pasar saat ini diperdagangkan pada valuasi setara periode krisis. Meski demikian, kami belum melihat adanya katalis yang jelas untuk menopang harga saham yang terus melemah," sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Investor asing terus melakukan aksi jual, termasuk pada saham perbankan besar yang selama ini menjadi tulang punggung pasar modal. Mengenai isu MSCI, Samuel menilai dampak negatifnya sebagian besar telah tercermin dalam harga saham.

"Isu MSCI tampaknya sebagian besar telah diperhitungkan oleh pasar (priced in). Kami juga melihat probabilitas Indonesia diturunkan ke status Frontier Market relatif rendah," sebagaimana dilansir dari sumber berita. Fokus investor kini tertuju pada evaluasi MSCI berikutnya pada November mendatang.

Samuel merekomendasikan investor menerapkan strategi lebih defensif pada semester II-2026. Porsi saham diturunkan dari 20 persen menjadi 15 persen (underweight), sementara alokasi obligasi dan emas dinaikkan menjadi 40 persen dan 10 persen.

Samuel juga tetap mempertahankan alokasi kas sebesar 30 persen, terutama dalam bentuk deposito dolar AS, sebagai strategi menghadapi tingginya ketidakpastian pasar.

Reporter: Akbar