Harga CPO Pekan Ini Tertekan Stok Melimpah dan Minyak Dunia Melemah

Ilustrasi kelapa sawit. (Foto: Antara)
Penulis: Ibtihal
Senin, 29 Juni 2026 | 15:13:46 WIB

JAKARTA – Nilai jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diproyeksikan bakal terus menghadapi tekanan sepanjang minggu ini. 

Kemerosotan nilai minyak mentah dunia serta melimpahnya persediaan minyak kelapa sawit di Malaysia disinyalir menjadi penyebab utama yang menghambat laju penguatan harga.

Senior Palm Oil Trader Interband Group of Companies Jim Teh memaparkan, kontrak berjangka CPO pada Bursa Malaysia Derivatives dinilai berpotensi bergerak dengan tren melemah lantaran mengekor penyusutan yang terjadi di pasar energi.

"Harga minyak mentah telah turun ke kisaran US$73-74 per barel. Karena pergerakan CPO selama ini sejalan dengan pasar energi, kontrak berjangka CPO diperkirakan masih akan melemah pada pekan ini," ujar Teh dikutip dari Bernama, Senin (29/6/2026).

Bukan cuma berimbas dari komoditas energi, situasi pasar pun dihantui ketersediaan barang yang melimpah. 

Malaysia sekarang ini mencatatkan cadangan minyak kelapa sawit berkisar 2,43 juta ton, sehingga kesempatan kenaikan harga dianggap bertumpu pada batas tertentu.

Teh memprediksi nilai transaksi CPO akan berkisar di rentang 4.250-4.350 Ringgit Malaysia per ton sepanjang minggu ini. 

Kendati begitu, serapan fisik diyakini bakal konsisten muncul dari sekumpulan negara pembeli utama, di antaranya India, Pakistan, China, wilayah Asia Barat, Uni Eropa, sampai Amerika Serikat. 

Pasokan pesanan itu diproyeksikan sanggup membendung depresiasi harga agar tidak merosot terlalu jauh.

Harga Minyak Melemah

Pernyataan yang sejalan diutarakan oleh proprietary trader Iceberg X Sdn Bhd, David Ng. Berdasarkan analisisnya, nilai jual CPO dinilai bakal terus berada di bawah tekanan pasca kemunduran harga minyak mentah yang mengikuti perolehan kemufakatan damai di wilayah Asia Barat.

"Harga CPO diperkirakan bergerak di kisaran 4.450 Ringgit Malaysia per ton hingga 4.650 Ringgit Malaysia per ton ," ujarnya.

Di sisi lain, dalam perhitungan pekanan, kontrak berjangka CPO pada Bursa Malaysia Derivatives tetap berakhir merosot di semua masa tenggat.

Kontrak Juli 2026 menyusut 90 Ringgit Malaysia menjadi 4.504 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Agustus 2026 longsor 83 Ringgit Malaysia menjadi 4.539 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak September 2026 ikut terpangkas 78 Ringgit Malaysia ke angka 4.568 Ringgit Malaysia per ton.

Kemunduran tren berlanjut untuk kontrak Oktober 2026 yang jatuh 77 Ringgit Malaysia menjadi 4.591 Ringgit Malaysia per ton, diikuti kontrak November 2026 yang tergerus 78 Ringgit Malaysia ke posisi 4.611 Ringgit Malaysia per ton serta kontrak Desember 2026 yang melandai 79 Ringgit Malaysia menuju level 4.631 Ringgit Malaysia per ton.

Reporter: Ibtihal