Sektor Ritel Tetap Kinclong Didorong Potongan Harga dan Program MBG

ILUSTRASI, orang belanja (Sumber Gambar : Net)Acara Liburan & Musiman
Senin, 15 Juni 2026 | 13:36:32 WIB

JAKARTA – Prospek kinerja emiten ritel yang tercatat di bursa saham diperkirakan bakal terus berkilau meskipun perayaan Lebaran 2026 telah usai. Munculnya berbagai stimulus baru menjadi pemicu utama, seperti agresifnya program potongan harga dari para pelaku ritel, pemulihan angka same store sales growth (SSSG), hingga terangkatnya daya beli masyarakat berkat kucuran dana pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sejumlah emiten ritel terlihat sangat gencar memberikan potongan harga sepanjang periode April hingga Juni 2026. Salah satunya adalah PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) yang menggelar diskon hingga 50 persen sejak April sampai awal Juni.

Langkah serupa dilakukan oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) lewat gerai Marks & Spencer yang menyajikan diskon terbatas hingga 50 persen, serta PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) yang kembali menggulirkan promo tahunan Boom Deals pada permulaan Juni.

Melalui laporan riset tanggal 12 Juni 2026, analis Christy Halim dan Sabela Nur Amalina dari BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan adanya tren peningkatan penjualan pada beberapa emiten ritel selama bulan April dan Mei 2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Meskipun kami mengakui adanya kekhawatiran terkait melemahnya permintaan setelah musim perayaan Lebaran, kami melihat tanda-tanda pemulihan yang berkelanjutan pada SSSG MIDI sebagai peritel kebutuhan pokok," ujarnya, dikutip Minggu (14/6/2026).

Berdasarkan data tim analis, PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) membukukan SSSG sebesar 1,1 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada April 2026. 

Pencapaian ini berbalik positif jika dibandingkan dengan April 2025 yang sempat terkontraksi minus 14,8 persen YoY. Bahkan pada Mei 2026, angka tersebut melonjak ke level 7,15 persen. 

Di sisi lain, ACES mengantongi SSSG 2,4 persen YoY pada April 2026. Kendati melambat akibat pergeseran periode Lebaran, hasil ini masih berada di koridor target manajemen sebesar 2 persen sampai 4 persen.

Optimisme investor terhadap industri ritel ini juga tercermin lewat pergerakan harga sahamnya. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), saham MIDI tercatat menguat 11,94 persen dalam tiga bulan terakhir, sementara saham MAPI melesat hingga 27,35 persen. 

Kenaikan kedua saham tersebut berada jauh di atas performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru merosot 18,70 persen pada periode yang sama.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Di sektor ritel, dana domestik sedikit meningkatkan eksposur mereka dalam satu bulan terakhir, terutama pada MAPI and MAPA. Kami meyakini hal ini terutama didorong oleh membaiknya sentimen investor karena harga saham MAPI diperdagangkan lebih dekat ke harga mandatory tender offer (MTO) sebesar Rp1.550," ujarnya.

Sementara itu, pergerakan harga saham ACES dan MIDI terpantau cenderung stabil tanpa banyak fluktuasi dalam tiga bulan terakhir.

Terkait aliran dana asing, saham ACES menjadi yang paling banyak dilepas oleh investor asing sepanjang tahun berjalan (year-to-date). 

Sebaliknya, pemodal luar negeri tampak lebih selektif dengan menambah kepemilikan di saham MIDI, serta mempertahankan porsi yang relatif stabil di MAPI dan MAPA.

Meski demikian, beberapa tantangan tetap membayangi industri ritel. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta tingginya ketidakpastian makroekonomi diproyeksikan dapat mengganggu daya beli masyarakat dan menahan belanja untuk barang non-primer.

