Harga Emas dan Perak Kian Tertekan Usai Proyeksi Lembaga Dunia Dipangkas

Ilustrasi emas (Foto: AP Photo)
Penulis: Ibtihal
Senin, 22 Juni 2026 | 14:29:47 WIB

JAKARTA – Harga emas dan perak masih terus terhimpit selama sepekan lalu, menguji kesabaran para investor yang sempat menikmati keuntungan dari kenaikan yang sangat tinggi.

Harga emas pun diperkirakan tetap berat untuk bangkit. Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada hari ini, Senin (22/6/2026) jam 06.18 WIB berada di level US$ 4156,69 atau turun sebanyak 0,08%. 

Kemerosotan ini membuat posisi emas semakin terbenam. Harga emas pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (19/6/2026) berakhir pada posisi US$ 4160 per troy ons.

 Harganya anjlok mencapai 1,15%. Penurunan ini memperpanjang tren negatif yang tengah berlangsung di mana harga emas merosot hingga 3,92% selama tiga hari berturut-turut.

Angka penutupan pada hari Jumat kemarin juga menjadi yang paling rendah sejak tanggal 10 Juni 2026. 

Penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga oleh The Fed, serta ketidakpastian prospek perdamaian di wilayah Timur Tengah membuat daya pikat instrumen safe haven semakin pudar.

Akibatnya, banyak investor mulai melepas logam mulia itu dan memindahkan dana mereka ke instrumen yang dinilai lebih aman. 

Harga emas diketahui jatuh ke kisaran US4.152peronspadatanggal19Juni2026,atausekitar255.600 per ons pada bulan Januari. 

Sementara itu, perak terperosok ke rentang US64 perons, merosot hampir 47121,62 per ons.

Investor kawakan sekaligus penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, menyatakan dirinya belum menyerah terhadap emas dan perak.

Ia menjelaskan tidak punya niat untuk menjual rugi aset miliknya saat harga sedang jatuh, melainkan menunggu momen yang tepat untuk mengumpulkan kembali posisinya. 

Koreksi tajam ini terjadi setelah lonjakan masif di tahun 2025, ketika emas terangkat lebih dari 50% dan perak melonjak hingga lebih dari dua kali lipat. 

Pada masa itu, aksi beli massal oleh bank sentral serta pelemahan dolar AS mendorong para investor memburu aset pelindung nilai. 

Namun arah pasar berbalik setelah The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh memberi sinyal bahwa peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka guna menahan laju inflasi.

Kondisi ini memicu sentimen negatif terhadap emas dan perak yang tidak memberikan imbal hasil bunga. 

Beberapa analis bahkan menilai logam mulia saat ini bergerak lebih mirip aset berisiko daripada aset pelindung nilai, sehingga rentan tertekan ketika sentimen pasar global memburuk.

Berseberangan dengan keputusan Kiyosaki, Goldman Sachs justru memotong target harga logam mulia tersebut sebesar US500 per troyons. 

Lembaga perbankan investasi asal AS itu kini memproyeksikan harga emas akan berada di angka US$ 4.900 per ons pada akhir tahun 2026, turun dari proyeksi sebelumnya yang berada di level US$ 5.400 per ons. 

Koreksi ini diambil menyusul peluang kenaikan suku bunga dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang meningkat sangat tajam. 

Di rapat pertamanya sebagai Ketua The Fed, Kevin Warsh memberikan sinyal sikap yang jauh lebih agresif demi menekan inflasi, sehingga pelaku pasar sekarang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga di bulan Desember mencapai 87%. 

Goldman menilai emas masih memiliki prospek yang baik dalam jangka menengah, namun risiko koreksi dalam jangka pendek ini semakin membesar. 

Sejak mencetak rekor hampir US$ 5.600 per ons di awal tahun, nilai emas kini telah menyusut sekitar 27% ke kisaran US$4.100 per ons. Bahkan, logam mulia tersebut mencatatkan pelemahan selama tiga bulan berturut-turut.

Analis Goldman Sachs Lina Thomas dan Daan Struyven menyatakan peningkatan suku bunga bakal menjadi ancaman besar bagi komoditas emas lantaran logam ini tidak memberikan imbal hasil.

Apabila The Fed benar-benar mengeksekusi kenaikan suku bunga, Goldman memberikan peringatan bahwa nilai emas berpotensi tergerus kembali menuju level US$4.400 per ons pada akhir tahun nanti. 

Tidak hanya itu, Goldman juga memproyeksikan aliran dana ke ETF berbasis emas akan bergerak melambat seiring dengan ekspektasi bahwa penurunan suku bunga oleh The Fed baru akan direalisasikan pada pertengahan hingga akhir tahun 2027. 

Situasi ini berpotensi mengikis daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai dan memperpanjang tekanan harga dalam beberapa bulan ke depan.

Reporter: Ibtihal