MSCI Pertahankan Indonesia di Emerging Market, Simak Analisisnya
JAKARTA – Morgan Stanley Capital International tetap mempertahankan posisi Indonesia dalam kategori Emerging Market berdasarkan tinjauan Global Market Accessibility Review 2026 yang dirilis Jumat dini hari. Kondisi ini menegaskan bahwa pasar modal Indonesia tidak mengalami penurunan status menjadi Frontier Market.
Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, menilai keputusan MSCI ini selaras dengan fundamental ekonomi serta kondisi bursa yang masih relatif kuat. MSCI memiliki metodologi khusus dalam menentukan bobot suatu negara atau saham di dalam indeksnya.
MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan bagi banyak dana investasi pasif di dunia. Dana-dana tersebut berinvestasi berdasarkan komposisi indeks yang disusun MSCI, bukan semata-mata berdasarkan analisis fundamental masing-masing negara.
"Ya ini kan gini, MSCI itu adalah indeks provider, nah mereka menjadi acuan banyak passive fund, passive fund itu mereka masuk ke satu negara mengikuti indeks, jadi mereka tidak dalam aspek fundamental yang mereka lihat 100 persen, tapi mereka percayakan pada indeks provider tadi," ujar Hans, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Metodologi yang digunakan MSCI berfungsi untuk menghitung porsi suatu negara atau emiten dalam indeks acuan investor global. Jika posisi Indonesia dalam indeks turun, hal itu lebih berdampak pada pengurangan bobot dalam indeks sehingga berpotensi memengaruhi alokasi dana investor.
Namun, kondisi tersebut tidak mengindikasikan memburuknya fundamental ekonomi atau kinerja perusahaan di Indonesia. Perubahan bobot lebih merupakan konsekuensi dari penyesuaian teknis berdasarkan kriteria dan formula yang ditetapkan oleh MSCI.
"Nah kalau seandainya kami tertekan turun, ya itu berarti ada potensi bobot kami berkurang, nah sebagai catatan bahwa fundamental kami nggak berubah, cuma ini adalah teknis perhitungan metodologi indeks saja yang menyebabkan hal itu terjadi," papar Hans, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Hans sejak awal meyakini Indonesia tidak akan turun ke kategori Frontier Market. Hal itu didorong oleh ukuran ekonomi dan pasar modal Indonesia yang masih jauh lebih besar dibandingkan dengan banyak negara berkembang lainnya.
"Kenapa saya bilang kami tidak akan turun ke Frontier Market? Pertama, karena size ekonomi dan size pasar kami. Semua kondisi yang ada menunjukkan Indonesia akan tetap berada di Emerging Market," pungkas dia, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Baginya, kontraksi pasar modal sebelumnya tidak rasional karena dipengaruhi oleh sentimen eksternal, bukan perubahan fundamental ekonomi atau kinerja emiten. Tekanan pasar saat itu terutama dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.
"Saya menyampaikan penurunan pasar tidak rasional. Kenapa tidak rasional? Penurunan pasar driven oleh konflik di Timur Tengah yang berimbas pada kelangkaan pasokan minyak, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar sebagai safe haven," ucap Hans, sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Sentimen negatif tersebut mereda setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman. Selain itu, potensi normalnya jalur distribusi energi di Selat Hormuz turut mendorong penurunan harga minyak dunia.
Sentimen negatif lain yang membayangi pasar keuangan domestik adalah prospek suku bunga yang lebih tinggi. Sejumlah bank sentral dunia telah memulai atau melanjutkan pengetatan moneter untuk meredam inflasi yang tinggi.
Dari sisi domestik, Hans menilai kekhawatiran investor sempat muncul karena menyusutnya surplus perdagangan yang dipicu tingginya impor bahan bakar minyak. Dengan penurunan harga minyak dunia, impor energi diperkirakan berkurang sehingga neraca perdagangan berpotensi membaik.
Selain itu, pasar sempat dibayangi isu ekspor satu pintu lewat Danantara yang telah dijelaskan pemerintah sebagai persoalan administratif. Hans menegaskan bahwa isu penurunan peringkat ke Frontier Market tidak akan terjadi.
Hans juga menyinggung kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan peringkat utang Indonesia oleh Standard & Poor’s. Berdasarkan informasi yang diperoleh, Standard & Poor’s justru memandang positif prospek Indonesia sehingga tidak terjadi perubahan peringkat.
Terkait tata kelola Badan Usaha Milik Negara dan Danantara, Hans menilai pemerintah perlu menjaga independensi pengelolaan perusahaan. Pemerintah juga diharapkan menjelaskan strategi bisnis ke depan secara lebih terbuka kepada investor.
Di sisi fiskal, pemerintah berencana mengevaluasi berbagai program seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih untuk mengantisipasi pelebaran defisit anggaran. Langkah tersebut membuat sentimen pasar menjadi relatif lebih positif.
"Dengan perkembangan itu, sentimen pasar menjadi relatif lebih positif. Jadi, kalau kami lihat, pelemahan pasar saat ini sebenarnya normal karena pasar global juga sedang melemah. Tidak seperti sebelumnya ketika pasar global naik, tetapi Indonesia justru turun sendiri," kata Hans, sebagaimana dilansir dari sumber berita.