Harga Solar Turun Tapi RON 92 & 95 Tetap, Ini Alasan Pertamina

Ilustrasi SPBU Pertamina. (Dok. Pertamina)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 02 Juli 2026 | 13:35:32 WIB

JAKARTA - PT Pertamina bersama perusahaan ritel swasta seperti BP-AKR dan Shell secara serentak menurunkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis diesel terhitung sejak 1 Juli 2026. 

Meski begitu, penurunan harga ini terpantau belum berlaku untuk varian bensin dengan Research Octane Number (RON) 92 dan RON 95.

Pertamina terlihat memotong tarif empat jenis produk BBM-nya, meliputi: Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, dan Avtur. Berikut adalah rincian harganya:

  • Pertamax Turbo: turun dari harga Rp 20.750 per liter menjadi Rp 19.300 per liter. Menyusut sebesar Rp 1.450 per liter atau sekitar 7%.
  • Pertamina Dex: merosot dari angka Rp 24.800 per liter ke posisi Rp 21.150 per liter. Terpangkas sebesar Rp 3.650 per liter atau sekitar 15%.
  • Dexlite: berkurang dari posisi Rp 23.000 per liter menjadi Rp 19.700 per liter. Terkoreksi sebesar Rp 3.300 per liter atau sekitar 14%.

Avtur Penerbangan Domestik (belum termasuk PPN) di Bandara Soekarno Hatta: menyusut dari tarif Rp 22.190 per liter (Juni) ke posisi Rp 19.190 per liter (Juli). Penurunan mencapai Rp 3.000 per liter atau sekitar 14%.

Pada jaringan Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) swasta, harga BP Ultimate Diesel mencatatkan penurunan Rp 3.720 per liter, dari yang sebelumnya Rp 25.060 kini dilepas seharga Rp 21.340 per liter. 

Di sisi lain, harga Shell V-Power Diesel terkoreksi Rp 3.150 per liter dari nominal Rp 24.490 sekarang dipatok pada angka Rp 21.340 per liter.

Langkah penurunan harga ini didapati belum menyasar komoditas BBM non-subsidi jenis RON 92 dan RON 95. Pertamina terpantau masih mempertahankan banderol Pertamax pada posisi Rp 16.250 per liter. 

Situasi yang sama berlaku pada produk Pertamax Green yang harganya ajek di angka Rp 17.000 per liter.

Untuk sektor SPBU swasta, tarif jual BP 92 dan BP Ultimate dilaporkan belum menunjukkan perubahan. Produk BP 92 masih dibanderol senilai Rp 16.670 per liter, dan angka Rp 17.240 per liter untuk tipe BP Ultimate. 

Sebagai catatan, BBM varian RON 92 dan RON 95 tersebut baru saja mengalami kenaikan harga pada tanggal 10 Juni 2026.

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menerangkan bahwa kebijakan penyesuaian tarif ini menjadi bagian dari agenda tinjauan periodik yang berjalan selaras dengan formula baku. 

Langkah kebijakan ini berpatokan pada fluktuasi harga pasar minyak mentah dunia, perhitungan faktor fiskal, serta tingkat daya beli sekaligus situasi makro ekonomi masyarakat.

Pergeseran tarif BBM non-subsidi menyesuaikan diri terhadap pergerakan pasar minyak mentah global serta mengikuti ketentuan atau formula resmi yang berlaku. 

Kitty juga menegaskan bahwa langkah penyesuaian harga jual BBM non-subsidi ini telah dikoordinasikan bersama pihak eksekutif. 

Berlandaskan hasil evaluasi itu, Pertamina memangkas harga jual Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, serta Avtur. 

Sementara untuk banderol Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina masih memantau perkembangan kondisi serta hasil evaluasi yang bergulir secara berkala.

"Terkait penyesuaian harga Pertamax and Pertamax Green, kami akan mengikuti perkembangan selanjutnya serta melakukan evaluasi secara berkala bersama dengan pihak terkait dan Pemerintah," kata Kitty, Rabu (1/7/2026).

Di pihak lain, Manajemen BP-AKR menerangkan bahwa ketetapan penyesuaian tarif diputuskan lewat pertimbangan berbagai aspek. 

Hal itu meliputi pergerakan harga energi global, kondisi pasar dalam negeri, biaya pengadaan barang, serta regulasi resmi yang berlaku di sektor energi nasional.

"Penyesuaian harga merupakan bagian dari mekanisme industri, perusahaan melakukan evaluasi, penyesuaian operasional, dan implementasi harga secara berkala sesuai ketentuan ketentuan yang berlaku," ungkap keterangan yang disampaikan Manajemen BP-AKR.

