Harga Batu Bara Ambruk 8,8 Persen Akibat Tekanan Minyak Dunia

Seorang memperlihatkan batu bara di tangannya. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 17 Juni 2026 | 14:19:56 WIB

JAKARTA - Tren penguatan nilai komoditas batu bara yang sempat melonjak pada pertengahan Juni harus menyudahi fasenya lebih kilat dari estimasi semula.

Dalam kurun waktu tiga hari perdagangan pamungkas, nilai batu bara terkoreksi cukup dalam hingga menyentuh 8,8 persen, dipicu oleh ambruknya harga minyak internasional serta berlebihnya ketersediaan stok di pasar China.

Pada sesi perdagangan Selasa (16/6/2026), batu bara mendarat dan ditutup pada posisi USD135,5 per ton, atau terkikis 1,09 persen jika disandingkan dengan hari kemarin.

Posisi nominal tersebut tercatat merosot tajam dari rekam jejak tertingginya yang sempat menggapai USD148,5 per ton pada 12 Juni 2026.

Kemerosotan nilai batu bara terjadi selaras dengan melemahnya harga minyak mentah internasional sesudah meredanya perselisihan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pelaku pasar menyambut positif kesepakatan damai temporer antara pihak Amerika Serikat dan Iran yang membuka peluang lancarnya kembali distribusi pasokan energi global, termasuk rencana dibukanya lagi akses Selat Hormuz.

Berikut data penurunan harga komoditas energi dunia pada perdagangan terakhir: Harga Batu Bara: USD135,5 per ton (Turun 1,09%) Minyak Mentah Brent: USD78,96 per barel (Turun 5,06%) Minyak Mentah WTI AS: USD76,05 per barel (Turun 5,82%)

Kejadian ini menandai momen pertama kalinya bagi kedua kontrak instrumen minyak tersebut berakhir di bawah batas US$80 per barel sejak memasuki awal Maret lalu.

Selaku produk substitusi, dinamika pergerakan harga minyak kerap memberikan pengaruh bagi pasar batu bara. Di saat nilai minyak merosot tajam, tingkat ketertarikan batu bara sebagai opsi energi alternatif ikut menyusut sehingga memicu tekanan pada harga jualnya.

Di samping faktor energi internasional, sektor pasar batu bara juga dibebani oleh kondisi domestik di China yang memegang peran sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia.

Saat ini, sektor impor batu bara termal berkalori rendah tengah dihadapkan pada situasi kelebihan pasokan, terkhusus suplai yang datang dari Indonesia.

Laporan dari para pelaku pasar mengindikasikan bahwa cadangan batu bara di deretan pelabuhan area selatan China terpantau masih sangat gemuk.

Situasi tersebut memaksa para pemasok menyodorkan potongan harga demi mempercepat jalannya proses transaksi sekaligus menghindari beban biaya tambahan akibat kapal yang terlalu lama bersandar menunggu giliran bongkar muat.

Kondisi pelik tersebut memicu harga batu bara asal Indonesia di pasar ekspor berada di posisi tertekan. Apalagi, tingkat serapan dari sektor pembangkit listrik maupun industri di China belum memperlihatkan kenaikan yang berarti.

Volume produksi batu bara domestik China yang bertahan di level tinggi kian mengikis keperluan aktivitas impor. Imbasnya, gairah terhadap batu bara dari negara penyuplai, termasuk Indonesia, tidak berjalan sekuat tahun kemarin.

Walau begitu, sebagian dari pelaku pasar masih mendeteksi adanya peluang perbaikan harga pada paruh kedua tahun 2026.

Mereka mengestimasikan pasokan dapat mengetat apabila muncul kendala operasional produksi di beberapa area pertambangan atau melonjaknya keperluan energi saat menyentuh puncak musim konsumsi.

Pada segmen batu bara metalurgi atau batu bara kokas, tren penguatan harga pun mulai mendapati hambatan.

Usai membukukan kenaikan tujuh kali berturut-turut, para pelaku industri baja di China mulai menyuarakan penolakan terhadap rencana kenaikan harga lebih lanjut lantaran batas margin laba mereka terus tergerus.

Lonjakan nilai batu bara kokas sebelumnya dipicu oleh tipisnya pasokan coking coal, kendala operasional tambang, serta naiknya ongkos bahan baku. Namun, lesunya tingkat permintaan baja membuat celah kenaikan harga menjadi kian sempit.

Bagi Indonesia, melemahnya nilai komoditas batu bara menjadi perhatian serius lantaran produk ini masih bertindak sebagai salah satu pilar penyumbang utama devisa ekspor negara.

Jika tren penurunan ini terus bergulir, kinerja fundamental emiten pertambangan serta pundi-pundi penerimaan negara dari sektor mineral dan batu bara berisiko turut terdampak pada paruh kedua tahun ini.

Reporter: Ibtihal