Gandeng Bakrie dan Tommy, BIPI Targetkan Pendapatan Non-Batu Bara 50 Persen

ILUSTRASI, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur (Sumber Gambar : kontan.co.id)
Selasa, 26 Mei 2026 | 18:53:11 WIB

JAKARTA – PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) sukses keluar sebagai pemenang dalam tender proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy/WtE) gelombang kedua Danantara melalui Konsorsium Mentari Citra Lestari. Perusahaan memperoleh dukungan penuh dari Grup Bakrie lewat PT Bakrie Capital Indonesia yang mengucurkan investasi dengan nilai fantastis mencapai Rp1,06 triliun demi memperkuat porsi kepemilikan saham hingga menjadi 6,73%.

Corporate Secretary BIPI Kurniawati Budiman menerangkan bahwa langkah strategis tersebut dijalankan sebagai bagian dari rencana perseroan dalam memperkokoh portofolio investasi pada sektor energi hijau yang menyokong pertumbuhan bisnis energi berkelanjutan.

Pasokan dana segar serta keberhasilan memenangi tender bergengsi dari Danantara ini menjadi pilar utama bagi perusahaan dalam mengejar target yang ambisius, yakni mengalihkan 50% sumber pendapatan ke segmen non-batu bara dalam jangka waktu tiga tahun mendatang. “Ini untuk mendongkrak kembali kinerja fundamental keuangan korporasi yang sempat mengalami tekanan,” kata dia, sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Senin (25/5/2026).

Kemitraan strategis yang dibangun BIPI semakin melebar setelah perusahaan secara resmi menjalin kerja sama dengan Grup Humpuss kepunyaan Tommy Soeharto.

Langkah ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk bersama-sama menggarap lima proyek energi berkelanjutan dengan perkiraan alokasi belanja modal menyentuh angka US$1,5 bakar.

Kolaborasi kuat ini bakal dipusatkan pada proyek-proyek masa depan, meliputi pembangkit listrik panas bumi (geothermal) yang terintegrasi dengan pusat data (data center) di Pulau Sabang Aceh, pendirian mini LNG plant di wilayah Sidoarjo dan Batam, hingga pembangunan infrastruktur hilir untuk industri penyokong energi terbarukan.

Di samping itu, perusahaan sebelumnya telah memegang 20% kepemilikan saham pada anak usaha PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) guna menjalankan operasional fasilitas PSEL Cipeucang yang berada di Tangerang Selatan.

Demi mencukupi kebutuhan belanja modal (capex) pada sektor non-batu bara yang diperkirakan memerlukan dana hingga Rp86 triliun (US$ 5 miliar) dalam beberapa tahun ke depan, BIPI mengambil langkah berani dengan melego seluruh porsi saham sebesar 99,9% di anak usaha yang bergerak di bidang tambang batu bara, PT Sintesa Bara Gemilang Tbk (SBG). Saham tersebut dilepas dengan nilai Rp1,79 triliun kepada PT Indo Panca Borneo.

Langkah divestasi berskala besar ini menjadi strategi korporasi yang sangat menguntungkan.

Sebab, selain memberikan tambahan likuiditas segar untuk keperluan ekspansi, BIPI kini juga resmi lepas dari kewajiban berat sebagai corporate guarantor atas utang tambang SBG yang menyentuh angka Rp4 triliun.

Dengan demikian, kondisi neraca keuangan perusahaan menjadi jauh lebih sehat serta terlihat menarik di mata para investor.

Langkah transformasi menyeluruh dari sektor komoditas fosil ke arah raksasa infrastruktur hijau yang terintegrasi ini seketika menyulut optimisme tinggi di lantai bursa. Sejumlah analis pasar modal membuat proyeksi bahwa pergerakan saham BIPI punya potensi kuat untuk reli menuju target harga yang baru pada level Rp300.

Reporter: Gemilang Ramadhan