KOSPI dan Nikkei Melompat, Sentimen AI Dongkrak Pasar Asia

Bursa Asia Bergerak Beragam, Pasar Cermati Sentimen AI. (Foto: Reuters)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 10 Juni 2026 | 12:02:13 WIB

JAKARTA – Bursa saham di kawasan Asia memulai transaksi di zona hijau pada Rabu, 10 Juni 2026. Indeks KOSPI milik Korea Selatan serta Nikkei 225 dari Jepang mencatatkan penguatan di awal sesi perdagangan, sementara indeks Hang Seng di Hong Kong terpantau masih tertahan di zona merah.

Di wilayah China daratan, indeks Shanghai Composite turut menunjukkan pergerakan naik. Berdasarkan data transaksi bursa, indeks KOSPI memulai perdagangan pada posisi 7.697,76, melonjak dari sesi penutupan sebelumnya yang berada di level 7.484,41. Di sepanjang sesi awal pasar, indeks ini sempat merangkak naik ke posisi tertinggi 8.119,09 dan merosot ke titik terendah 7.598,87. 

Aksi beli bersih saham di sektor teknologi dan semikonduktor yang kembali diminati oleh para pemodal menjadi pemicu menguatnya indeks KOSPI. Antusiasme positif terhadap industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tetap menjadi salah satu penopang utama laju pergerakan pasar di Korea Selatan.

Menurut Reuters, Senin, 8 Juni 2026, tekanan yang sempat dialami KOSPI pada sesi terdahulu disebabkan oleh koreksi massal saham chip dunia setelah laporan data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang solid memperkuat prediksi bahwa tingkat suku bunga tinggi akan dipertahankan dalam durasi yang lebih lama. 

Pada momen tersebut, saham Samsung Electronics anjlok 10,2 persen serta SK Hynix jatuh 7,7 persen. Kendati demikian, pada sesi transaksi berikutnya, rasa optimis terhadap prospek sektor industri AI kembali mendongkrak ketertarikan para penanam modal.

Melansir Business Insider, Selasa, 9 Juni 2026, atmosfer positif ini merebak setelah CEO Nvidia Jensen Huang mengutarakan bahwa koreksi di sektor semikonduktor merupakan sebuah kesempatan untuk membeli, sekaligus menegaskan kembali komitmen kemitraan perusahaannya dengan jajaran sekutu teknologi di Korea Selatan. 

Sementara di Jepang, indeks Nikkei 225 juga dibuka melompat ke level 64.625,26 dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka 64.024,60. Indeks ini sempat menyentuh posisi paling tinggi di 65.485,16 dan posisi paling rendah di 63.918,96 pada sesi perdagangan pagi hari. 

Laju penguatan Nikkei ditopang oleh bangkitnya kembali saham-saham di sektor teknologi serta dorongan dari pelemahan nilai tukar yen yang masih memberikan profit bagi sektor korporasi eksportir Jepang.

Reuters dalam jajak pendapat pasar yang dipublikasikan pada 26 Mei 2026 memaparkan bahwa tren reli di bursa saham Jepang masih disokong oleh rasa optimis terhadap teknologi AI, performa emiten yang kokoh, serta harapan akan meredanya tensi geopolitik internasional. 

Di sisi lain, indeks Hang Seng Hong Kong mengawali sesi di posisi 24.551,93, melemah apabila dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level 24.657,06. Indeks ini sempat bergulir menuju level tertinggi 24.740,65 dan menyentuh level terendah 24.486,39. Langkah Hang Seng masih dibayangi oleh tekanan yang melanda sektor finansial, ritel, hingga energi.

Meskipun beberapa saham berbasis teknologi mencatatkan kenaikan, sentimen dari laju pemulihan ekonomi China yang dinilai belum merata masih menahan laju penguatan indeks secara keseluruhan. 

South China Morning Post dalam laporan sebelumnya menyebutkan bahwa para pelaku pasar masih menanti dampak dari penyegaran struktur index teknologi Hong Kong yang kini mulai mengikutsertakan korporasi AI domestik seperti MiniMax Group serta Zhipu AI. 

Untuk wilayah China daratan, indeks Shanghai Composite mengawali perdagangan di level 3.977,54, bergerak lebih tinggi daripada penutupan sebelumnya di angka 3.959,34. Indeks tersebut selanjutnya bergerak pada kisaran 3.955,91 sampai dengan 4.010,87 di sesi awal transaksi.

Menukil Reuters, Selasa, 9 Juni 2026, atmosfer positif di pasar saham China disokong oleh laporan data perdagangan yang mencatatkan hasil di atas estimasi. Sektor ekspor China pada periode Mei dilaporkan tumbuh sebesar 19,4 persen secara tahunan (year-on-year), sedangkan untuk sektor impor melonjak 27,4 persen jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun terdahulu. 

Financial Times lewat pemberitaan tanggal 9 Juni 2026 mengungkapkan bahwa lonjakan aktivitas ekspor ini didorong oleh tingginya angka permintaan pasar global terhadap produk-produk berbasis teknologi, tidak terkecuali semikonduktor serta peranti pemrosesan data yang bertalian erat dengan ekspansi AI.

Fokus para penanam modal saat ini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar dalam waktu dekat. Data tersebut dipandang sebagai indikator krusial dalam membaca arah kebijakan suku bunga acuan dari bank sentral Federal Reserve (The Fed). 

Melansir Reuters, Selasa, 9 Juni 2026, koreksi pada indeks Nasdaq sebesar 0,97 persen serta penurunan indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) senilai 1,9 persen mengindikasikan bahwa investor mulai mengkaji ulang valuasi dari saham-saham AI pascareli masif yang berlangsung di sepanjang tahun ini. 

Walau begitu, pembukaan bursa saham di wilayah Asia memperlihatkan bahwa daya tarik investor pada sektor teknologi dan AI terhitung masih sangat kuat, terkhusus di kawasan Korea Selatan serta Jepang. 

Di sudut lain, pasar saham Hong Kong masih kudu menghadapi hambatan dari dinamika internal, sementara para pelaku pasar di China daratan terus memantau proyeksi pemulihan ekonomi serta perdagangan internasional.

Reporter: Ibtihal