Kurs Rupiah Merosot ke Rp 17.977 per Dolar AS pada Kamis Pagi

Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) (Foto: ANTARA)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 02 Juli 2026 | 13:35:32 WIB

JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah (IDR) kembali menunjukkan penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan transaksi hari Kamis (2/7/2026).

Mengacu pada data Bloomberg pada pukul 9.05 WIB di pasar spot exchange, kurs rupiah hari ini memulai perdagangan dengan pelemahan 25 poin (0,14%) ke level Rp 17.977 per dolar AS. Di tempat lain, indeks dolar AS terlihat merosot sebesar 0,04 poin (0,04%) menuju posisi 101.354.

Pada penutupan kemarin, nilai tukar rupiah pada hari Rabu (1/1/2026) mengakhiri transaksi dengan koreksi 43 poin ke posisi Rp 17.950 per dolar AS.

Mengutip laporan dari Yahoo! Finance, Kamis (2/7/2026) mata uang greenback sempat terpantau bergerak konstan pada hari Kamis karena para pelaku pasar sedang menunggu rilis data penting non-farm payrolls AS.

Indeks dolar AS pada periode sebelumnya turun 0,02% ke posisi 101,38. Sementara itu, mata uang euro diperdagangkan pada level $ 1,138 terhadap dolar AS dan poundsterling Inggris menguat tipis 0,06% ke posisi $ 1,3279 per dolar AS.

Di sudut lain, yen Jepang merosot ke level 162,84 yen terhadap dolar AS, mencetak rekor terendah dalam jangka waktu 40 tahun terakhir serta berada jauh di atas limit yang umumnya mendorong otoritas Jepang untuk melakukan intervensi.

Pada awal sesi perdagangan, posisi yen tidak mengalami banyak perubahan di level 162,50 per dolar.

Mata uang dolar Australia melemah 0,09% terhadap dolar AS ke posisi $ 0,6885, sementara dolar Selandia Baru ditransaksikan di level $ 0,5672 per dolar AS.

Dolar AS bergerak konstan merespons pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh bahwa estimasi inflasi serta risiko harga telah berkurang dalam beberapa pekan terakhir, di mana Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja swasta di AS meningkat namun masih berada di bawah ekspektasi.

Mata uang dolar AS sendiri memperoleh sentimen positif dari semakin kuatnya prediksi pasar mengenai kenaikan suku bunga acuan The Fed pada tahun ini.

Keadaan pasar tenaga kerja yang kokoh turut memperkuat prospek ekspansi ekonomi AS, setelah kenaikan penyerapan kerja berhasil melebihi prediksi selama tiga bulan berturut-turut.

Kondisi ini menjadi salah satu faktor penopang ekstra bagi ketangguhan dolar AS, di samping aspek masifnya adopsi teknologi AI yang ikut mendorong derasnya aliran dana masuk ke instrumen aset AS.

Reporter: Ibtihal