Penjualan Anjlok 35,2 Persen, BATA Tanggung Rugi Rp116,23 Miliar

ILUSTRASI, Sepatu BATA (Sumber Gambar : Net)
Senin, 08 Juni 2026 | 13:01:44 WIB

JAKARTA – PT Sepatu Bata Tbk. (BATA) masih mencatat kerugian sebesar Rp116,23 miliar sepanjang 2025, meski susut 21,4% secara tahunan, seiring dengan penurunan penjualan hingga 35,2%.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (8/6/2026), rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk BATA tercatat membaik dibandingkan realisasi pada 2024 sebesar Rp147,97 miIiar.

Laporan keuangan audit per 31 Desember 2025 juga mencatat penjualan neto BATA turun 35,2% menjadi Rp298,25 miliar dari Rp459,98 miliar pada tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan tersebut membuat laba bruto menyusut menjadi Rp105,45 miliar dari Rp197,15 miliar pada 2024.

Di sisi lain, BATA masih membukukan rugi usaha Rp106,34 miliar. Perseroan juga mencatat kerugian pelepasan aset tetap sebesar Rp4,34 miliar serta beban usaha lainnya senilai Rp7,8 miliar.

Tekanan kinerja tersebut tecermin pada posisi keuangan perusahaan. Total aset turun menjadi Rp282,56 miIiar dari Rp405,66 miliar pada 2024, sementara total liabilitas masih mencapai Rp414,21 miliar.

Akibatnya, BATA membukukan defisiensi modal sebesar Rp131,65 miliar, memburuk dibandingkan dengan defisiensi modal Rp15,93 miIiar pada akhir 2024.

Auditor independen dari KAP Purwanto, Susanti dan Surja menyatakan grup mengalami rugi Rp116,5 miliar pada 2025. Selain itu, total liabilitas jangka pendek perseroan juga melebihi aset lancar sebesar Rp197,9 miliar.

Dalam laporannya, auditor menegaskan kondisi tersebut mengindikasikan adanya ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan signifikan atas kemampuan grup mempertahankan kelangsungan usahanya.

Tekanan bisnis juga berdampak pada jumlah tenaga kerja. Hingga akhir 2025, BATA memiliki 68 karyawan tetap dan kontrak, atau susut dari sebelumnya sebanyak 74 karyawan pada akhir 2024.

Pada saat yang sama, liabilitas imbalan kerja jangka panjang meningkat menjadi Rp8,14 miliar dari Rp5,3 miliar setahun sebelumnya.

Perseroan juga mengajukan pembubaran Dana Pensiun PT Sepatu Bata pada 24 Juni 2025, yang telah disetujui Otoritas Jasa Keuangan dan efektif sejak 31 Juli 2025. Proses likuidasi dana pensiun tersebut masih berlangsung hingga penyelesaian laporan keuangan.

Selain itu, auditor menjadikan evaluasi penurunan nilai aset nonkeuangan pada toko ritel sebagai salah satu hal audit utama. Pada akhir 2025, nilai tercatat aset non-keuangan di toko ritel mencapai Rp83,86 miliar atau sekitar 29,7% dari total aset konsolidasian, di tengah kerugian berulang dari operasi gerai ritel.

Sebelumnya, Grup telah melakukan berbagai upaya selama empat tahun terakhir di tengah kerugian dan tantangan industri akibat pandemi dan perubahan perilaku konsumen secara cepat.

Pada 2024, BATA telah melakukan beberapa kegiatan restrukturisasi, yakni pertama, menutup lebih dari 200 gerai yang merugi untuk kembali memiliki jaringan gerai yang menguntungkan.

Kedua, menutup pabrik dan gudang di Purwakarta yang mengakibatkan, antara lain pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan pabrik dan gudang di Purwakarta yang telah disetujui oleh semua pihak dan telah dibayarkan pada Mei 2024.

 

Reporter: Gemilang Ramadhan