Saham Teknologi Tertekan, Wall Street Berakhir Bervariasi
JAKARTA – Mayoritas indeks saham Wall Street mengakhiri sesi perdagangan Selasa (9/6/2026) dengan pelemahan. Indeks Nasdaq serta S&P 500 mengalami koreksi seiring hilangnya momentum kenaikan pada saham-saham semikonduktor, sementara Dow Jones Industrial Average masih sanggup bertahan di zona hijau.
S&P 500 merosot 0,26 persen ke posisi 7.386,65, sedangkan Nasdaq Composite terdepresiasi 0,97 persen menjadi 25.678,82. Di sisi lain, Dow Jones justru menguat 86,10 poin atau 0,17 persen menuju level 50.872,11, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Tekanan pada bursa didominasi oleh sektor teknologi, terutama saham produsen chip yang kembali terkena aksi jual setelah sempat menguat pada hari sebelumnya. iShares Semiconductor ETF (SMH) terpantau turun 1 persen setelah sempat melesat sekitar 6 persen pada perdagangan Senin.
Sebelumnya, ETF tersebut sempat jatuh 10 persen pada Jumat lalu, yang merupakan penurunan harian terdalam dalam enam tahun terakhir, dipicu kekhawatiran terhadap valuasi saham chip yang dianggap terlalu tinggi akibat euforia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Saham Micron Technology terkoreksi 1 persen setelah sempat melompat 10 persen di hari sebelumnya. Pada pekan lalu, saham perusahaan tersebut sempat anjlok sekitar 20 persen dalam dua hari perdagangan. Sementara itu, Broadcom juga melemah 1 persen setelah upaya pemulihannya tidak berlanjut.
Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia sempat membawa sentimen positif. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,4 persen dan ditutup pada US$ 88,20 per barel.
Penyusutan harga minyak terjadi pasca Menteri Energi Amerika Serikat (AS), Chris Wright, menyampaikan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalami peningkatan signifikan.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh komentar Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran kemungkinan tercapai dalam kurun waktu dua hingga tiga hari ke depan, sehingga jalur pelayaran strategis tersebut bisa kembali beroperasi normal.
Walaupun saham sektor energi dalam indeks S&P 500 melemah 1,6 persen, sektor barang konsumsi nonprimer dan sektor material justru memimpin penguatan. Saham sektor properti juga menguat setelah data penjualan rumah bekas di AS melampaui ekspektasi pasar. Sebaliknya, sektor teknologi informasi mengalami tekanan paling berat dengan penurunan hampir 2 persen.
Jay Hatfield, Chief Executive Officer Infrastructure Capital Advisors, berpendapat bahwa investor kini mulai mengalihkan portofolio dari saham pertumbuhan teknologi jangka panjang menuju saham-saham siklikal yang diuntungkan oleh perbaikan aktivitas ekonomi global.
Menurutnya, sentimen pasar juga terpengaruh oleh rencana penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX yang dijadwalkan pada akhir pekan ini. "Saya melihat investor masih cenderung berhati-hati. Pergerakan pasar kemungkinan akan tetap berfluktuasi hingga IPO SpaceX selesai dilaksanakan," ujar Hatfield, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain itu, OpenAI dilaporkan telah menyerahkan dokumen IPO secara rahasia pada Senin (8/6/2026), yang turut memicu antusiasme investor terhadap tema investasi berbasis AI.
IPO SpaceX sendiri diprediksi bakal menjadi penawaran saham perdana terbesar sepanjang sejarah dengan valuasi mencapai sekitar US$ 1,75 triliun. Sejumlah investor beranggapan bahwa aksi korporasi ini mampu memperpanjang reli saham AI, meski pihak lain khawatir bahwa IPO perusahaan raksasa tersebut justru menjadi sinyal puncak euforia di sektor teknologi.