Pasca Review MSCI, IHSG Terkoreksi 3,56 Persen dan Asing Lepas Saham

Ilustrasi: IHSG terkoreksi 3,56 persen ke level 5.884 pasca pengumuman review MSCI 2026. (Gambar: NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 25 Juni 2026 | 13:42:45 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 3,56 persen ke level 5.884 saat penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026). Anjloknya indeks terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market dalam MSCI Market Classification Review 2026.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan IHSG pasca pengumuman MSCI menunjukkan ekspektasi investor, terutama investor asing, belum sepenuhnya terpenuhi.

“Pasca pengumuman menunjukkan bahwa ekspektasi pasar (terutama investor asing) belum sepenuhnya terpenuhi. Asing kerap mengantisipasi adanya perbaikan bobot (weighting) atau kejelasan regulasi yang lebih akomodatif,” ujar Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ketika hasil review tidak menghadirkan katalis positif baru dan masih menyoroti sejumlah persoalan struktural, investor asing cenderung merespons dengan melakukan aksi jual.

“Ketika hasil review tidak membawa katalis positif baru atau justru menyoroti isu struktural, aliran dana keluar jangka pendek menjadi respons alami akibat aksi untung (profit taking) atau rebalancing portofolio,” papar Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita.

MSCI mencatat adanya kekhawatiran investor institusi global terkait kelayakan investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), khususnya mengenai struktur kepemilikan saham dan indikasi praktik perdagangan yang terkoordinasi. Persoalan tersebut membatasi kemampuan investor asing dalam menilai porsi free float serta mengandalkan harga pasar dalam penyusunan portofolio.

Nafan memandang bahwa aspek arus informasi dapat memperpanjang tren foreign net sell di pasar saham karena investor asing sangat bergantung pada transparansi serta aksesibilitas informasi.

“Investor institusi asing sangat bergantung pada transparansi, kecepatan, dan aksesibilitas informasi emiten serta kebijakan otoritas pasar modal. Jika aspek ini dinilai kurang optimal, risiko premium investasi di Indonesia akan meningkat, memicu asing untuk melanjutkan aksi jual bersih hingga ada perbaikan nyata,” pungkas Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita.

MSCI saat ini masih mempertahankan Indonesia sebagai Emerging Market, namun tetap memberlakukan kebijakan pembekuan sementara (interim freeze) untuk penambahan bobot saham. Kebijakan tersebut menciptakan ketidakpastian regulasi dan membatasi fleksibilitas bagi para manajer investasi global.

“Faktor interim freeze yang belum dicabut memiliki bobot yang sangat besar. Kebijakan ini menciptakan ketidakpastian regulasi dan membatasi fleksibilitas dana kelolaan besar (fund manager global),” tutur Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita. Investor asing akhirnya cenderung mengambil sikap defensif dengan mengurangi eksposur atau beralih ke pasar negara lain yang dianggap lebih likuid.

“Selama status ini bertahan, investor asing cenderung mengambil sikap defensif atau mengurangi eksposur di Indonesia, lalu mengalihkan dananya ke pasar Emerging Market lain yang dinilai lebih likuid dan minim restriksi,” lanjut Nafan sebagaimana dilansir dari sumber berita. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp 1,23 triliun pada hari perdagangan tersebut.

Tekanan jual asing membebani sejumlah saham berkapitalisasi besar, dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi saham yang paling banyak dilepas. Di tengah aksi jual tersebut, investor asing masih melakukan akumulasi pada saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan nilai beli bersih mencapai Rp 219 miliar.

Indeks sempat bergerak menguat hingga 6.171,38 sebelum akhirnya ditutup turun di level 5.884 akibat peningkatan tekanan jual. Aktivitas perdagangan berlangsung ramai dengan volume 26,94 miliar saham dan nilai transaksi harian mencapai Rp 15,16 triliun.

Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut menjadi Rp 10.338,13 triliun seiring dengan koreksi tajam yang dialami IHSG.

Reporter: Akbar