Investasi Sektor Tersier Dominasi Ekonomi di Gading Serpong

ILUSTRASI, Summarecon Serpong (Sumber Gambar : Net)Acara Liburan & Musiman
Rabu, 17 Juni 2026 | 14:20:49 WIB

JAKARTA – Gading Serpong saat ini semakin memperkuat posisinya yang mengalami peralihan fungsi dari wilayah pemukiman menjadi salah satu pusat area bisnis baru. Pesatnya pertumbuhan dunia usaha, kehadiran berbagai bisnis baru, serta tingginya permintaan terhadap ruang usaha menjadi alasan utama di balik pengembangan Serpong Central Business District (CBD) dengan proyek City Gate sebagai salah satu penopang utamanya.

Sepanjang tahun 2025, nilai realisasi investasi di kawasan Kabupaten Tangerang berhasil mencapai Rp 37,62 triliun. 

Dari keseluruhan angka tersebut, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menyumbang sebesar Rp 11,78 triliun, sementara sektor perdagangan dan reparasi berkontribusi sebesar Rp 4,86 triliun. 

Sektor tersier yang mencakup bidang jasa, perdagangan, logistik, serta properti mendominasi aktivitas dengan persentase hingga 57,9% dan berhasil menjadi motor penggerak utama perekonomian daerah.

Gairah sektor komersial di kawasan ini juga ditunjukkan dengan dibukanya 1.464 unit usaha baru sepanjang tahun 2025. Kondisi ini mencerminkan tren kenaikan permintaan ruang usaha, terutama untuk sektor ritel, kuliner, jasa profesional, serta bidang bisnis yang memerlukan kedatangan pengunjung secara langsung.

Head of Research & Consulting CBRE Anton Sitorus menilai bahwa pertumbuhan kawasan komersial di Gading Serpong merupakan bagian dari siklus alami dalam perkembangan properti. 

Suatu wilayah yang awalnya berfungsi sebagai tempat tinggal lambat laun akan beralih ke fungsi lain seiring bertambahnya populasi, tingginya mobilitas, serta kebutuhan akan fasilitas pendukung.

“Pertumbuhan ini terbilang normal. Siklus pengembangan properti diawali dengan hunian, lalu kantor, ruko, hotel, dan seterusnya,” kata dia dalam keterangannya dikutip, Rabu (1/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Anton menjelaskan, wilayah Tangerang, termasuk Serpong dan Gading Serpong, sudah lama menempatkan diri sebagai wilayah penyangga Jakarta yang tumbuh sangat masif. 

Proses pembangunan tersebut didukung oleh kualitas hunian, perencanaan tata ruang yang matang dari pihak pengembang, serta akses konektivitas antarwilayah.

Menurut pandangannya, beberapa perusahaan pengembang memiliki rencana pembangunan yang terstruktur dengan baik, sementara masyarakat melihat kawasan barat seperti Serpong mempunyai potensi yang sangat besar. Ia juga mengingatkan bahwa tingginya harga tanah di kota Jakarta membuat kawasan penyangga menjadi pilihan alternatif yang jauh lebih ekonomis.

Sejalan dengan tren tersebut, Summarecon Serpong sedang menyiapkan Serpong CBD untuk menjadi pusat perputaran aktivitas bisnis baru di area Gading Serpong. 

Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur menyampaikan bahwa pembangunan kawasan ini diwujudkan untuk memenuhi pergeseran kebutuhan ruang usaha yang saat ini semakin beragam.

Menurut dia, para pelaku usaha masa kini tidak hanya membutuhkan tempat operasional semata, tetapi juga mencari lokasi dengan visibilitas tinggi, kemudahan akses, ketersediaan fasilitas pendukung, serta ruang yang mampu meningkatkan citra identitas dari merek mereka. 

Kebutuhan-kebutuhan mendasar inilah yang menjadi landasan utama perancangan kawasan City Gate di Summarecon Serpong.

Proyek City Gate sendiri dibangun di atas lahan seluas 40 hektare dan diposisikan sebagai pintu gerbang utama menuju Serpong CBD. 

Area ini mempunyai akses langsung yang terhubung dengan Gading Serpong Boulevard, Symphonia Boulevard, serta City Gate Boulevard, ditambah kemudahan akses menuju Tol Jakarta–Tangerang, Tol Serpong–Balaraja, serta rencana jalur akses Melody–Diklat Pemda. 

Melalui keunggulan letak geografis ini, City Gate menjadi etalase bisnis utama Gading Serpong yang berada tepat di jalur lintasan penghubung antara Summarecon Serpong, BSD, Alam Sutera, dan Lippo Karawaci, sehingga berpotensi besar menarik pergerakan arus pengunjung dari berbagai wilayah.

Albert Luhur mengatakan, City Gate dirancang untuk berbagai kebutuhan usaha, mulai dari kantor, showroom, layanan profesional, klinik, F&B, hingga bisnis berbasis kunjungan, sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Pengembangan area ini menyediakan bangunan siap pakai maupun kavling komersial yang bentuknya dapat disesuaikan kembali dengan kebutuhan para pemilik bisnis.

Produk yang menjadi andalan utama adalah City Gate Office Suites, yaitu sebuah bangunan setinggi enam lantai dengan spesifikasi luas tanah 220–264 meter persegi dan total luas bangunan mencapai 1.337 meter persegi, yang telah dilengkapi fitur double facade, outdoor mezzanine, serta frontage yang menghadap ke arah jalan boulevard utama. 

Selain itu, tersedia pula City Gate Graha yang berbentuk bangunan setinggi lima lantai dengan spesifikasi luas tanah 108–153 meter persegi (m2) dan luas bangunan sebesar 453–603 m2, yang memiliki frontage ke arah Symphonia Boulevard dan sengaja dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan bisnis berskala lebih besar.

City Gate Graha ditujukan untuk showroom, kantor, layanan profesional, dan bisnis berbasis kunjungan, sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Penerapan format bangunan lima lantai ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi para pelaku usaha untuk mengatur dan mengembangkan fungsi setiap ruangan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Proyek City Gate ini juga menawarkan area kavling komersial yang memberikan kebebasan bagi pemiliknya untuk merancang desain, tampilan fasad, kapasitas, hingga sistem alur operasional yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing bisnis. 

Untuk mendukung kelancaran aktivitas para penyewa dan pengunjung, area modern ini juga dilengkapi dengan 5-layer parking space, terutama demi menunjang sektor usaha yang sangat bergantung pada kehadiran pengunjung secara langsung seperti bisnis F&B, fasilitas klinik, serta showroom.

Reporter: Gemilang Ramadhan