Strategi MMIX Hadapi Pasar Lesu dengan Produk Ukuran Kecil

ILUSTRASI, mengamati pergerakan harga saham di galeri BEI (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 02 Juli 2026 | 13:35:32 WIB

JAKARTA – Melemahnya daya beli masyarakat mendorong emiten ritel dan konsumsi, PT Multi Medika Internasional Tbk. (MMIX), untuk menyiasati strategi bisnis mereka. Produsen popok Miubaby dan tisu Miutiss ini sekarang memfokuskan diri pada penyediaan produk berukuran lebih kecil dengan harga yang lebih ekonomis untuk merespons pergeseran kebiasaan belanja konsumen.

Berdasarkan data paling baru dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan (month to month/MtM) pada Juni 2026 berada di angka 0,44%, mencatatkan kenaikan dibandingkan inflasi Mei 2026 yang sebesar 0,28%.

Di sisi lain, tingkat inflasi tahunan Indonesia tercatat di angka 3,34% (year-on-year/YoY) dan inflasi tahun kalender berada pada posisi 1,79% (year-to-date/YtD). Indeks Harga Konsumen juga mengalami peningkatan menjadi 111,89 pada Juni 2026 dari yang sebelumnya sebesar 111,40 pada Mei 2026.

Founder & CEO MMIX, Mengky Mangarek, menerangkan bahwa situasi ekonomi yang tertekan, naiknya harga bahan baku, serta pelemahan kurs rupiah membuat masyarakat kini jauh lebih selektif dalam berbelanja.

Konsumen yang biasanya berbelanja kebutuhan untuk alokasi bulanan kini beralih menjadi mingguan atau bahkan harian agar pengeluaran dapat dikendalikan dengan lebih ketat.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Perubahan pola konsumsi itu menjadi perhatian kami. Karena itu kami melakukan penyesuaian ukuran kemasan atau repackaging sehingga harga produk menjadi lebih terjangkau," ujarnya pada Rabu (1/7/2026).

Mengky menjabarkan bahwa strategi ini diterapkan pada sejumlah produk andalan mereka, meliputi tisu basah, tisu, air minum, hingga popok bayi. Produk-produk yang awalnya dijual dalam ukuran besar kini dikemas dalam ukuran yang lebih kecil agar tetap selaras dengan kapasitas finansial konsumen.

Selain menyajikan kemasan ekonomis, MMIX juga memperkuat portofolio produk yang tergolong dalam kebutuhan harian (essential goods). 

Pihak manajemen meyakini bahwa produk esensial seperti air minum, pembalut wanita, tisu basah, tisu, serta popok bayi memiliki permintaan yang cenderung lebih stabil dibandingkan produk non-esensial saat daya beli sedang tertekan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Yang kami cari adalah produk yang rutin, berulang, dan menjadi kebutuhan sehari-hari. Itu strategi kami agar bisnis tetap tahan banting dalam berbagai kondisi ekonomi," ucap Mengky.

Emiten yang memproduksi masker, tisu bambu, dan popok bayi dengan merek MIU ini tetap optimis untuk meraih target pertumbuhan pendapatan sekitar 25,3% pada tahun 2026, dengan target penjualan menembus Rp388 miliar. Target ini disokong oleh langkah peningkatan kapasitas produksi popok bayi, perilisan varian produk baru, serta perluasan lini distribusi.

Meski begitu, MMIX menegaskan bahwa agenda ekspansi akan dijalankan secara hati-hati. Perseroan mengalokasikan ruang untuk menaikkan belanja modal berkisar 20%, namun realisasinya akan disesuaikan kembali dengan dinamika ekonomi serta daya beli masyarakat.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Ekspansi akan kami lakukan secara prudent, dimulai dari riset pasar, melihat perilaku konsumen, serta daya beli masyarakat," tuturnya.

Saat ini, perseroan tengah menyelesaikan proyek pembangunan pabrik popok bayi modern di Legok KM 5, yang sudah berjalan sejak tahun lalu melalui anak usahanya.

Rencana total investasi untuk fasilitas produksi ini diperkirakan mencapai US$4 juta, dengan realisasi investasi saat ini berada di kisaran US$600.000 atau setara dengan 15%. Kehadiran pabrik ini diproyeksikan mampu mempercepat lokalisasi produksi guna meminimalkan ketergantungan pada bahan baku impor, sehingga margin laba perseroan dapat terlindungi di tengah gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Perseroan menargetkan penurunan persentase produk impor secara bertahap, yakni menjadi 80% pada tahun pertama, 60% pada tahun kedua, hingga mencapai di bawah 30% pada tahun ketiga setelah operasional pabrik popok domestik berjalan optimal.

Ke depannya, MMIX juga memperlebar sayap jaringan distribusi melalui kemitraan strategis dengan PT Sari Ayu Indonesia (SAI). Lewat kolaborasi ini, MMIX membidik jangkauan hingga 300.000 toko baru yang meliputi jaringan toko health and beauty, toko kosmetik, hingga pasar tradisional.

Direktur Keuangan MMIX, Eveline N Susanto, memaparkan bahwa pada Kuartal I/2026, perseroan sukses membukukan pendapatan sebesar Rp50,1 giga atau tumbuh 2,6% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp48,8 miIiar. 

Selaras dengan pertumbuhan pendapatan tersebut, laba bersih perseroan terkerek naik secara signifikan menjadi Rp1,5 miliar, atau melesat sebesar 20,6% dari kuartal I/2025.

Di pihak lain, lembaga pemeringkat global Fitch Ratings dalam kajian terbarunya menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan di sektor konsumsi di Indonesia akan menghadapi tantangan yang cukup berat akibat penurunan kondisi makroekonomi dan ketidakpastian regulasi. 

Tekanan tersebut dipicu oleh depresiasi nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga, serta penyesuaian harga BBM non-subsidi. Kombinasi dari ketiga faktor ini diperkirakan bakal memicu inflasi yang lebih tinggi sehingga mengikis daya beli rumah tangga.

Penurunan daya beli ini berisiko menekan tingkat konsumsi masyarakat, terutama pada produk atau jasa yang bersifat non-esensial (diskresioner). 

Sektor yang dinilai paling rentan terhadap dinamika ini adalah industri yang pergerakannya sangat bergantung pada belanja konsumen serta fasilitas pembiayaan kredit, seperti halnya sektor properti dan otomotif.

Reporter: Gemilang Ramadhan