Bisnis Indonesia Awards 2026 Apresiasi 60 Perusahaan dan Satu CEO
JAKARTA – Bisnis Indonesia Group memberikan penghargaan kepada 60 perusahaan beserta satu pemimpin korporasi pada ajang Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026 sebagai bentuk apresiasi atas kinerja emiten dan korporasi yang dinilai unggul sepanjang tahun 2025.
Pada ajang yang rutin diselenggarakan sejak tahun 2002 ini, apresiasi diberikan kepada 52 emiten dari sektor keuangan dan nonkeuangan, delapan perusahaan peraih special awards, serta satu penerima penghargaan Best CEO.
Sebanyak 13 emiten peraih penghargaan tersebut berasal dari sektor jasa keuangan yang meliputi industri perbankan, asuransi, pembiayaan, investasi, dan sekuritas. Sementara itu, 39 emiten lainnya berasal dari berbagai lini sektor nonkeuangan.
Malam penganugerahan Bisnis Indonesia Awards 2026 dijadwalkan berlangsung hari ini, Kamis (2/7/2026), bertempat di Hotel Raffles Jakarta. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi direncanakan hadir untuk menyampaikan keynote speech pada gelaran tersebut.
Dengan mengusung tema 'Where Growth Meets Strength', BIA 2026 menitikberatkan proses penilaian pada kapabilitas perusahaan dalam mengukir pertumbuhan secara konsisten, sembari tetap menjaga kekuatan fundamental bisnis serta kualitas layanan yang berkelanjutan.
Proses penilaian telah dimulai sejak awal Juni 2026 melalui tahap pengumpulan data oleh tim riset Data Indonesia, yang merupakan unit riset Bisnis Indonesia Group, mengacu pada laporan keuangan periode tahun 2023–2025. Penilaian tersebut kemudian dilanjutkan ke tahap penjurian yang melibatkan dewan juri independen.
Dewan juri tersebut terdiri atas Senior Economist Creco Research Raden Pardede selaku Ketua Dewan Juri, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Eduardus Tandelilin, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih, serta Presiden Direktur Bisnis Indonesia Group Arif Budisusilo.
Ketua Dewan Juri BIA 2026, Raden Pardede, memaparkan bahwa penilaian pada tahun ini menitikberatkan bobot paling besar pada performa perusahaan sepanjang tahun 2025. Performa pada tahun 2023 dan 2024 tetap diperhitungkan, namun porsinya lebih kecil dan hanya digunakan sebagai pembanding.
Menurut penjelasannya, dewan juri menerapkan sejumlah indikator utama dalam penilaian, antara lain kekuatan finansial, pertumbuhan bisnis, kinerja di pasar modal bagi perusahaan terbuka, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik.
Di samping itu, tingkat profitabilitas juga menjadi parameter utama dalam proses penyaringan awal. Oleh sebab itu, hanya korporasi yang berhasil membukukan laba saja yang dapat lolos ke dalam daftar kandidat penerima penghargaan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber: "Kami melihat pembukuan tahun 2025 menjadi penekanan utama. Tahun 2023 dan 2024 tetap kami pertimbangkan, tetapi bobotnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2025," kata Raden.
Raden mengimbuhkan bahwa proses penilaian juri tidak semata-mata bertumpu pada indikator kuantitatif saja. Dewan juri turut melangsungkan penilaian secara kualitatif guna menangkap gambaran yang komprehensif mengenai kualitas serta keberlanjutan performa dari masing-masing perusahaan.