Harga Emas Global Flat di USD4.330, Tertahan Isu Suku Bunga

Ilustrasi Emas Batangan. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 09 Juni 2026 | 13:33:16 WIB

JAKARTA - Harga komoditas emas di pasar global terpantau bergerak flat pada hari Senin (8/6/2026) menyusul adanya prospek perdamaian antara pihak Israel dan Iran yang membantu logam mulia tersebut bangkit dari titik terendah intraday.

Akan tetapi, rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang mencatatkan performa kuat memicu kenaikan prediksi terkait peningkatan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) sehingga menghambat laju penguatan harga emas.

Nilai emas spot ditutup stagnan pada posisi USD4.330,06 per troy ons, setelah sempat merosot ke level paling rendah sejak 23 Maret di awal pembukaan sesi perdagangan.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa baik Israel maupun Iran saat ini sama-sama menginginkan adanya "gencatan senjata segera" serta proses negosiasi akhir menuju tercapainya perdamaian tengah berlangsung.

"Kami berhasil bangkit dari level terendah di pasar luar negeri setelah muncul kabar bahwa mungkin akan ada gencatan senjata baru antara Iran dan Israel. Berita itu sedikit mengurangi tekanan penurunan harga," kata Wakil Presiden sekaligus Strategis Senior Logam di Zaner Metals, Peter Grant, seperti dikutip Reuters.

Secara tradisional, emas kerap digunakan sebagai instrumen lindung nilai ketika terjadi eskalasi geopolitik.

Namun, tercapainya kesepakatan damai berpotensi menurunkan ancaman inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi, sekaligus mengurangi urgensi bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga di level yang tinggi.

Tingkat suku bunga yang berada di posisi tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi instrumen emas karena tidak memberikan imbal hasil.

Tren kenaikan emas pun terganjal oleh keperkasaan mata uang dolar AS yang bertahan di dekat posisi tertingginya dalam kurun waktu hampir dua bulan.

Penguatan mata uang ini terjadi pascarilis laporan sektor tenaga kerja AS pada pekan lalu yang menunjukkan kinerja di atas ekspektasi, sehingga memicu estimasi adanya kenaikan suku bunga acuan di akhir tahun.

Dolar AS yang semakin perkasa menyebabkan komoditas yang ditransaksikan menggunakan mata uang tersebut menjadi lebih mahal harganya bagi para pemilik mata uang lain.

Berdasarkan indikator FedWatch milik CME Group, para pelaku pasar sekarang memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada bulan Desember mendatang mencapai angka 43 persen, melesat signifikan dari posisi 14 persen pada sebulan yang lalu.

Para investor selanjutnya menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada hari Rabu serta Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis guna menggali petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

Pada perkembangan lain, pihak Citi melakukan pemangkasan target nilai emas dalam jangka pendek ke level USD4.000 per troy ons dari posisi sebelumnya di angka USD4.300 per troy ons.

Langkah koreksi penurunan ini didasari oleh prediksi tingkat suku bunga AS yang lebih tinggi pada tahun ini sebagai dampak dari ketegangan di Selat Hormuz serta mahalnya harga energi.

Untuk komoditas logam mulia sejenis, nilai perak spot terpantau naik 0,6 persen ke posisi USD68,22 per ons.

Sementara itu, platinum tercatat turun 1,6 persen menuju angka USD1.747,76 per ons dan paladium mengalami penyusutan sebesar 1,7 persen ke level USD1.205,73 per ons.

Reporter: Ibtihal