Harga Minyak Pekan Ini Tertekan, Brent Berpeluang Turun Ke Level USD65

Harga Minyak Pekan Ini Tertekan, Brent Berpeluang Turun Ke Level USD65. (Foto: Magnific)
Penulis: Ibtihal
Senin, 29 Juni 2026 | 13:12:23 WIB

JAKARTA – Nilai jual komoditas minyak mentah diproyeksikan masih bakal bergulir di bawah tekanan pada sesi perdagangan pekan ini sesudah membukukan penurunan yang cukup dalam sepanjang minggu lalu.

Meredanya kecemasan terhadap potensi hambatan logistik pasokan dari kawasan Timur Tengah menjadi faktor dominan yang menekan nilai jual komoditas minyak, kendati risiko dari sektor geopolitik tetap mengintai pergerakan pasar.

Harga minyak mentah untuk jenis Brent ditutup melandai sebesar 4,34 persen ke level USD71,99 per barel pada sesi transaksi Jumat (26/6/2026) pekan lalu. 

Di saat yang sama, komoditas minyak mentah berjenis West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat (AS) merosot 3,74 persen menuju angka USD69,23 per barel. 

Dalam perhitungan mingguan secara akumulatif, nilai Brent jatuh hingga 10,86 persen, sedangkan jenis WTI melorot sebanyak 9,62 persen.

Anjloknya harga tersebut terjadi setelah armada kapal tanker dilaporkan telah melanjutkan kembali aktivitas pengapalan melewati Selat Hormuz, sehingga mampu mengikis kekhawatiran para pelaku pasar mengenai ancaman tersumbatnya jalur distribusi energi global. 

Sebelumnya, pasar sempat mencemaskan risiko terhadap kelancaran pasokan minyak usai satu unit kapal kargo terkena gempuran di wilayah dekat Oman. Meski begitu, ketakutan tersebut mulai menyusut pasca tercapainya kesepakatan seputar gencatan senjata temporer antara pihak Amerika Serikat dan Iran.

"Ada keyakinan yang semakin kuat bahwa minyak akan tetap mengalir melalui Selat Hormuz," kata Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn, dikutip Reuters.

Kendati demikian, para pelaku pasar tetap memantau secara berkala dinamika perselisihan yang berlangsung di Timur Tengah. 

Indikator bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran tengah menghadapi ujian kembali menyeruak usai kedua negara dilaporkan meluncurkan aksi saling serang pada momen akhir pekan kemarin. 

Situasi ini kembali membuka peluang bagi munculnya volatilitas harga komoditas minyak, terutama jika perselisihan melebar hingga mengancam jalur perdagangan energi yang utama.

Kembalinya ketegangan geopolitik dapat menjadi faktor pendorong harga minyak, terlebih ketika persediaan minyak global mulai memperlihatkan tren penurunan.

 Di sisi lain, terdapat sinyal bahwa Presiden AS Donald Trump tidak menginginkan konflik tersebut meluas menjadi sebuah perang terbuka. 

Pemberitaan media menerangkan bahwa kecemasan akan dampak ekonomi serta politik menjelang agenda pemilu sela AS dapat memicu lahirnya upaya untuk meredam ketegangan.

Dilihat dari indikator teknikal, para pengamat pasar menilai pergerakan harga minyak cenderung masih tertahan di zona bearish

Nilai Brent tercatat telah merosot dari posisi tertinggi sepanjang tahun berjalan di level USD119,75 per barel mengarah ke kisaran USD73,60 per barel. 

Harga Brent pun terpantau sudah melewati level retracement Fibonacci 61,8 persen, di mana indikator teknikal memperlihatkan sinyal penurunan lanjutan.

Pergerakan rata-rata 50 hari (MA-50) serta 100 hari (MA-100) dikabarkan telah membentuk pola bearish crossover, sedangkan untuk indikator Relative Strength Index (RSI) dan Moving Average Convergence Divergence (MACD) terlihat masih bergerak melandai.

Dengan mencermati situasi tersebut, beban penurunan diproyeksikan masih berpeluang berlanjut dalam jangka pendek. 

Brent diestimasi dapat menguji titik support berikutnya pada kisaran level USD65 per barel. 

Namun, prediksi bearish tersebut dapat berbalik arah apabila harga minyak mampu menembus kembali zona resistance di angka USD80 per barel.

Reporter: Ibtihal