Premi Asuransi Kecelakaan Diri Turun, AAUI Beri Penjelasan Ini
JAKARTA – Lini bisnis personal accident atau asuransi kecelakaan diri di industri asuransi umum mengalami penurunan pendapatan premi pada kuartal I-2026. Merujuk data dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), perolehan premi pada lini tersebut mengalami koreksi sebesar 31,3% secara tahunan (year on year/yoy). Angka pendapatan premi untuk personal accident berada di angka Rp 786 miliar pada kuartal I-2026, merosot dari perolehan periode yang sama di tahun lalu yang mencapai Rp 1,14 triliun.
Ketua Umum AAUI, Budi Herawan, memberikan penjelasan bahwa merosotnya angka premi ini bukan serta-merta menjadi tanda adanya penurunan mobilitas masyarakat.
Hal tersebut melainkan lebih disebabkan oleh karakteristik bisnis serta pola penyaluran produk yang ada pada industri asuransi umum.
Budi Herawan menuturkan, produk kecelakaan diri dalam asuransi umum mayoritas bersumber dari segmen kumpulan ataupun kolaborasi korporasi.
Contohnya seperti kelompok karyawan, peserta suatu aktivitas, institusi pendidikan, komunitas, hingga sektor kredit atau pembiayaan tertentu, serta program bundling lewat kanal distribusi khusus.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Karena itu, pergerakan premi sangat dipengaruhi oleh waktu perpanjangan polis, pola kerja sama distribusi, program tahunan korporasi, serta realisasi proyek atau kegiatan tertentu, bukan hanya oleh peningkatan perjalanan masyarakat,” ujarnya, Senin (19/6/2026).
Budi Herawan mengimbuhkan, apabila ditinjau dari aspek permintaan, kebutuhan atas proteksi kecelakaan diri sebenarnya tetap ada. Hanya saja, tren pembelian saat ini mulai bergeser ke bentuk bundling bersama produk lain, semisal asuransi perjalanan, pembiayaan, kartu keanggotaan, platform digital, hingga produk proteksi mikro dan employee benefit.
Pergeseran ini mengakibatkan pencatatan beserta kontribusi premi di lini personal accident menjadi lebih fluktuatif, lantaran sangat bergantung pada struktur produk serta kanal distribusi yang dimanfaatkan.
Jika melihat dari aspek kanal distribusi, penurunan ini juga dipicu oleh adanya penyesuaian kerja sama dengan pihak mitra affinity, sektor pembiayaan, travel-related business, serta langkah efisiensi biaya proteksi di beberapa perusahaan di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan.
Menurut pandangannya, tekanan terhadap perolehan premi lebih dominan datang dari perpaduan faktor timing bisnis, langkah optimalisasi biaya, beserta pergeseran pola distribusi, bukan disebabkan oleh menyusutnya kebutuhan masyarakat akan proteksi.
Untuk waktu yang akan datang, AAUI menilai peluang lini personal accident masih tergolong cukup cerah lantaran produk ini memiliki sifat yang sederhana, bernilai terjangkau, serta sangat relevan untuk masyarakat luas.
Peluang pertumbuhan ke depan diperkirakan masih bisa disokong oleh pemanfaatan kanal digital, kerja sama affinity, bancassurance, sektor pembiayaan, komunitas, hingga inovasi produk mikro serta embedded insurance.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Dengan demikian, penurunan pada kuartal I-2026 perlu dilihat sebagai dinamika portofolio dan kanal distribusi, bukan pelemahan fundamental kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan kecelakaan diri,” kata Budi.