Saat dihubungi secara terpisah, Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Konsumen Muhammad Kholid Syeirazi berpandangan bahwa penurunan tarif solar non-subsidi, Pertamax Turbo, serta avtur akan memangkas pengeluaran operasional di sektor transportasi, rantai logistik, sektor industri, hingga moda penerbangan. 

Kholid berharap agar penyesuaian nilai jual ini bisa memicu sentimen positif yang meningkatkan optimisme masyarakat.

Di sudut lain, Kholid memaparkan bahwa formulasi nilai jual BBM tidak melulu berpatokan pada fluktuasi harga minyak mentah di satu waktu tertentu saja. 

Namun, formula itu ikut memperhitungkan tren pergerakan harga, biaya persediaan (inventory cost), naik-turunnya nilai tukar rupiah, hingga keberlanjutan operasional perusahaan.

Apalagi, situasi dunia saat ini masih diliputi ketidakpastian pasar energi global akibat belum stabilnya ketegangan di Selat Hormuz. Di samping itu, pergeseran harga BBM non-subsidi juga berkaitan erat dengan strategi korporasi dari masing-masing pelaku usaha. 

Kholid melihat keputusan Pertamina menahan stabil harga RON 92 dan RON 95, berpotensi menjadi bagian dari taktik niaga dalam memulihkan margin keekonomian produk Pertamax serta Pertamax Green yang sempat ditahan pada beberapa bulan sebelumnya.

Dalam hal ini, Kholid menekankan pentingnya faktor konsistensi serta transparansi dalam formula penyesuaian harga maupun aspek ketahanan energi nasional.

"Jika tren harga minyak dunia turun, penurunan harga BBM akan menumbuhkan kepercayaan pasar dan konsumen. Penyedia energi juga perlu transparan terkait dasar perhitungan harga, sehingga masyarakat memahami mengapa suatu jenis BBM turun sementara lainnya tetap," kata Kholid, Rabu (1/7/2026).

Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Industri, Satya Widya Yudha menilai bahwa sistem penyesuaian harga BBM non-subsidi ini sudah terbilang ideal dalam merespons harga pasar. 

Pemotongan harga didahului pada produk BBM non-subsidi jenis diesel, Pertamax Turbo serta Avtur yang pada periode sebelumnya sempat mengalami kenaikan harga terlebih dahulu.

"Sementara waktu itu Pertamax RON 92, dan RON 95 yang seharusnya ikut naik, tetapi tetap ditahan oleh pemerintah. Sehingga saat ini masih dihitung penyesuaiannya," kata Setya.

Sementara itu, Pengamat Migas sekaligus Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo mengingatkan bahwa nilai jual BBM non-subsidi sejatinya berjalan lurus dengan tingkat harga minyak mentah (crude) dunia. 

Meski begitu, penyesuaian tarif tidak bisa digulirkan secara mendadak, melainkan menggunakan basis bulanan yang merujuk pada indikator Indonesian Crude Price (ICP) yang dirilis berkala setiap bulan.

Hadi menjelaskan, penurunan nilai jual crude dengan acuan Brent dari posisi US$ 95 ke kisaran US$ 83 per barel dipicu oleh tercapainya nota kesepakatan antara pihak Iran dengan Amerika Serikat (AS). 

Apabila penurunan ketegangan konflik ini terus berlanjut dan dibarengi dengan pembukaan jalur blokade oleh kedua belah pihak, maka dalam jangka menengah tarif crude berpotensi untuk kembali normal ke area US$ 60 - US$ 70 untuk tiap barelnya.

Hadi memproyeksikan, nilai keekonomian untuk Pertamax sejatinya masih berada di kisaran Rp 17.400 per liter, dengan asumsi rata-rata harga Brent masih di seputar US$ 95 sepanjang bulan Juni serta perhitungan kurs di kisaran Rp 17.500 per dolar AS. 

Menggunakan skenario di mana rata-rata nilai jual crude sanggup berbalik ke level US$ 70 per barel, maka peluang tarif Pertamax untuk ikut turun ke kisaran Rp 12.800 dipastikan akan kian terbuka lebar.

"Daya beli sedang rendah, sehingga (penurunan harga BBM Subsidi) sangat membantu masyarakat luas. Tren harga minyak dunia akan menuju US$ 70 per barel, bahkan mungkin ke US$ 60 per barel. Artinya harga minyak akan kembali normal setelah nota perdamaian Iran vs AS berlanjut," tandas Hadi.

Reporter: Ibtihal