Harga Sembako Jatim Hari Ini: Cabai Turun dan Minyak Goreng Naik

Ilustrasi Cabai. (Foto: ANTARA)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 02 Juli 2026 | 15:38:13 WIB

SURABAYA - Nilai jual komoditas pangan di daerah Jawa Timur (Jatim) terlihat selalu memperlihatkan pergeseran yang aktif setiap harinya.

Pada sesi perdagangan hari ini, produk bawang merah, daging ayam ras, daging ayam kampung, serta cabai besar mengalami penurunan. Sebaliknya, komoditas minyak goreng, daging sapi, dan cabai keriting dikabarkan bergerak menanjak.

Mengikuti perkembangan pergerakan harga komoditas harian menjadi hal yang tidak boleh dilewatkan. Selain memudahkan masyarakat dalam menghitung pengeluaran harian, pembaruan informasi ini juga penting demi mengawal ketahanan anggaran keluarga agar tidak membengkak tajam di tengah keadaan harga pasar yang naik-turun.

Sembako merupakan singkatan dari sembilan bahan pokok. Komoditas ini merupakan fondasi utama yang selalu dibeli oleh masyarakat setiap hari untuk memenuhi kebutuhan gizi serta kebutuhan dapur rumah tangga lainnya.

Sembilan unsur kebutuhan dasar masyarakat tersebut meliputi komoditas beras, gula pasir, minyak goreng beserta mentega, daging sapi serta daging ayam, telur ayam, produk susu, bawang merah sekaligus bawang putih, gas elpiji dan minyak tanah, hingga garam dapur.

Di luar sembilan unsur utama tersebut, naik-turunnya harga kebutuhan dapur lainnya yang mempunyai peran tidak kalah penting adalah cabai.

Berdasarkan kompilasi data dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) di Jawa Timur, berikut adalah detail daftar harga komoditas pangan paling terbaru di wilayah Jawa Timur per Kamis 2 Juli 2026 pada pukul 09.50 WIB:

  • Beras Premium: Rp 14.956/kg
  • Beras Medium: Rp 12.955/kg
  • Gula Kristal Putih: Rp 17.205/kg
  • Minyak Goreng Curah: Rp 20.546/kg
  • Minyak Goreng Kemasan Premium: Rp 21.830/liter
  • Minyak Goreng Kemasan Sederhana: Rp 18.817/liter
  • Minyak Goreng MINYAKITA: Rp 16.187/liter
  • Daging Sapi Paha Belakang: Rp 125.496/kg
  • Daging Ayam Ras: Rp 30.684/kg
  • Daging Ayam Kampung: Rp 69.310/ekor
  • Telur Ayam Ras: Rp 22.921/kg
  • Telur Ayam Kampung: Rp 46.407/kg
  • Susu Kental Manis (Bendera): Rp 12.448 (370 gr/kl)
  • Susu Kental Manis (Indomilk): Rp 12.384 (370 gr/kl)
  • Susu Bubuk (Bendera): Rp 41.678 (400 gr/dos)
  • Susu Bubuk (Indomilk): Rp 41.015 (400 gr/dos)
  • Garam Bata: Rp 1.831/buah
  • Garam Halus: Rp 9.320/kg
  • Cabai Merah Keriting: Rp 31.252/kg
  • Cabai Merah Besar: Rp 30.367/kg
  • Cabai Rawit Merah: Rp 40.114/kg
  • Bawang Merah: Rp 37.074/kg
  • Bawang Putih (Sinco/Honan): Rp 35.201/kg
  • Gas Elpiji 3 Kg: Rp 19.850

Melihat pada catatan harga rata-rata bahan makanan di wilayah Jawa Timur hari ini, komoditas bawang merah menyusut turun sebesar Rp 470 atau melemah 1,25 persen, daging ayam ras berkurang Rp 319 atau turun 1,03 persen, daging ayam kampung terpotong Rp 807 atau melemah 1,15 persen, serta komoditas cabai besar menyusut Rp 286 atau merosot 0,93 persen.

Di sisi lain, untuk minyak goreng curah terpantau menanjak Rp 154 atau menguat 0,76 persen, minyak goreng kemasan sederhana naik Rp 154 atau terkerek 0,83 persen, komoditas daging sapi bertambah Rp 104 atau naik tipis 0,08 persen, serta cabai keriting naik Rp 103 atau menguat 0,33 persen.

Aspek Perubahan Harga Sembako

Pergeseran kurva harga jual sembako pada dasarnya dipicu oleh bermacam faktor luar maupun dalam. Mulai dari perhitungan biaya produksi, kebijakan yang ditetapkan pihak pemerintah, fluktuasi nilai tukar mata uang, hingga efek cuaca. Di bawah ini merupakan beberapa poin yang mendorong naik dan turunnya harga kebutuhan pokok di pasar:

  • Ketika volume permintaan pasar merangkak naik akan tetapi ketersediaan barang stagnan atau justru berkurang, maka harga cenderung bergerak naik. Sebaliknya, apabila pasokan melimpah melampaui tingkat permintaan, maka level harga berpotensi turun.
  • Kondisi cuaca ekstrem, bencana alam, ataupun dinamika pergantian musim dapat mengganggu produktivitas bidang pertanian. Sedikitnya ketersediaan barang akibat kendala faktor alam ini mendorong terjadinya kenaikan harga.
  • Komponen kebijakan impor, alokasi subsidi, penerapan pajak, maupun regulasi tata niaga lain yang dikeluarkan oleh pemerintah ikut memengaruhi stabilitas harga pangan, seperti halnya pembatasan kuota impor atau penyesuaian tarif pajak.
  • Meningkatnya nilai beli bahan baku, sektor pupuk, pasokan bahan bakar, hingga upah minimum pekerja berpotensi menaikkan beban produksi serta biaya logistik, yang pada akhirnya memengaruhi harga jual akhir komoditas.
  • Dinamika fluktuasi nilai tukar rupiah, utamanya pada jenis barang yang didatangkan lewat jalur impor, sangat memengaruhi harga pasar. Melemahnya mata uang lokal otomatis membuat barang impor menjadi lebih mahal.
  • Laju inflasi yang tinggi berpotensi memicu kenaikan harga sembako karena meluasnya peningkatan biaya barang dan jasa secara umum.
  • Anomali atau keadaan makroekonomi yang tidak menentu dapat memperkeruh kondisi pasar terdekat.
  • Hambatan pada jalur rantai distribusi seperti kendala lalu lintas logistik, aksi mogok massal, atau persoalan logistik lainnya berisiko mengganggu ritme pengiriman, memotong kuantitas pasokan, dan memicu kenaikan harga di pasar eceran.

Berbagai rentetan faktor di atas membuat grafik harga kebutuhan pokok kerap berubah-ubah secara dinamis, sehingga memerlukan langkah pemantauan berkala beserta perumusan taktik yang tepat guna menjaga stabilitas pasar. 

Nilai jual sembako ini juga memiliki selisih perbedaan di setiap pasar tradisional, di mana daftar angka di atas merupakan gambaran nominal rata-rata untuk wilayah Jawa Timur.

Reporter: Ibtihal