Harga Kopi Arabika Melonjak Akibat Panen di Brasil Terganggu Hujan
JAKARTA — Harga jual kopi arabika kembali meroket setelah tingginya curah hujan mengganggu jalannya kegiatan panen di Brasil, negara produsen kopi terbesar di dunia.
Persoalan tersebut memicu kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan dalam jangka pendek, meskipun proyeksi output global masih menunjukkan potensi surplus yang bisa menahan lonjakan harga lebih lanjut.
Berdasarkan data Barchart, kenaikan harga ini disebabkan oleh faktor cuaca berupa curah hujan yang berada jauh di atas batas normal di Minas Gerais, wilayah sentra produksi kopi terbesar di Brasil.
Laporan Somar Meteorologia menunjukkan tingkat curah hujan selama satu pekan yang berakhir pada 28 Juni mencapai 31,3 milimeter atau sekitar 1.956% di atas rata-rata historisnya.
Tingginya intensitas hujan tersebut menghambat proses pemetikan serta berisiko menurunkan kualitas biji kopi, sehingga mengatrol harga arabika di pasar internasional.
Di sisi lain, harga kopi robusta justru mengalami penurunan seiring dengan kondisi pasokan yang semakin membaik.
Volume persediaan robusta di gudang penyimpanan Intercontinental Exchange (ICE) merangkak naik ke level tertinggi dalam rentang waktu sekitar 2,75 bulan, yang pada gilirannya meredakan kekhawatiran para pelaku pasar terhadap ketersediaan komoditas tersebut.
Dalam periode dua pekan terakhir, harga kopi dunia sempat mencatatkan kenaikan yang sangat signifikan.
Arabika berhasil mencapai level tertinggi dalam kurun waktu sekitar satu setengah bulan, sedangkan robusta bertengger di posisi tertinggi dalam sekitar empat setengah bulan sebelum akhirnya kembali mengalami penurunan.
Kenaikan harga arabika juga didorong oleh terus menyusutnya cadangan di gudang ICE. Hingga awal pekan ini, volume stok arabika melosot sampai ke kisaran 380.534 karung, yang menjadi level terendah dalam jangka waktu lebih dari dua tahun.
Para pelaku pasar saat ini juga mulai memperhitungkan dampak dari fenomena El Niño terhadap periode tanam berikutnya di Brasil.
Kondisi alam ini dikhawatirkan akan menunda datangnya musim hujan pada September hingga Oktober, yang menjadi fase krusial bagi pembungaan pohon kopi untuk menentukan hasil produksi pada musim 2026/2027.
Kekhawatiran itu muncul setelah Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memprediksi bahwa peluang terjadinya El Niño berkekuatan besar pada tahun ini semakin meningkat.
Pada saat yang sama, Badan Meteorologi Jepang juga telah memastikan dimulainya fenomena El Niño di wilayah Pasifik ekuator sejak pertengahan Juni lalu.
Meskipun demikian, perkiraan hasil produksi global tetap menjadi faktor penahan bagi kenaikan harga yang terlalu tinggi.
Layanan Pertanian Luar Negeri (FAS) Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan volume produksi kopi Brasil pada musim 2026/2027 dapat menembus rekor baru sebesar 71,9 juta karung, atau tumbuh sekitar 14% jika dibandingkan dengan musim sebelumnya.
Rabobank juga merevisi naik prediksi surplus kopi arabika global untuk musim 2026/2027 menjadi 9,5 juta karung dari proyeksi awal sebesar 7 juta karung, yang mengindikasikan bahwa ketersediaan barang masih berpeluang memenuhi kebutuhan dalam jangka menengah.
Jika dilihat dari sektor perdagangan, aktivitas ekspor kopi Brasil masih menunjukkan tren yang positif. Cecafe menjelaskan bahwa volume ekspor kopi mentah (hijau) Brasil pada bulan Mei meningkat sebesar 4,2% secara tahunan (YoY) hingga mencapai angka 2,73 juta karung.
Sentimen penekan untuk harga robusta juga datang dari Vietnam sebagai produsen utama di tingkat global. Kantor Statistik Nasional Vietnam mencatat bahwa kinerja ekspor kopi sepanjang periode Januari–Mei 2026 tumbuh 7,9% hingga mencapai 922.000 ton.
Output kopi dari negara tersebut untuk musim 2025/2026 diperkirakan melonjak 6% menjadi 1,76 juta ton atau berkisar 29,4 juta karung, yang menjadi angka tertinggi dalam periode empat tahun terakhir.
Sementara itu, Organisasi Kopi Internasional (ICO) mengabarkan bahwa ekspor kopi global di sepanjang tahun pemasaran yang sedang berjalan ini mengalami penurunan tipis sebesar 0,3% menjadi 138,66 juta karung.
USDA memperkirakan total produksi kopi dunia untuk musim 2025/2026 akan mencetak rekor tertinggi di angka 178,85 juta karung. Lonjakan total tersebut utamanya ditopang oleh kinerja produksi robusta, sedangkan untuk lini produksi arabika justru diproyeksikan mengalami penurunan.
Walau demikian, volume stok akhir kopi global diperkirakan akan menyusut ke kisaran 20,15 juta karung dari yang sebelumnya sebesar 21,31 juta karung pada musim lalu, sehingga kondisi pasar diperkirakan akan tetap sensitif terhadap segala bentuk anomali cuaca di negara-negara produsen utama.