Kredit BCA Tumbuh Rp 994 Triliun, Likuiditas Tetap Terkelola Pruden

Ilustrasi Penyaluran Kredit Sebagai Fungsi Utama Bank (GAMBAR: finetiks.com)
Penulis: Akbar
Minggu, 10 Mei 2026 | 13:12:29 WIB

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memberikan penegasan bahwa perusahaan senantiasa menjaga pengelolaan likuiditas serta risiko secara pruden di tengah dinamika yang terjadi pada pasar keuangan, termasuk di dalamnya pelemahan nilai tukar rupiah serta volatilitas pada pasar surat berharga negara (SBN).

BCA menyatakan bahwa fungsi pokok perbankan tetaplah sebagai lembaga intermediasi atau penyalur kredit. Hingga Maret 2026, penyaluran kredit BCA tercatat mengalami pertumbuhan yang sehat dengan angka mencapai Rp994 triliun.

“Cadangan likuiditas sementara ditempatkan pada instrumen SBN dan pasar uang yang memiliki tingkat likuiditas yang baik,” ujar EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Sabtu (9/5/2026).

Pihak BCA memberikan penilaian bahwa pengelolaan portofolio surat berharga tidak hanya berpaku pada pergerakan imbal hasil (yield), tetapi juga mempertimbangkan durasi portofolio demi menjaga kualitas likuiditas secara menyeluruh.

Menurut perseroan, strategi tersebut diterapkan guna menjaga fleksibilitas dalam pengelolaan dana di tengah fluktuasi yang terjadi pada pasar obligasi serta nilai tukar.

Di sisi lain, BCA memberikan kepastian bahwa risiko mata uang asing tetap berada dalam kendali dengan menjaga posisi devisa neto atau net open position pada level yang rendah.

“BCA juga terus memastikan neraca terkelola dengan pruden, khususnya pada aspek asset-liability yang seimbang baik pada rupiah maupun eksposur mata uang asing,” sebut Hera sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Adapun kondisi rupiah yang merosot hingga di atas Rp17.000 per dolar AS mulai memberikan tekanan pada pasar SBN dan menguji daya tahan industri perbankan nasional. Dalam hal ini, bank-bank berskala besar dinilai memiliki ketahanan yang lebih kuat, sementara bank kecil menjadi semakin rentan terhadap kenaikan yield serta biaya dana.

Data terkini memperlihatkan rupiah sempat menyentuh posisi Rp17.445 per dolar AS dan bergerak pada kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 sepanjang pekan ini, yang mencerminkan masih kuatnya tekanan di pasar keuangan dalam negeri.

Pelemahan tersebut terjadi beriringan dengan naiknya volatilitas di pasar SBN, yang ditandai oleh peningkatan yield serta koreksi harga di pasar sekunder. Pergerakan ini tidak hanya dipicu oleh faktor domestik, tetapi juga oleh arus modal global, arah suku bunga internasional, serta bagaimana investor mempersepsikan risiko terhadap aset rupiah.

Dalam situasi ini, pasar SBN menjadi salah satu saluran utama transmisi gejolak global ke dalam sektor keuangan domestik. Di tengah tekanan tersebut, perhatian tertuju pada perbankan nasional yang memiliki kepemilikan SBN dalam jumlah besar.

Meski begitu, peran perbankan tidaklah seragam; sebagian mampu meredam gejolak, sementara sebagian lainnya lebih sensitif terhadap tekanan pasar.

Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa keterkaitan antara rupiah dan SBN terlihat paling nyata dari perilaku para investor asing di pasar obligasi.

“Ketika rupiah melemah, investor asing yang memegang obligasi pemerintah otomatis mengalami penurunan return dalam dolar. Yield SBN 10 tahun memang masih tinggi di kisaran 6,7%, tetapi kalau rupiah melemah 4% dalam setahun, return riil dalam dolar menjadi jauh lebih kecil dan kalah menarik dibanding US Treasury yang risikonya lebih rendah,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Kamis (7/5/2026).

Kondisi tersebut memicu investor asing untuk keluar dari pasar SBN dan mengalihkan dana mereka ke dolar AS, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah. Dengan demikian, pelemahan rupiah serta arus modal keluar dari SBN membentuk siklus yang saling memperkuat satu sama lain.

Yusuf menambahkan bahwa tekanan saat ini bersumber dari perpaduan faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, tingginya harga minyak dunia memperberat kebutuhan impor energi Indonesia dan menekan transaksi berjalan. Dari aspek finansial, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global mendorong para investor untuk beralih ke aset aman (safe haven).

Dalam kondisi demikian, perbankan nasional memegang peran sebagai penyangga pasar SBN, terutama saat investor asing menarik modalnya.

“Di tengah kondisi itu, perbankan nasional sekarang berperan sebagai penyangga utama pasar SBN. Sejak SRBI diperluas dan pemerintah mulai menempatkan dana di perbankan untuk menyerap obligasi, bank-bank domestik secara tidak langsung didorong menjadi anchor investor,” kata Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Secara kapasitas, likuiditas perbankan dinilai masih relatif longgar dan pertumbuhan kredit belum menunjukkan tren yang terlalu agresif. Hal ini menyebabkan sebagian dana yang belum terserap ke sektor kredit dialihkan ke instrumen moneter dan SBN.

Akan tetapi, peningkatan peran tersebut juga membawa konsekuensi tersendiri. Semakin besar alokasi dana ke instrumen SBN, maka semakin besar pula potensi terjadinya crowding out terhadap kredit sektor riil dalam jangka menengah.

Risiko ini memang belum dirasakan saat ini karena permintaan kredit masih lemah, namun potensi tersebut dapat muncul ketika kondisi ekonomi mulai pulih.

Reporter: Akbar