JAKARTA – Salah satu entitas anak dari PT Metrodata Electronics Tbk. (MTDL), yaitu PT FPT Metrodata Indonesia, sedang membidik kenaikan pendapatan beserta laba bersih hingga menembus angka dua digit. Sasaran ini ditetapkan sejalan dengan semakin tingginya keperluan publik terhadap jasa perlindungan siber, di tengah kondisi tensi geopolitik dunia yang memanas serta meningkatnya risiko gangguan di ruang digital.
Berdasarkan paparan Presiden Direktur PT FPT Metrodata Indonesia, Edwin Putraoetama Octosa, ketidakpastian geopolitik global yang kian meruncing memicu ancaman serangan siber kini kian kerap dijadikan kedok kriminalitas demi memperoleh profit keuangan, seperti penyebaran ransomware maupun tindakan peretasan data.
Kendati begitu, ia menilai bahwa eskalasi ancaman digital tersebut pada dasarnya mendatangkan keuntungan tersendiri bagi para penyedia solusi proteksi siber.
Perusahaan hasil kolaborasi antara grup Metrodata Electronics dengan korporasi asal Vietnam ini pun mempublikasikan bahwa mereka tetap mempertahankan performa yang impresif sampai triwulan I/2026, sekaligus memasang target perolehan top line maupun bottom line pada level dua digit.
“Dengan adanya ancaman cyber security yang meningkat, kami mencoba memberikan solusi buat para pelanggan. Itu yang diharapkan memiliki dampak positif untuk perusahaan. Kami membidik kinerja positif baik dari top line dan top line,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Kamis (21/5/2026).
Edwin menjelaskan ambisinya agar porsi pendapatan yang bersumber dari lini virtual SOC mampu berkembang secara berimbang dengan lini usaha lainnya.
Selama ini, sektor perbankan masih menjadi pasar yang paling mendominasi dalam penyerapan layanan keamanan siber lantaran regulasi di industri keuangan yang amat ketat.
Namun, permintaan dari sektor industri lainnya sekarang juga sudah mulai merangkak naik, terutama bagi korporasi yang sedang mengintegrasikan sistem layanan digital mereka dengan sektor perbankan.
“Bank tentu tidak mau terintegrasi dengan perusahaan yang sistem keamanannya belum aman. Akhirnya mereka juga butuh solusi cyber security,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mengenai taktik ekspansi bisnis, saat ini pihak internal perusahaan masih memfokuskan seluruh energinya untuk memaksimalkan pasar domestik.
Mereka menyasar ceruk perusahaan skala menengah hingga besar, khususnya korporasi yang memiliki rentang 50 sampai 300 pengguna sistem digital.
Kendati demikian, beberapa tantangan tetap harus diantisipasi, salah satunya yakni tren kenaikan harga chipset pada level global yang berpotensi melambungkan biaya pengadaan perangkat keras penunjang keamanan siber.
“Chipset sekarang mahal dan langka. Itu yang bisa memengaruhi biaya hardware. Kalau software dan manpower masih lebih terkontrol,” ucapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, PT Metrodata Electronics Tbk. (MTDL) secara makro membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 21,4% YoY, sehingga mampu menyentuh level Rp6,7 triliun pada kuartal pertama tahun 2026.
MTDL pun berhasil mengamankan laba bersih senilai Rp158,9 miar pada kuartal I 2026, yang disokong oleh perpaduan dua pilar usaha utamanya, yakni Distribusi TIK serta Layanan Solusi dan Konsultasi.
Pada periode kuartal pertama tahun ini, sektor bisnis Distribusi berhasil menyumbang kenaikan pendapatan hingga 23,8% YoY.
Portofolio produk yang bervariasi milik MTDL, khususnya pada kategori perangkat Notebook dan smartphone, menjadi modal pertahanan utama bagi lini bisnis Distribusi dalam mengarungi situasi pasar saat ini yang dipenuhi tantangan.
Secara lebih detail, segmen telekomunikasi (terutama smartphone) terus menunjukkan daya tahan yang kokoh. Hal ini terbukti lewat capaian tiga bulan pertama di tahun 2026 ini, di mana sektor tersebut sanggup melonjak hingga 45,5% jika dikomparasikan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Sementara itu, untuk unit usaha Solusi dan Konsultasi Digital berhasil mengantongi pertumbuhan pendapatan sebesar 7,2% YoY. Peningkatan performa pada unit usaha ini dipicu oleh naiknya permintaan jasa dari sektor-sektor industri utama, seperti bidang jasa keuangan serta telekomunikasi.
Permintaan layanan yang berasal dari industri jasa keuangan tercatat tumbuh 10,9% YoY, sedangkan permintaan dari industri telekomunikasi tumbuh pada angka 8,8% YoY.
Di tengah situasi perkembangan geopolitik yang masih terus menghangat, MTDL secara konsisten bertumpu pada strategi ekspansi basis pendapatan berulang (recurring income) demi memperkuat stabilitas omzet pada unit usaha Solusi dan Konsultasi tersebut.