Menanti Pola Musiman Juli, Bisakah Menjadi Penyelamat IHSG Tahun Ini?

Ilustrasi: Investor menantikan pola musiman Juli sebagai potensi pemulihan IHSG tahun 2026. (Gambar: NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 01 Juli 2026 | 14:36:03 WIB

JAKARTA – Memasuki Juli, investor pasar saham kembali menantikan pola musiman yang selama ini menjadi salah satu penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Setelah mengalami tekanan sepanjang enam bulan pertama tahun 2026, muncul pertanyaan besar mengenai apakah tren positif di bulan Juli masih mampu terulang.

Berdasarkan data seasonality IHSG selama 10 tahun terakhir, Juli menjadi salah satu bulan dengan kinerja terbaik karena indeks selalu mencatatkan kenaikan. Dalam periode 2016-2025, IHSG mencatat probabilitas kenaikan 100 persen, dengan seluruh periode berakhir di zona hijau dan rata-rata imbal hasil mencapai sekitar 2,88 persen.

Kinerja positif tersebut didorong oleh tren penguatan yang konsisten, di mana IHSG naik 8,04 persen pada Juli 2025, menyusul penguatan 4,05 persen pada Juli 2023, 2,72 persen pada Juli 2024, serta 0,57 persen pada Juli 2022. Namun, jika periode pengamatan diperpanjang hingga 15 tahun terakhir (2011-2025), tingkat konsistensi Juli sebagai bulan positif sedikit menurun.

Dalam rentang 15 tahun tersebut, IHSG mencatat kenaikan pada 13 dari 15 periode Juli, dengan probabilitas penguatan sekitar 87 persen. Rata-rata return Juli dalam periode panjang ini berada di kisaran 2,50 persen, menjadikannya salah satu bulan terbaik setelah Desember.

Pelemahan di bulan Juli pernah terjadi pada tahun 2011 dan 2015 akibat krisis utang Eropa dan perlambatan ekonomi China. Namun, di luar periode tersebut, Juli relatif sering menjadi momentum pemulihan bagi IHSG.

Pola musiman ini hanya mencerminkan kecenderungan historis dan tidak menjamin arah pergerakan indeks di masa depan. Juli 2026 menjadi periode menarik karena IHSG memasukinya dengan catatan buruk, yaitu pelemahan enam bulan beruntun sejak awal tahun.

Rentetan penurunan ini menyamai rekor pelemahan terpanjang IHSG yang terjadi pada Mei-Oktober 2002 dan Juni-November 2008. Tren penurunan tersebut menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun 2026.

Hingga penutupan Selasa (30/6/2026), IHSG telah turun 34,74 persen secara year to date ke level 5.643,19. Investor kini mencermati sentimen domestik, mulai dari pengumuman status emerging market Indonesia oleh MSCI hingga kondisi fiskal dan tekanan inflasi.

Faktor lain yang turut dipantau meliputi penilaian S&P, pergerakan nilai tukar rupiah, serta kekhawatiran terhadap rasio pembayaran utang pemerintah.

Reporter: Akbar