Harga Emas Global Anjlok ke USD4.110 Akibat Prospek Hawkish The Fed

Ilustrasi Emas. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 24 Juni 2026 | 14:47:41 WIB

JAKARTA - Harga emas di pasar global menyusut pada perdagangan Selasa (23/6/2026) seiring lonjakan dolar Amerika Serikat (AS) ke level tertinggi dalam setahun terakhir, didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).

Penguatan mata uang AS tersebut mengikis sentimen positif bagi emas yang sebelumnya ditopang oleh penurunan harga minyak mentah menyusul progres positif dalam dialog damai antara AS dan Iran.

Di pasar spot, harga emas merosot sebesar 1,93 persen menjadi USD4.110,74 per troy ons.

Apresiasi dolar AS ke posisi tertingginya dalam setahun terakhir pada perdagangan Selasa membuat investasi logam mulia ini terasa lebih bernilai tinggi bagi para pemilik mata uang asing lainnya.

"Untuk saat ini, emas dan perak tidak terlalu memperhatikan situasi di Timur Tengah. Saya pikir pasar lebih mencermati pernyataan Federal Reserve pekan lalu," kata Ahli Strategi Pasar Senior StoneX, Bob Haberkorn, dikutip Reuters.

Sinyal hawkish dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, terkait komitmen menekan inflasi mendorong para investor memperbesar estimasi mereka terhadap potensi kenaikan suku bunga.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, para pelaku pasar kini mengalkulasi peluang kenaikan suku bunga untuk bulan Desember telah mencapai angka 86 persen, naik signifikan dari posisi 61 persen sebelum pertemuan The Fed pekan lalu.

Meski emas kerap menjadi aset lindung nilai terhadap inflasi, komoditas non-bunga ini cenderung terbebani dalam iklim suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil langsung.

Dari aspek geopolitik, AS memberikan penangguhan sanksi kepada Iran selama 60 hari sejak Senin menyusul dimulainya pembicaraan awal mengenai kesepakatan damai. Walau begitu, konflik bersenjata di wilayah Lebanon dikabarkan masih terus berlangsung.

Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance mengutarakan bahwa dialog bersama perwakilan pejabat Iran di Swiss telah membangun landasan yang kokoh menuju tercapainya perjanjian damai permanen.

Sementara itu, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan mulai memadat kembali setelah sempat terhambat akibat ketegangan regional.

Harga minyak mentah jenis Brent sendiri turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Selasa. Investor saat ini tengah menunggu perilisan data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS pada hari Kamis, yang menjadi indikator inflasi utama The Fed, untuk melihat proyeksi kebijakan moneter selanjutnya.

Pada kelompok logam mulia lain, perak spot terpantau anjlok 4,9 persen ke USD61,98 per ons. Selanjutnya, platinum melorot 1,2 persen ke level USD1.657,92 per ons, dan paladium menyusut 2,6 persen menjadi USD1.232,28 per ons.

Reporter: Ibtihal