Gairah Teknologi Bawa Angin Segar, Bursa Asia Bersiap Melaju Hijau

Ilustrasi saham naik (Gambar: NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 03 Juni 2026 | 15:00:32 WIB

JAKARTA – Pasar saham di wilayah Asia bersiap untuk melaju di zona hijau pada sesi perdagangan Rabu (3/6/2026), mengikuti jejak pergerakan positif yang terjadi di Wall Street.

Kembalinya gairah para pemodal terhadap industri kecerdasan buatan (AI) berhasil membawa indeks S&P 500 membukukan reli kenaikan selama sembilan hari berturut-turut. Sementara itu, pergerakan harga minyak dunia terpantau mendatar di tengah ketidakpastian sinyal mengenai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kontrak berjangka (futures) indeks saham memberikan indikasi adanya pembukaan di level yang lebih tinggi untuk bursa Tokyo dan Sydney, namun kontrak untuk bursa Hong Kong justru melemah tipis.

Pada transaksi Selasa kemarin, indeks S&P 500 mencatatkan rekor kenaikan beruntun paling lama sejak Mei 2025, yang disokong oleh kenaikan indeks saham produsen semikonduktor hingga hampir 6%.

Di sisi lain, harga minyak mentah AS tidak banyak bergeser pada Rabu pagi setelah sempat melonjak di atas 7% dalam dua sesi terdahulu, menyusul rilis dari beberapa media Iran yang meragukan adanya progres dalam negosiasi dengan pihak Washington.

"Sektor teknologi terus mendominasi pasar," ujar pakar strategi veteran, Louis Navellier. "Trennya tetap positif, di mana katalis untuk keuntungan material yang lebih besar sangat mungkin terjadi jika tercapai resolusi dengan Iran." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya masih memelihara optimisme bahwa AS dapat segera meraih kesepakatan damai temporer. Ia menyanggah pemberitaan media resmi pemerintah Iran yang mengklaim bahwa negosiasi dengan Washington tengah ditangguhkan lantaran adanya konflik bersenjata di Lebanon. Trump menegaskan bahwa kedua pihak "terus-menerus" melakukan pembicaraan, termasuk "hari ini." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di pihak lain, Mehr, yang merupakan kantor berita Iran, mengabarkan bahwa para pembuat kebijakan di Teheran sedang mematangkan pembahasan "draf akhir" dari dokumen kesepakatan untuk dikirimkan kepada pihak AS.

Perhatian utama di pasar minyak saat ini masih tertuju pada Selat Hormuz, sebuah rute krusial yang mengalirkan mendekati seperlima dari suplai minyak global serta gas alam cair (LNG) sebelum pecahnya konflik. Sampai dengan saat ini, aktivitas pelayaran dagang komersial yang terpantau di kawasan perairan tersebut diinformasikan masih amat terbatas.

Walaupun sektor bisnis mesti berhadapan dengan pembengkakan biaya energi sebagai dampak dari ketegangan dengan Iran, data ketenagakerjaan AS di luar dugaan melesat pada April ke posisi tertingginya dalam rentang hampir dua tahun terakhir, yang dibarengi pula oleh berkurangnya gelombang pemutusan hubungan kerja. Realitas ini semakin memvalidasi bahwa pasar tenaga kerja di AS masih tergolong sangat kokoh.

"Pasar tenaga kerja terus mempertahankan posisinya," kata Bret Kenwell dari eToro. "Ada harapan bahwa harga energi akan turun setelah lonjakan akibat isu geopolitik pada kuartal pertama. Kondisi ini memungkinkan The Fed untuk menahan suku bunga sementara inflasi mereda di paruh kedua tahun ini. Jika hal itu berpadu dengan ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan, maka harga saham bisa terdorong lebih tinggi." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

CEO Goldman Sachs Group Inc., David Solomon, berpendapat bahwa penguatan signifikan di pasar modal saat ini dipicu oleh besarnya gairah investor untuk mengamankan profit, yang mengesampingkan kekhawatiran atas risiko inflasi maupun gejolak ekonomi.

"Kami pastinya sedang berada di momen di mana keserakahan (greed) jauh lebih besar daripada rasa takut (fear)," ujar Solomon saat berbicara di Economic Club of New York pada hari Selasa. "Dana modal itu tersedia." sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sektor perdagangan valuta asing, nilai tukar mata uang yen merosot mendekati level 160 per dolar AS pada transaksi Selasa, menyusul sikap para pelaku pasar yang bersiap mencermati pidato dari Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda guna menangkap sinyal arah kebijakan tingkat suku bunga. Sementara itu, indeks dolar AS bergerak mendatar dan pasar surat utang negara AS (Treasury) berakhir variatif pada penutupan sesi perdagangan di AS.

Untuk sektor investasi lainnya, aktivitas penjualan obligasi berkategori layak investasi (investment-grade) di AS telah menembus nilai US$1 triliun. Pencapaian angka ini tergolong jauh lebih akseleratif jika dikomparasikan dengan tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 2020.

Fenomena tersebut diakibatkan oleh selisih imbal hasil (spread) yang menyentuh level terendah secara historis serta masifnya anggaran korporasi untuk ekspansi AI yang memotivasi perusahaan-perusahaan raksasa untuk menghimpun pinjaman. Di sisi lain, merosotnya sentimen pasar terhadap Bitcoin berimbas pada tertekannya pergerakan aset digital dengan kapitalisasi terbesar di dunia tersebut.

Reporter: Akbar