SWF INA Sukses Kelola Aset Rp126 Triliun dan Genjot Realisasi Investasi
JAKARTA – Lembaga pengelola kekayaan negara atau Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia, Indonesia Investment Authority (INA), yang didirikan sejak tahun 2020, berhasil mencatat total aset kelolaan (assets under management/AUM) hingga menyentuh angka Rp126 triliun pada tahun kelima masa beroperasinya. Dari keseluruhan dana tersebut, investasi yang sudah berhasil direalisasikan dan disalurkan telah menyentuh Rp74,5 triliun.
Chief Executive Officer (CEO) INA, Oki Ramadhana, mengungkapkan bahwa sepanjang lima tahun ke belakang, orientasi lembaga ini tidak sekadar bertumpu pada penguatan internal organisasi, melainkan juga pada peningkatan kapasitas investasi sekaligus pemberian nilai tambah konkret bagi perkembangan ekonomi domestik.
Ia menambahkan, orientasi taktik investasi INA saat ini tidak lagi sekadar menaruh modal secara konvensional, melainkan telah dialihkan guna mendongkrak kualitas pertumbuhan ekonomi lewat langkah diversifikasi pada sektor investasi dan kelas aset.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Sebagai investor, kami tidak bisa hanya berinvestasi pada satu kelas aset atau satu sektor. Portofolio harus terdiversifikasi agar mampu menciptakan nilai sekaligus menghasilkan imbal hasil yang optimal," ujar Oki, Rabu (1/7/2026).
Oki memaparkan bahwa saat ini nilai total aset yang berada di bawah pengelolaan INA sudah berkisar di angka Rp126 triliun.
Angka tersebut tercipta dari modal awal yang dikucurkan oleh pemerintah, yang kemudian terus bertumbuh lewat serangkaian investasi serta jalinan kolaborasi bersama jajaran mitra global. Di sisi lain, akumulasi penempatan investasi yang telah terealisasi kini berada di kisaran Rp74,5 triliun.
Selaras dengan dinamika pertumbuhan tersebut, INA pun menginisiasi perluasan taktik investasi ke beraneka ragam kelas aset baru, di antaranya mencakup hybrid capital, private equity, serta berbagai alternatif solusi pembiayaan lainnya demi memelihara stabilitas risiko dan imbal hasil dari investasi dalam jangka panjang.
Jika ditinjau dari aspek sektoral, INA tetap meletakkan prioritas investasinya pada bidang-bidang strategis seperti logistik, transportasi, infrastruktur, energi hijau, serta sektor kesehatan.
Menapaki tahun 2025, ruang lingkup investasi dikembangkan lebih masif menuju sektor manufaktur dan advanced materials guna menyokong program industrialisasi serta hilirisasi berskala nasional.
Oki memandang bahwa implementasi strategi ini sengaja dirancang agar seluruh investasi yang ditanamkan oleh INA tidak semata-mata mengejar keuntungan komersial, tetapi juga mampu menggerakkan roda pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang sekaligus menopang proses transformasi struktur ekonomi di Indonesia.