Saham SOFA Naik 9,47 Persen Usai Raih Proyek PSEL Danantara

Ilustrasi PT Solusi Enviroment Asia Tbk (SOFA) (Foto: NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 26 Mei 2026 | 18:52:22 WIB

JAKARTA – Harapan PT Solusi Enviroment Asia Tbk (SOFA) untuk memperoleh kontrak pengelolaan limbah menjadi tenaga listrik akhirnya tercapai. Emiten yang sebelumnya menggunakan nama PT Boston Furniture Indonesia Tbk. ini mempublikasikan bahwa mereka bakal mengelola proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di dua tempat berbeda.

Direktur Utama Solusi Environment Asia, Denny Rizal, lewat laporan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Senin (25/5/2026), memaparkan bahwa pengerjaan proyek PSEL ini bakal dilaksanakan oleh anak perusahaannya, yaitu PT Ananta Energi Asia (AEA), yang berkolaborasi dengan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Ada dua lokasi proyek nasional yang telah ditetapkan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anaganta Nusantara untuk kami yakni di Denpasar Raya dan Bogor Raya,” papar dia.

Berdasarkan penjelasan Denny, pembentukan konsorsium itu dilakukan demi mematuhi regulasi Danantara yang mengharuskan operator berskala internasional berpartner dengan korporasi lokal di Indonesia, dengan tujuan memicu alih teknologi sekaligus kemitraan bersama pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait di wilayah setempat.

Zhejiang Weiming sendiri diakui sebagai salah satu korporasi pengelola PSEL raksasa serta paling berpengalaman di ranah global, yang memiliki rekam jejak pengelolaan puluhan fasilitas aktif di Tiongkok.

Sepanjang tahun 2025, keseluruhan daya listrik yang diproduksi oleh Zhejiang Weiming lewat aktivitas pemrosesan sampah menyentuh 4,62 miliar kWh, atau sepadan dengan total pemakaian energi listrik tahunan untuk satu provinsi ukuran sedang di Indonesia.

Korporasi ini pun telah ditunjuk oleh Danantara selaku mitra kolaborasi dalam menggarap dua dari total empat titik PSEL pada fase pertama, tepatnya di Denpasar Raya serta Bogor Raya, yang menempatkannya sebagai salah satu jawara paling dominan dalam proses tender proyek PSEL nasional fase pertama tersebut.

Di sisi lain, perseroan lewat Ananta Energi Asia mengambil peran selaku mitra lokal yang sah di dalam konsorsium bersama Zhejiang Weiming, dengan memegang tanggung jawab atas penyelarasan dokumen perizinan, komunikasi dengan pihak pemda, serta proses alih teknologi guna meningkatkan kapabilitas sektor industri domestik, selaras dengan ketentuan yang dipersyaratkan Danantara.

Ananta Energi didirikan lewat kerja sama dengan PT Asia Investment Capital (AIC), yang bertindak sebagai pengendali utama, pada tanggal 5 Februari 2026, dengan proporsi porsi saham masing-masing berada di angka 99% dan 1%.

Bagi emiten yang pada masa lampau beroperasi pada sektor manufaktur furnitur berbahan baku kayu serta komoditas kayu lainnya ini, kontrak proyek PSEL yang didapatkan oleh Ananta Energi Asia menjadi sebuah pencapaian yang sangat bernilai material.

Untuk proyeksi jangka panjang, Denny mengestimasi bahwa kondisi arus kas perusahaan bakal bergerak positif. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Potensi arus kas jangka panjang diperoleh karena skema perjanjian pembelian daya 30 tahun dengan PLN dengan tarif tetap US$ 0,2 per KWH,” terang dia.

Pada perdagangan Senin (25/5/2026), pergerakan saham SOFA mengalami lonjakan sebesar 9,47% hingga menyentuh posisi Rp 370 per lembar saham. Sementara itu, dalam kurun waktu satu bulan ke belakang, tren saham SOFA terpantau melemah sebesar 18,86%.

Reporter: Akbar