Program Sakeladera SIG Tekan Biaya Pakan Ternak hingga 60 Persen

Pekerja PT Semen Indonesia (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 23 Juni 2026 | 13:09:44 WIB

JAKARTA – PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) atau SIG bersama anak perusahaannya, PT Solusi Bangun Andalas, tengah memperkokoh strategi bisnis yang berbasis pada keberlanjutan. Langkah ini direalisasikan dengan mengolah sampah kelapa di area wisata Pantai Lampuuk, Aceh, menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan berdampak langsung pada sektor peternakan di wilayah setempat. Melalui sebuah inisiatif bernama Sakeladera (Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera), SIG tidak hanya berfokus pada kelestarian lingkungan, melainkan juga menyusun model bisnis sirkular yang mengintegrasikan penanganan limbah, pembuatan bahan baku pakan, hingga peningkatan kesejahteraan ekonomi warga.

Setiap bulannya, terdapat sekitar 60 ton limbah kelapa yang sebelumnya terbuang sia-sia. Kini, sampah tersebut diproses menjadi cocopeat, yaitu serbuk sabut kelapa yang difungsikan sebagai bahan campuran pakan ternak.

Upaya transformasi ini berhasil menyelesaikan dua masalah utama di Aceh sekaligus, yakni penumpukan sampah kelapa hasil kegiatan pariwisata yang biasanya dibakar atau dibiarkan membusuk, serta tingginya pengeluaran untuk pakan ternak yang selama ini dipasok dari luar daerah. 

Sebelum inisiatif ini berjalan, pengeluaran pakan bagi para peternak unggas di kawasan tersebut dapat menyentuh angka berkisar Rp48 juta per bulan.

Dimulai sejak tahun 2024, Sakeladera dilaksanakan dengan menjalin kolaborasi bersama komunitas setempat, yaitu Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil), yang sebelumnya telah menjadi mitra SIG dalam program penanganan sampah di area pesisir.

Dalam pelaksanaannya, SIG tidak sekadar memfasilitasi sarana alat pengolahan, tetapi juga membentuk ekosistem lewat pemberian pelatihan, pendampingan, serta edukasi kepada warga agar proses pengolahan limbah dapat terus berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengungkapkan bahwa inisiatif ini merupakan wujud nyata dari penerapan Sustainability Roadmap SIG 2030, khususnya dalam aspek perlindungan terhadap lingkungan hidup serta pemberian nilai manfaat bagi warga sekitar. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ia menyatakan, "Sakeladera menjadi contoh konkret bagaimana strategi keberlanjutan perusahaan diterjemahkan ke dalam model bisnis yang bisa diukur dampaknya."

Dari aspek performa, inisiatif tersebut memberikan pengaruh operasional yang amat berarti. Kuantitas sampah kelapa di Pantai Lampuuk mampu ditekan dari yang awalnya sekitar 60 ton menjadi tersisa 20–24 ton per bulan.

Di samping itu, para peternak unggas yang berada di Lhoknga dilaporkan berhasil menghemat ongkos pakan hingga 60 persen, atau berkurang sekitar Rp28,2 juta per bulan, sekaligus meminimalisir ketergantungan logistik pakan dari luar wilayah.

Lebih lanjut, program Sakeladera pun mendatangkan perputaran ekonomi baru di tingkat lokal dengan menyerap sekitar 28 orang tenaga kerja yang terlibat dalam tahapan pengumpulan, pemrosesan, hingga penyaluran produk cocopeat. 

Hasil produksi cocopeat ini juga telah lolos pengujian laboratorium di Balai Riset dan Standardisasi Industri guna memastikan terpenuhinya standar kelayakan kandungan untuk keperluan campuran pakan ternak.

Jika ditinjau dari sisi bisnis sosial, SIG mencatat bahwa inisiatif ini mengantongi nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 2,5. Hal tersebut mengindikasikan bahwa untuk setiap Rp1 investasi yang ditanamkan oleh korporasi, mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial senilai Rp2,5 bagi warga. 

Rasio pengembalian ini kian menegaskan bahwa Sakeladera bukan sekadar kegiatan CSR biasa, melainkan sebuah model penciptaan nilai manfaat yang dapat dikalkulasi secara pasti.

Manfaat nyata di area operasional pun dirasakan langsung oleh para pelaku usaha di daerah. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, salah satu anggota Kelompok Usaha Puyuh Andalas, Muhammad Ikhsan, mengungkapkan, "program ini menolong kami dalam menekan ongkos produksi sekaligus mengalihfungsikan limbah yang tadinya tidak bernilai menjadi sumber pemasukan baru untuk masyarakat."

Melalui strategi penanganan tersebut, SIG bersama Solusi Bangun Andalas mempertontonkan model pergerakan sektor industri semen dan material bangunan menuju arah bisnis berkelanjutan. Fokus usaha tidak lagi sekadar terpaku pada aktivitas produksi, melainkan juga mencakup manajemen sumber daya serta pembentukan ekosistem ekonomi lokal yang jauh lebih efisien, hemat, dan mandiri.

Reporter: Gemilang Ramadhan