Minat Asing Terbatas, Investor Domestik Jadi Penopang Utama Lelang SUN

Ilustrasi: Investor domestik menjadi penopang utama lelang Surat Utang Negara pada 23 Juni 2026. (Gambar: NET)
Penulis: Akbar
Senin, 22 Juni 2026 | 14:06:29 WIB

JAKARTA – Pemerintah diprediksi akan mencatatkan penyerapan yang solid pada lelang Surat Utang Negara (SUN) yang akan dilaksanakan pada 23 Juni 2026. Investor domestik diperkirakan menjadi tulang punggung utama dalam lelang tersebut karena minat investor asing belum menunjukkan pemulihan penuh.

Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan hingga 5,75 persen berdampak pada stabilisasi rupiah dan daya tarik instrumen domestik. Namun, aliran modal asing saat ini masih terbatas dan lebih terfokus pada instrumen jangka pendek seperti SRBI dan SPN.

“Ini menunjukkan investor masih mencari imbal hasil sambil menunggu kepastian kondisi pasar, bukan karena mereka sudah kembali percaya penuh pada aset jangka panjang Indonesia,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. Kondisi ini membuat investor menuntut tingkat imbal hasil yang relatif tinggi pada lelang mendatang.

Pemerintah saat ini menghadapi tekanan kebutuhan pembiayaan yang besar, sementara minat pasar dalam beberapa lelang terakhir cenderung melemah. Yusuf menilai penurunan jumlah penawaran dalam lelang sebelumnya mengharuskan pemerintah memberikan yield yang lebih tinggi untuk memastikan target penerbitan tercapai.

“Biaya utang sedang naik ketika kebutuhan pendanaan pemerintah juga meningkat. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan pembiayaan APBN,” sebagaimana dilansir dari sumber berita. Selain itu, pasar obligasi Indonesia masih tertekan oleh ketidakpastian kebijakan moneter The Fed yang cenderung hawkish.

Pasar belum melihat ruang penurunan suku bunga yang agresif, sehingga dolar AS tetap kuat dan selisih imbal hasil obligasi kurang menarik bagi investor global. “Dalam kondisi seperti ini, investor asing cenderung lebih selektif, terutama terhadap obligasi tenor panjang yang sensitif terhadap perubahan suku bunga global,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Kendati demikian, Yusuf memproyeksikan lelang SUN pekan depan akan berjalan positif berkat penyerapan dari perbankan serta institusi keuangan dalam negeri. Instrumen SUN tenor pendek hingga menengah diprediksi menjadi incaran utama karena dianggap menawarkan keseimbangan yang pas antara risiko dan imbal hasil.

Untuk tenor panjang, pasar kemungkinan besar baru akan berminat jika pemerintah memberikan kompensasi yield yang lebih tinggi. “Seri tenor pendek dan menengah berpeluang paling diminati karena menawarkan keseimbangan antara imbal hasil dan risiko. Untuk tenor sangat panjang, investor kemungkinan akan meminta kompensasi yield yang lebih besar,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Yusuf menegaskan bahwa keberhasilan lelang ini nantinya lebih menunjukkan ketangguhan basis investor domestik dibandingkan pemulihan minat asing. Masa depan pasar obligasi nasional sangat bergantung pada stabilitas rupiah, kebijakan The Fed, dan sentimen global terhadap negara berkembang.

“Selama rupiah masih rentan dan ketidakpastian eksternal belum mereda, pemerintah kemungkinan masih harus membayar premi yield yang lebih tinggi untuk menjaga tingkat serapan surat utang,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Reporter: Akbar