MSCI Turunkan Skor Arus Informasi, IHSG Masih Dihantui Risiko Asing

Ilustrasi: MSCI menurunkan skor arus informasi Indonesia dari positif menjadi negatif. (Foto: NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 19 Juni 2026 | 17:17:02 WIB

JAKARTA – Analis menilai risiko utama pasar saham Indonesia saat ini bukanlah potensi kehilangan status sebagai emerging market, melainkan berlanjutnya diskon valuasi di tengah persepsi risiko investor global. IHSG diprediksi masih menghadapi tekanan aksi jual investor asing pasca-rilis laporan MSCI Global Market Accessibility ReviewJune 2026.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengungkapkan bahwa selama belum ada perbaikan signifikan pada aspek transparansi, kualitas free float, dan integritas pasar, investor asing berpotensi tetap mempertahankan posisi underweight terhadap Indonesia.

“Risiko utama bukanlah hilangnya status sebagai emerging market, melainkan kemungkinan bahwa diskon valuasi Indonesia akan bertahan lebih lama,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Dalam laporan tersebut, MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada aspek Information Flow dari “+” menjadi “-”. MSCI menyoroti terbatasnya transparansi struktur kepemilikan, kendala informasi perusahaan dalam bahasa Inggris, serta kekhawatiran terhadap kualitas free float dan investabilitas sejumlah saham.

Selain itu, MSCI menyoroti adanya indikasi praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu proses pembentukan harga yang wajar di pasar. Menurut Liza, poin tersebut menjadi perhatian penting karena menunjukkan bahwa MSCI mempertanyakan integritas proses price discovery di pasar modal Indonesia.

Meskipun demikian, Kiwoom menegaskan bahwa status Indonesia sebagai emerging market masih relatif aman. Indonesia masih mencatat skor baik pada berbagai indikator lain, seperti keterbukaan terhadap investor asing, regulasi, infrastruktur perdagangan, hingga ketersediaan instrumen investasi.

Tantangan Indonesia saat ini dinilai terfokus pada aspek tata kelola, transparansi, arus informasi, dan kualitas pembentukan harga, bukan pada ukuran pasar atau likuiditas. Kiwoom menilai peluang Indonesia diturunkan menjadi frontier market masih rendah karena Indonesia jauh lebih besar dibandingkan pasar frontier dari sisi kapitalisasi dan volume perdagangan.

Dampak yang lebih relevan dari temuan MSCI adalah meningkatnya risk premium terhadap pasar Indonesia. MSCI dinilai memperkuat narasi bahwa isu transparansi dan kualitas pembentukan harga menjadi hambatan bagi investor global untuk meningkatkan eksposur.

Kondisi ini tercermin dari masih tingginya arus keluar investor asing secara year-to-date serta perhatian terhadap struktur kepemilikan emiten yang pergerakan harganya dinilai belum sepenuhnya mencerminkan fundamental.

IHSG ditutup melemah 48,40 poin atau sebesar 0,78 persen ke level 6.172,34 pada Kamis (18/6/2026). IHSG telah menurun 28,62 persen secara year-to-date dengan net sell asing mencapai Rp65,05 triliun.

Reporter: Akbar