Kendati begitu, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor ritel. Mereka menilai penurunan valuasi (de-rating) sektor ini sudah maksimal, dengan rasio price to earnings (PE) estimasi tahun 2026 sebesar 10,1 kali, atau berada di posisi minus 1,5 standar deviasi dari rata-rata tiga tahun.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami menilai valuasi PE saat ini sudah mencerminkan sebagian besar kekhawatiran terkait kondisi makro dan konsumsi yang ada. Kami kembali menegaskan MIDI dengan rekomendasi buy target harga Rp500 sebagai pilihan utama kami di sektor ini," ujar analis.

Saat ini, saham MIDI ditransaksikan dengan valuasi PE sebesar 11 kali. Selain MIDI, BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan beli (buy) untuk saham MAPA dengan target harga Rp800, MAPI dengan target harga Rp1.400, serta ACES dengan target harga Rp450.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami tetap konstruktif terhadap model bisnis defensif yang berfokus pada kebutuhan pokok, yang memberikan visibilitas laba yang lebih baik di tengah kondisi konsumsi yang lebih lemah, prospek pertumbuhan yang lebih tangguh, serta potensi ekspansi margin," pungkasnya.

Di sudut lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjagokan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) sebagai pilihan utama di sektor ritel. 

Pihaknya menyarankan investor untuk melakukan akumulasi beli (accumulate buy) dengan target harga bertahap di Rp1.490, Rp1.670, dan Rp1.795.

Nafan menilai AMRT berhasil meningkatkan daya saing melalui integrasi ekosistem digital Alfagift. Strategi tersebut diyakini mampu meningkatkan rata-rata nilai transaksi belanja pelanggan serta menciptakan pendapatan berulang via program loyalitas konsumen.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Pertumbuhan gerai baru yang difokuskan ke luar Pulau Jawa dan wilayah sub-urban juga menjadi motor penggerak pertumbuhan pendapatan (revenue growth) yang konsisten di kisaran high single digit," terang Nafan.

Sementara itu, Analis IPOT Sekuritas, Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan, memaparkan bahwa total penjualan emiten ritel secara keseluruhan pada kuartal I/2026 sukses tumbuh 12,8 persen YoY. 

Realisasi ini melampaui rata-rata pertumbuhan lima tahunan yang berada di angka 11,5 persen YoY, sekaligus melanjutkan tren pemulihan dari pertumbuhan kuartal IV/2025 sebesar 11,8 persen YoY.

MAPI berhasil mencatatkan SSSG mencapai 13,3 persen YoY pada kuartal I/2026 yang didorong oleh tingginya animo masyarakat terhadap gawai iPhone 17. 

Di sisi lain, ACES membukukan SSSG 4,3 persen YoY berkat dorongan momentum Lebaran yang lebih kuat. Sementara AMRT mencetak SSSG 6,2 persen YoY, walaupun capaian ini lebih rendah dari kuartal I/2025 yang sempat menyentuh 8,6 persen YoY.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Secara keseluruhan, kami melihat bahwa Lebaran 2026 lebih kuat dibanding 2025, sebagaimana tercermin dari SSSG peritel yang lebih tinggi pada kuartal I/2026. Dari sisi profitabilitas, laba MAPI pada kuartal I juga berada di atas ekspektasi, laba AMRT sesuai ekspektasi, sedangkan laba ACES berada di bawah ekspektasi," ujar analis.

Analis IPOT memprediksi kinerja sektor ritel pada April 2026 masih akan solid seiring pulihnya konsumsi masyarakat, yang juga ditopang oleh stimulus pengeluaran negara melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Namun demikian, kami menilai bahwa harga minyak yang tetap tinggi dalam jangka panjang dapat menjadi risiko bagi pertumbuhan SSSG peritel, terutama jika pemerintah menaikkan harga Pertamax, karena hal tersebut berpotensi berdampak negatif terhadap konsumsi dan pada akhirnya menekan SSSG peritel," ujarnya dalam riset.

Sebagai panduan investasi, IPOT Sekuritas memberikan peringkat beli (buy) untuk saham ACES dengan target harga Rp660, MAPI dengan target harga Rp1.600, serta AMRT dengan target harga Rp2.600.

Reporter: Gemilang Ramadhan