Akses Selat Hormuz Dibuka Kembali, Ini Saham RI yang Bakal Cuan

Seorang pengunjung mengambil gambar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: ANTARA)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 19 Juni 2026 | 14:12:41 WIB

JAKARTA - Akses Selat Hormuz yang kembali dibuka berpotensi memberikan dorongan positif untuk pasar keuangan dalam negeri, terutama melalui berkurangnya premi risiko geopolitik dan menurunnya tekanan pada harga energi global.

Berdasarkan hasil riset tanggal 18 Juni 2026, Analis Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim memaparkan bahwa pulihnya jalur distribusi minyak di salah satu rute logistik energi paling penting di dunia tersebut akan menjaga stabilitas suplai global, menurunkan harga energi, serta menekan beban pada anggaran fiskal, angka inflasi, dan nilai tukar rupiah.

“Pembukaan kembali Selat Hormuz dan penurunan premi risiko geopolitik memperbaiki prospek sektor domestik Indonesia melalui penurunan harga energi, penguatan rupiah, dan berkurangnya tekanan fiskal,” tulis Jeffrosenberg dalam risetnya, 18 Juni 2026.

Jeffrosenberg menekankan bahwa Indonesia sebagai negara importir bersih (net importer) energi akan langsung merasakan keuntungan dari penurunan harga minyak dunia.

Sepanjang tahun 2025, Indonesia tercatat mengimpor sekitar 362.000 barel minyak mentah setiap harinya dari mancanegara, di mana sebagian pasokan itu dikirim dari kawasan Timur Tengah yang jalurnya sempat terhambat di Selat Hormuz.

Pihak Maybank Sekuritas memperkirakan bahwa sektor usaha yang akan meraih keuntungan paling signifikan adalah saham-saham siklikal dalam negeri serta sektor yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga, khususnya perbankan dan properti, disusul oleh sektor konsumer, ritel, infrastruktur, dan utilitas.

Di bidang perbankan, Jeffrosenberg menilai bahwa penguatan mata uang rupiah dan terpangkasnya biaya energi akan membantu mengurangi tekanan beban pendanaan, sekaligus mendongkrak kualitas aset serta penyaluran kredit.

Beberapa emiten saham yang dinilai berpotensi mendapat berkah antara lain Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI).

Sektor barang konsumsi juga diprediksi akan mendapat sentimen positif berkat penurunan harga bahan baku serta biaya logistik pengiriman, termasuk emiten seperti KLBF, MYOR, dan INDF.

Sementara itu, emiten di sektor perdagangan ritel seperti ACES, MAPI, dan AMRT berpeluang mendulang untung seiring dengan membaiknya daya beli konsumen.

Untuk sektor lainnya, lini bisnis properti (SMRA, CTRA, BSDE, PWON) dianggap akan diuntungkan oleh meningkatnya daya beli masyarakat, sedangkan industri infrastruktur dan utilitas juga berpotensi menguat berkat turunnya ongkos energi.

Di sisi lain, Jeffrosenberg menilai industri minyak dan gas bumi menjadi sektor yang paling tertinggal dalam situasi ini, sebab normalisasi harga minyak mentah berisiko memangkas target pendapatan emiten.

Emiten seperti MEDC disebut sebagai pihak yang paling terdampak negatif. Sebaliknya, sektor pertambangan logam diproyeksikan bergerak netral cenderung positif.

Emiten seperti ANTM, AMMN, dan MDKA diperkirakan akan tertopang oleh efisiensi biaya energi serta operasional logistik, walau sebagian dampaknya berpotensi tertahan oleh pelemahan kurs dolar AS.

Secara umum, Maybank Sekuritas berpandangan bahwa dibukanya kembali Selat Hormuz semakin memperkuat rekomendasi investasi pada saham domestik siklikal dan sektor yang peka suku bunga, ketimbang saham di sektor komoditas.

Reporter: Ibtihal