Prediksi Kurs Rupiah Hari Ini: Menguat ke Rp17.800 per Dolar AS

Pegawai menunjukan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah. (Foto: bisnis.com)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 30 Juni 2026 | 12:15:46 WIB

JAKARTA — Kurs mata uang rupiah diestimasikan masih bakal melaju menguat terhadap dolar AS pada hari ini, Selasa (30/6/2026).

Merujuk pada basis data Tradingview, mata uang garuda ditutup naik sebesar 0,36% ke level Rp17.840 per dolar AS pada sesi transaksi kemarin, Senin (29/6/2026). 

Di pihak lain, indeks dolar AS berakhir melemah 0,10% menuju posisi 101,25.

Pada saat yang sama, pergerakan sejumlah mata uang di wilayah Asia terpantau ditutup beragam. Mata uang yen Jepang berakhir terdepresiasi 0,05%, yuan China terkerek 0,09%, dolar Singapura melempem 0,01%, dan won Korea Selatan melemah 0,49%.

Berikutnya, dolar Hong Kong turun 0,02%, dolar Taiwan menguat 0,08%, baht Thailand melesat 0,20%, serta ringgit Malaysia naik sebesar 0,51%.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa dari aspek eksternal, sentimen pasar bersumber dari memanasnya hubungan antara AS dan Iran pada akhir pekan lalu yang memicu keraguan terkait kelanjutan komitmen damai mereka, walaupun kedua negara dikabarkan tetap berkomitmen menggelar dialog lanjutan di Qatar pekan ini.

Pulihnya kondisi pasokan ikut memberikan tekanan bagi harga minyak, mengingat arus lalu lintas perdagangan melewati Selat Hormuz telah kembali mendekati volume sebelum konflik pecah pada minggu lalu.

Meskipun demikian, aksi gempuran yang kembali meletus sepanjang akhir pekan memicu kekhawatiran yang lebih mendalam mengenai kerapuhan komitmen damai temporer antara pihak AS dan Iran.

AS dan Iran dilaporkan saling melepaskan gempuran sampai akhir pekan lalu dipicu oleh silang pendapat terkait klaim wewenang Teheran di Selat Hormuz.

Insiden serangan itu memicu gangguan arus pengiriman melalui Hormuz dan mengatrol naik harga minyak pada perdagangan hari Senin.

Walau begitu, laju kenaikan harga minyak berhasil diredam oleh rilis laporan Axios yang menyebutkan bahwa pihak AS dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertikaian mereka secepatnya dan bersiap melakukan dialog baru di Qatar.

Sementara itu, beberapa jajaran pejabat The Fed melontarkan pandangan yang cenderung hawkish. Salah satunya adalah Presiden Fed Minneapolis Neel Kishkari, yang memproyeksikan adanya satu kali penguatan suku bunga pada tahun 2026, serta menyampaikan kepada Bloomberg bahwa ‘inflasi yang meluas’ mengindikasikan bahwa tindakan penaikan suku bunga memang diperlukan.

Di sisi lain, Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee mengutarakan bahwa inflasi inti terpantau masih terlampau tinggi dan bergerak ke arah yang keliru. Presiden Fed New York John Williams turut menimpali bahwa inflasi saat ini masih terlampau tinggi, walau dirinya mengindikasikan bahwa instrumen kebijakan yang ada "sudah tepat".

Dari aspek domestik, para pelaku pasar saat ini tengah menantikan rilis beberapa indikator performa ekonomi untuk awal bulan Juli, yaitu rilis data neraca perdagangan Indonesia serta capaian tingkat inflasi.

Kedua data ekonomi tersebut diproyeksikan bakal menjadi variabel acuan krusial dalam menganalisis stabilitas ekonomi domestik serta arah tren pergerakan rupiah ke depan.

Adapun untuk jalannya transaksi hari ini, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah bakal bergerak secara fluktuatif, namun berpotensi besar ditutup menguat pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.860.

Reporter: Ibtihal