Hari Terakhir Cum Dividen Saham INTP Senilai Rp 46.800 per Lot
JAKARTA – Kesempatan terakhir untuk memperoleh dividen saham bernilai jumbo dari PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP).
Hari ini, Rabu, 3 Juni 2026, merupakan cum dividen saham INTP dengan total nilai mencapai lebih dari Rp 1,5 triliun. Setiap pembelian satu saham INTP pada hari ini berhak atas dividen senilai Rp 46.800.
Cum dividen merupakan masa akhir suatu saham masih mengandung hak atas dividen. Para pemodal yang berminat atas dividen wajib mengoleksi saham tersebut paling lambat pada masa cum dividen dan menahannya sampai tanggal pencatatan atau recording date.
Seperti yang dikabarkan sebelumnya, INTP menetapkan pembagian dividen tunai bernilai Rp 1,53 triliun. Ketetapan pembayaran dividen ini telah mengantongi persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang dilaksanakan pada 21 Mei 2026.
Melalui jumlah tersebut, para pemodal INTP bakal memperoleh dividen Rp 468 per saham yang bersumber dari laba bersih tahun buku 2025. Dengan demikian, pemodal akan mengantongi dana dividen senilai Rp 46.800 untuk setiap lot saham INTP.
Pada sesi perdagangan Selasa 2 Juni 2026, harga saham INTP berada di level Rp4.970 atau mengalami kenaikan 1,43% senilai 70 poin dalam hitungan harian. Merujuk pada harga tersebut, tingkat yield dividen saham INTP menyentuh angka 9,42%. Tingkat yield dividen saham tersebut setara dengan 4 kali lipat bunga deposito bank umum yang saat ini berada di kisaran 2%-3%.
Sebagai informasi tambahan, Indocement berhasil membukukan laba bersih senilai Rp 2,2 triliun sepanjang periode 2025.
Direktur Utama Indocement, Christian Kartawijaya, mengatakan sisa laba bersih setelah pembagian dividen akan dicatat sebagai saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Jadwal dividen INTP 2026
Pemegang saham yang berhak atas kucuran dividen merupakan pemodal yang namanya terdaftar dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 5 Juni 2026 pukul 16.00 WIB. Berikut adalah jadwal menyeluruh pembagian dividen INTP 2026:
- Cum dividen pasar reguler dan negosiasi: 3 Juni 2026
- Ex dividen pasar reguler dan negosiasi: 4 Juni 2026
- Cum dividen pasar tunai: 5 Juni 2026
- Ex dividen pasar tunai: 8 Juni 2026
- Tanggal pembayaran dividen: 19 Juni 2026
Penjualan Kuartal 1 2026 Naik Tipis
INTP merilis kinerja kuartal I-2026 dengan pencapaian volume penjualan total (semen dan klinker) sebesar 4,44 juta ton, atau mengalami pertumbuhan 1,8% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Merujuk pada siaran pers yang diterima pada Senin (1/6/2026), peningkatan volume penjualan di fase awal 2026 ini disokong oleh sektor ekspor yang melesat hingga 239% secara tahunan (YoY), sedangkan volume untuk pasar domestik mengalami penurunan sebesar 2,3%.
Melihat ke sisi kinerja keuangan, INTP mencatatkan pendapatan senilai Rp 3,84 triliun pada kuartal I-2026, atau mengalami penurunan 3,3% YoY dari perolehan pendapatan senilai Rp 3,97 triliun di periode Januari-Maret 2026.
Adanya penurunan pendapatan ini memicu beban pokok pendapatan perusahaan ikut menyusut sebesar 3,9% menjadi Rp 2,74 triliun. Kondisi tersebut membuahkan margin laba bruto senilai Rp1,10 triliun atau setara 28,6% dari pendapatan neto.
Pada periode yang sama, beban usaha perusahaan terpantau membubung 3% menjadi Rp872,5 miliar, yang dipicu oleh peningkatan ongkos pengiriman atau transportasi yang lebih tinggi. Lewat capaian tersebut, perusahaan mengantongi margin laba usaha di level 6,2% serta EBITDA di angka 17,0% untuk periode kuartal I-2026.
Sementara itu, laba periode berjalan INTP pada kuartal I-2026 terkerek tipis sekitar 2,1% menjadi Rp215,2 miliar, dibandingkan dengan raihan Rp210,7 miliar pada posisi yang sama di tahun sebelumnya.
Corporate Secretary INTP Dani Handajani mengatakan, meskipun pasar semen domestik meningkat pada kuartal I 2026, industri masih menghadapi ketidakseimbangan besar antara kapasitas terpasang dan permintaan domestik, yang menyebabkan tingkat utilisasi rendah sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, kenaikan harga energi belakangan ini sebagai imbas dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga diproyeksikan bakal kian menekan daya beli yang sedang melemah, sementara alokasi anggaran untuk proyek baru juga berpotensi diperketat.
“Oleh karena itu, industri harus terus memaksimalkan seluruh aspek aktivitas operasional serta mengoptimalkan jaringan distribusi dan logistik,” pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.