BI Ungkap Pemicu Rupiah Anjlok Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti. (Foto: dok. KOMPAS.com)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 05 Juni 2026 | 10:33:31 WIB

JAKARTA - Otoritas Bank Indonesia menguraikan aspek pendorong merosotnya nilai tukar rupiah yang meluncur melewati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat, di mana kondisi tersebut dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta melonjaknya permintaan valuta asing di pasar dalam negeri pada Kamis (4/6/2026).

Disadur dari finance.detik.com, pergolakan di Timur Tengah berimbas pada harga minyak mentah internasional yang terus bertahan pada posisi tinggi. 

Situasi tersebut mendatangkan risiko kenaikan inflasi global sekaligus menstimulasi arus pelarian modal ke luar (capital outflow) dari pasar negara-negara berkembang.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menjelaskan bahwa selain faktor sentimen global, himpitan terhadap mata uang garuda juga disebabkan oleh siklus tahunan dari dalam negeri, yakni maraknya aktivitas repatriasi dividen serta pemenuhan kewajiban utang luar negeri.

"Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN)," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Merujuk pada paparan Destry, depresiasi yang melanda mata uang rupiah tidak terjadi secara terpisah, melainkan bergerak searah dengan pelemahan mata uang regional lainnya di zona Asia yang secara tahun berjalan (year-to-date) tercatat sudah terdepresiasi sebesar 7,44 persen. 

Walau demikian, tingkat ketahanan cadangan devisa domestik dinilai masih berada dalam posisi yang kuat.

"Secara umum, pelemahan Rupiah juga masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah 7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Demi menyikapi pergerakan pasar tersebut, Bank Indonesia menegaskan kesiapannya untuk mengintensifkan tindakan intervensi pasar melalui instrumen transaksi Non-Deliverable Forward di pasar internasional (offshore), transaksi di pasar tunai (spot), hingga Domestic Non-Deliverable Forward di pasar uang dalam negeri.

"Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," papar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Sebagai langkah strategis jangka panjang untuk menjinakkan fluktuasi nilai tukar, Bank Indonesia terus memperluas jaringan kerja sama dalam implementasi penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) bersama jajaran negara mitra dagang utama, meliputi China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, serta Uni Emirat Arab.

Hasil dari diversifikasi pada kegiatan perdagangan lewat mekanisme Local Currency Transaction ini menunjukkan tren pertumbuhan yang mengesankan, dengan akumulasi nilai mencapai kisaran 22,7 miliar dolar AS hingga April 2026, hampir menyamai total capaian sepanjang tahun terdahulu yang berada di level 25,7 miar dolar AS.

Reporter: Ibtihal