Minyak Dunia Melemah Dua Hari, Brent dan WTI Kompak Terkoreksi

Ilustrasi Ladang Minyak. Foto: (Pixabay)
Penulis: Ibtihal
Senin, 08 Juni 2026 | 15:46:37 WIB

JAKARTA — Nilai transaksi minyak internasional kembali merosot pada sesi penutupan pekan lalu, seiring dengan mulai menyusutnya kekhawatiran para pelaku industri terhadap risiko meluasnya perseteruan di wilayah Timur Tengah serta menguatnya posisi nilai tukar dolar AS setelah rilis data lapangan kerja Amerika Serikat (AS) melompat di atas estimasi.

Pada sesi transaksi Jumat (5/6/2026), harga minyak mentah tipe Brent menyudahi perdagangan dengan penurunan sebesar 2,04 persen menuju level USD93,09 per barel, setelah pada sesi sebelumnya juga telah melewati koreksi sebanyak 2,84 persen.

Di sisi lain, komoditas minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS dikabarkan terperosok hingga 2,69 persen ke posisi USD90,54 per barel, yang memperpanjang tren pelemahan setelah anjlok sebesar 3,1 persen pada hari sebelumnya.

Analis dari FXEmpire, Vladimir Zernov, menilai bahwa tekanan terhadap harga minyak dipicu oleh perpaduan antara keperkasaan indeks dolar AS serta menebalnya optimisme pelaku pasar bahwa AS dan Iran pada akhirnya akan menyepakati poin perdamaian yang dapat meminimalisasi risiko terhambatnya distribusi minyak dunia.

Mata uang dolar AS terpantau bergerak kuat setelah pengumuman data Non-Farm Payrolls (NFP) menunjukkan sektor ekonomi AS berhasil menciptakan 172.000 lapangan kerja baru sepanjang periode Mei, angka yang bertengger jauh di atas proyeksi para analis yang memperkirakan hanya sebesar 85.000.

Rilis data tersebut memperkuat spekulasi pasar bahwa pihak Federal Reserve (The Fed) mempunyai peluang besar untuk melanjutkan kebijakan moneter ketat mereka dalam rentang waktu yang lebih lama.

Apresiasi nilai tukar dolar cenderung menekan pergerakan harga minyak mentah karena membuat nilai komoditas tersebut menjadi lebih mahal bagi para importir yang bertransaksi menggunakan denominasi mata uang asing lainnya.

Dari koridor geopolitik, para pelaku pasar terus memantau perkembangan proses negosiasi antara pihak AS dengan Iran. 

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa proses diskusi antara kedua belah pihak kini telah memasuki tahapan final, kendati belum ada pemaparan terperinci mengenai klausul tersebut. 

Di pihak lain, Iran ikut membenarkan bahwa proses diplomasi masih terus berjalan, namun diakui belum memperlihatkan hasil yang teramat besar.

Walaupun ketegangan bersenjata antara Israel dan Hizbullah dilaporkan masih berlangsung, eskalasi kontak fisik di lapangan diindikasikan mulai memperlihatkan penurunan intensitas. 

Kondisi ini membuat para pelaku pasar menyimpulkan bahwa ancaman tersumbatnya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah tidak akan seburuk seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.

Secara analisis teknikal, pihak FXEmpire memproyeksikan minyak WTI saat ini tengah berupaya merosot melewati batas penahan (support) di kisaran USD91,00-USD91,50 per barel. 

Jika aksi pelepasan komoditas ini terus berlanjut hingga level pembatas tersebut jebol secara signifikan, maka harga WTI berisiko terseret turun lebih dalam menuju area penopang selanjutnya di rentang USD85,00-USD85,50 per barel.

Sebaliknya, guna merajut kembali tren kenaikan yang kuat ke depan, minyak jenis WTI wajib menembus area dinding pembatas (resistance) di level USD97,00-USD97,50 per barel.

Sementara itu, untuk varian minyak Brent saat ini sedang berhadapan dengan area batas penopang terdekat pada kisaran harga USD91,00-USD91,50 per barel. 

Apabila posisi tersebut gagal dipertahankan dari koreksi, maka harga minyak Brent berpeluang meneruskan tren penurunan menuju batas kisaran USD86,00-USD86,50 per barel, yang sekaligus menjadi level terendah sejak periode April kemarin.

Reporter: Ibtihal