Bitcoin Melemah ke USD 60.991, Pasar Kripto Kompak ke Zona Merah

Ilustrasi Bitcoin Melemah. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 25 Juni 2026 | 12:08:37 WIB

JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan pada hari ini, Kamis (25/6/2026), setelah sebelumnya sempat tergelincir di bawah level psikologis US$ 60.000.

Penguatan dolar AS serta semakin meningkatnya proyeksi kenaikan suku bunga The Fed memicu aksi jual masif di pasar kripto dan menyeret mayoritas aset digital ke zona negatif.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.10 WIB, kapitalisasi pasar kripto global menciut 2,17% menjadi US$ 2,1 triliun. Sementara itu, nilai Bitcoin (BTC) hari ini terkoreksi 2,8% ke level US$ 60.991 per koin atau setara Rp 1,09 miliar (kurs Rp 18.024 per dolar AS).

Indeks CoinDesk 20 yang melacak performa 20 aset kripto terbesar melorot 2,34%. Ethereum merosot 2,91% ke level US$ 1.620, Binance (BNB) berkurang 2,43% ke US$ 564, XRP melemah 3,23% ke US$ 1,07, Dogecoin (DOGE) turun 3,39% ke US$ 0,07, dan Solana (SOL) terpangkas 2,35% menjadi US$ 68,1.

Melansir dari Tradingview, harga bitcoin (BTC) kembali tertekan dan sempat ambles di bawah level psikologis US$ 60.000, yang merupakan titik terendah sejak akhir 2024. Koreksi ini terjadi di tengah keperkasaan dolar AS dan kian tingginya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Tekanan terhadap bitcoin muncul setelah pelaku pasar semakin yakin bank sentral AS masih berpeluang menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Sikap hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh membuat para investor mulai memangkas kepemilikan pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dinilai lebih menarik di tengah tren kenaikan imbal hasil.

Tidak hanya bitcoin, aset lindung nilai seperti emas dan perak juga menghadapi tekanan yang cukup berat. Harga emas turut merosot di bawah US$ 4.000 per ons troi untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir, sedangkan perak terdepresiasi di bawah US$ 60 per ons, posisi terendah sejak akhir 2025.

Analis berpendapat penurunan simultan ini mencerminkan pudarnya daya tarik ‘debasement trade’, yaitu strategi investasi yang selama beberapa tahun belakangan mengandalkan emas, perak, dan bitcoin sebagai pelindung nilai terhadap inflasi serta penurunan nilai mata uang.

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor penekan utama di pasar. Indeks dolar AS tercatat menguat sekitar 2,8% sepanjang bulan ini, yang menandai lonjakan bulanan terbesar dalam hampir setahun terakhir.

Dolar yang kian kuat membuat emas dan perak menjadi lebih mahal bagi para investor global. Pada waktu yang sama, meningkatnya ekspektasi suku bunga memperbesar opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti logam mulia dan kripto.

Reporter: Ibtihal