Operasional Kimia Farma Tetap Optimal Pascaputusan Arbitrase SIAC

ILUSTRASI, Direktur Utama KAEF menegaskan operasional perusahaan tetap optimal meski ada putusan arbitrase SIAC. (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 30 Juni 2026 | 13:31:09 WIB

JAKARTA - PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) memberikan respons mengenai putusan arbitrase internasional yang dikeluarkan oleh Singapore International Arbitration Centre (SIAC) dengan melakukan kajian mendalam terhadap keputusan tersebut. Pihak manajemen memberikan kepastian bahwa proses hukum ini tidak akan mengganggu jalannya kegiatan operasional maupun program transformasi bisnis perusahaan yang tengah berjalan.

Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam, menyatakan bahwa perusahaan farmasi ini berkomitmen penuh untuk menuntaskan beragam kendala dari masa lalu, termasuk perkara arbitrase internasional ini, dengan tetap mengutamakan stabilitas bisnis serta pelayanan kesehatan untuk masyarakat.

"Kami memastikan seluruh kegiatan operasional perusahaan, termasuk manufaktur, distribusi, apotek, dan layanan kesehatan di seluruh jaringan Kimia Farma, tetap berjalan secara optimal untuk melayani kebutuhan masyarakat di sektor kesehatan," ujar Djagad dalam rilis resminya pada Senin (29/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan penjelasannya, KAEF saat ini tengah melakukan penelaahan secara saksama atas hasil putusan SIAC dan menjalin komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menentukan langkah terbaik demi melindungi kepentingan perseroan beserta para pemegang saham.

Djagad menegaskan bahwa tiap kebijakan yang diambil nantinya akan selalu berkiblat pada aturan hukum yang berlaku, serta menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).

"Kami senantiasa tunduk, mematuhi, dan berpedoman pada ketentuan hukum yang berlaku serta bersikap kooperatif terhadap otoritas yang berwenang," tuturnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di tengah upaya penyelesaian masalah historis tersebut, Kimia Farma menyampaikan bahwa program transformasi bisnis yang mereka canangkan telah menunjukkan hasil yang positif.

Perusahaan berhasil mencatatkan perolehan laba kotor senilai Rp824,8 miliar pada kuartal I/2026, atau mengalami kenaikan sebesar 11,06% dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Tidak hanya itu, EBITDA perusahaan juga mengalami kenaikan hingga 61,29% menjadi Rp153,8 miliar, yang merefleksikan peningkatan performa finansial korporasi dalam menghasilkan kas melalui aktivitas operasional. KAEF pun berhasil mengantongi laba bersih senilai Rp123,6 billion sepanjang triwulan pertama tahun 2026.

Djagad berpandangan bahwa capaian positif di awal tahun ini menjadi indikator bahwa strategi penataan ulang sektor keuangan yang telah diterapkan sejak dua tahun lalu kini mulai mendatangkan hasil.

"Pencapaian di awal tahun ini membuktikan bahwa restrukturisasi keuangan yang dijalankan sejak dua tahun lalu serta transformasi model bisnis yang lebih ramping dan efisien berjalan di jalur yang tepat," jelasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk langkah ke depan, KAEF berkomitmen untuk terus mendorong efisiensi pada biaya operasional, mendongkrak porsi produk yang memiliki margin keuntungan tinggi, memperluas jaringan pemasok, serta mengoptimalkan penggunaan Bahan Baku Obat (BBO) produksi dalam negeri guna menekan ketergantungan pada impor yang sejauh ini masih mendominasi pasar farmasi nasional.

Di lini hilir, perusahaan juga membidik potensi pasar baru lewat penyediaan layanan kesehatan bagi kelompok lanjut usia melalui pengembangan ekosistem Healthy Ageing. 

Program ini mengintegrasikan sarana apotek, klinik kesehatan, laboratorium diagnostik, hingga layanan homecare. Strategi ini diperkirakan dapat menjadi sumber pendapatan baru seiring dengan tren kenaikan populasi lansia di Indonesia.

Pihak manajemen kembali menegaskan bahwa penyelesaian sengketa arbitrase global ini merupakan bagian dari langkah pembersihan masalah masa lalu, sementara transformasi bisnis akan terus dikawal agar dapat memperkokoh fundamental keuangan serta menjaga pertumbuhan korporasi dalam jangka panjang.

Reporter: Gemilang Ramadhan