Danantara Sebut Yield Dividen BUMN Sangat Menarik di Atas 11 Persen

ILUSTRASI, Gedung Danantara (Sumber Gambar : kontan.co.id)
Rabu, 20 Mei 2026 | 14:53:08 WIB

JAKARTA - Tingkat keuntungan dari investasi atau yield dividen sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di pasar modal saat ini dinilai berada pada level yang sangat menarik oleh Danantara Indonesia.

Berdasarkan keterangan dari CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, rekam jejak perusahaan-perusahaan pelat merah yang melantai di bursa efek, khususnya pada sektor perbankan (Himbara) dan pertambangan, memperlihatkan kondisi fundamental yang sangat tangguh.

Kondisi ini sekaligus membuka peluang keuntungan yang melimpah bagi para investor jangka panjang.

“Kalau kami lihat BUMN yang ada di bursa, contohnya Himbara ataupun mineral, itu yield-nya juga sangat baik di atas 10%—11%. Menurut kami itu sangat-sangat baik,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tidak hanya sampai di situ, harga pasar dari saham-saham bank kepunyaan pemerintah tersebut dinilai masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued). Rosan memaparkan bahwa rasio price to book value (PBV) pada beberapa bank saat ini posisinya berada di bawah 1 kali.

Padahal, dalam kondisi pasar yang bergerak normal, nilai rasio PBV untuk industri perbankan lazimnya berada di atas 2 kali bahkan bisa menyentuh 3 kali.

Keadaan inilah yang dianggap sebagai sebuah peluang emas bagi para pemodal untuk mulai masuk dan berinvestasi di pasar saham.

Rosan juga mengutarakan bahwa Danantara memandang bursa efek sebagai sarana untuk berinvestasi dalam jangka waktu yang panjang. Oleh sebab itu, naik turunnya harga pasar dalam skala harian maupun bulanan tidak dipandang sebagai kendala, melainkan mereka lebih memilih berfokus pada pertumbuhan nilai emiten untuk jangka menengah hingga jangka panjang.

Sikap optimistis ini juga disokong oleh kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI yang gencar membenahi aspek transparansi serta tata kelola di bursa saham.

Langkah pembenahan tersebut diyakini akan memperkokoh pasar modal sekaligus mempertebal rasa percaya dari para investor domestik maupun mancanegara.

“Approach kami itu bukan harian, bukan bulanan, tapi jangka panjang. Saya sangat meyakini bahwa ke depannya bursa kami ini akan terus bertumbuh baik dari segi market kapitalisasi, jumlah emiten, maupun investor,” tambahnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di luar topik mengenai imbal hasil, Rosan turut menyoroti pertumbuhan pesat jumlah investor ritel saat ini yang telah menembus angka 27 juta, melonjak dari data tahun sebelumnya yang tercatat di angka 20 juta investor. Angka pertumbuhan yang didominasi oleh generasi muda dan Gen Z ini dinilai sebagai pembuktian kuat bahwa pasar modal memiliki masa depan yang cerah.

Reporter: Gemilang Ramadhan