JAKARTA – Posisi fundamental komersial PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ditegaskan tetap berdiri dengan tangguh dalam menghadapi segala pergolakan di pasar saham belakangan ini.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloombergtechnoz, raihan operasional kelompok usaha ini pada triwulan pertama tahun 2026 memperlihatkan hasil yang amat kuat berkat sokongan lini energi, petrokimia, serta infrastruktur.
Direktur Utama Barito Pacific, Agus Pangestu, memaparkan bahwa pergerakan naik-turun di pasar saat ini cuma berstatus temporer dan sama sekali tidak mengusik agenda ekspansi jangka panjang korporasi.
Pada triwulan I-2026, perseroan sukses mencatatkan laba bersih setelah pajak mencapai US$ 271 juta, tumbuh pesat sekitar 803% secara year-on-year sekaligus memecahkan rekor pencapaian tertinggi sepanjang berdirinya perusahaan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Fundamental dan operasional bisnis grup tetap berada dalam kondisi solid. Fokus kami tetap pada ekspansi domestik dan regional. Perintah Pak Prajogo, seluruhnya dikonsolidasikan di Indonesia atas nama Merah Putih,” ujar Agus.
Bukan hanya mencatatkan kenaikan keuntungan, pembangunan megaproyek Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) saat ini juga telah menyentuh progres berkisar 70%.
Pengerjaan proyek ini menjadi bukti nyata keseriusan grup dalam menyokong agenda hilirisasi industri di tingkat nasional sekaligus memperkuat jaringan pasokan domestik.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Saat ini memang kami mengalami gejolak eksternal, namun kami rasa ini bersifat sementara dan kami optimistis situasi akan membaik. Pabrik Chandra Asri Chlor Alkali ini dibangun bersama Danantara untuk hilirisasi dan kami bersyukur mampu membuka lapangan perkerjaan kurang lebih sampai 3.000 orang demi Indonesia yang lebih baik," kata Agus.
Terkait rotasi susunan indeks MSCI yang belakangan menyita atensi para pemodal, Agus menegaskan bahwa ketetapan tersebut sepenuhnya merupakan hak prerogatif dari lembaga penyedia indeks. Pihak manajemen Barito Pacific lebih memilih untuk tetap mencurahkan fokus pada peningkatan performa operasional serta agenda ekspansi jangka panjang perusahaan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Like kata Ibu Kiki Ketua OJK, ini adalah short-term pain for long-term gain,” tutur Agus.
Mengenai pembentukan Badan Ekspor, lini industri Grup Barito Pacific difokuskan untuk menjadi substitusi impor demi mengurangi ketergantungan terhadap luar negeri sekaligus memperkokoh ekosistem di dalam negeri. Walau begitu, korporasi pun tetap memiliki deretan mitra pelanggan yang bergerak dalam lini ekspor produk.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Mari kami berpikir positif, menurut kami maksud dari kebijakan ini adalah untuk menjadikan kami lebih baik sehingga perlu kami beri waktu, menunggu informasi pelaksanaan yang lebih detil,” ujar Agus.
Merespons isu burung di media sosial terkait kondisi utang serta penjaminan aset saham, pihak manajemen memberikan kepastian bahwa ketersediaan dana kas dan rasio utang perusahaan saat ini dalam kondisi yang sehat.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “I rasa informasi ini cukup transparan dalam disclosure keuangan kami, likuiditas kami baik di holding maupun anak usaha ada pada posisi yang cukup baik dan sehat.”
Agus pun turut meluruskan spekulasi yang beredar mengenai potensi terjadinya margin call di pasar modal.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kalaupun ada kolateral saham yang dijaminkan atas keperluan perusahaan, saya yakin tidak lebih dari 10%,” ucap Agus.
Di samping menjalankan ekspansi pada lini kimia, Barito Pacific lewat anak perusahaannya juga sedang merampungkan proyek penambahan kapasitas energi terbarukan dengan target menyentuh 1 Gigawatt pada akhir tahun 2026.