Untung Seller E-Commerce Turun 25 Persen Picu Tren Cari Kanal Baru

Ilustrasi barang elektronik. (Gambar: Freepik)
Penulis: Ibtihal
Minggu, 10 Mei 2026 | 12:53:03 WIB

JAKARTA – Perubahan strategi bisnis pada platform digital mulai mendatangkan tekanan baru bagi para pelaku usaha di ekosistem perdagangan daring. Kenaikan biaya layanan, ongkos kirim, hingga beban pengembalian barang atau retur mulai memicu kecemasan di kalangan penjual daring.

Sejumlah penjual kini mulai mempertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap marketplace dan mulai membangun kanal penjualan mandiri melalui media sosial maupun toko luring demi menjaga margin usaha mereka.

Fenomena tersebut muncul setelah sejumlah platform e-commerce menaikkan biaya layanan logistik sejak Mei 2026. Di saat yang sama, penjual juga dibebani biaya administrasi, promosi, iklan, hingga ongkos retur yang dinilai semakin memberatkan.

Margin Usaha Menyusut, Seller Mulai Tertekan

Salah satu penjual pakaian wanita di TikTok dan Shopee dengan nama toko Shanum25, Bunga (32), mengaku mulai merasakan tekanan berat dari perubahan skema biaya platform. Penjual yang berdomisili di Jakarta Barat yang menjual dress, atasan wanita, hingga pakaian one set Bangkok itu mengatakan keuntungan usahanya terus menyusut akibat potongan ongkir, biaya admin, dan retur barang.

“Sekarang seller dapat untung kayak cuma hikmah aja. Dulu bisa untung 50%, sekarang tinggal 25%, bahkan pernah cuma 5%,” kata Bunga sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, skema baru ongkir dan biaya layanan mulai memengaruhi kondisi penjual aktif di marketplace. Meski belum memutuskan untuk keluar dari platform digital, Bunga mengaku mulai mempertimbangkan membuka toko luring apabila tekanan biaya terus meningkat.

“Kalau begini terus penginnya buka toko offline saja karena pendapatan makin kepepet,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bunga menyebut persoalan terbesar bukan hanya biaya administrasi, tetapi juga beban retur yang kini ikut ditanggung penjual. Padahal sebelumnya biaya pengembalian barang tidak dibebankan kepada penjual. 

Ia mencontohkan, produk yang sebelumnya bisa menghasilkan laba Rp50.000 kini hanya menyisakan keuntungan sekitar Rp9.000 setelah dipotong ongkir dan biaya platform hingga Rp45.000.

Beban Retur Jadi Tantangan Serius Seller Kecil

Keluhan serupa disampaikan penjual lain, Muliyani (22). Namun, ia mengaku masih memilih bertahan di marketplace dengan mengandalkan strategi promosi dan menjaga kualitas produk untuk menghadapi tekanan biaya serta persaingan antarpenjual di platform digital.

“Yang penting sih kendala ongkir, biaya admin dan retur. Kalau pesaing masih bisa kami handle dengan kualitas barang dan ikut tren promosi,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hanya saja, Muliyani mengakui biaya retur menjadi ancaman serius bagi penjual kecil. Untuk pengiriman di wilayah Jawa Barat saja, ongkos retur yang harus ditanggung penjual berkisar Rp10.000–Rp11.000 per paket. Sementara untuk pengiriman luar pulau seperti Sulawesi dan Kalimantan, biaya bisa melonjak hingga Rp40.000–Rp50.000.

Muliyani berharap skema biaya di marketplace dapat kembali normal seperti sebelumnya. Sebab, penjual kecil dinilai semakin kesulitan menjaga keuntungan ketika biaya admin, ongkir, dan retur terus meningkat. Ia mengaku upaya menaikkan harga produk untuk menutup tambahan biaya pun tidak banyak membantu karena potongan biaya platform ikut meningkat seiring kenaikan harga barang.

“Harapannya bisa kayak dulu lagi, biaya admin, retur, sama ongkir normal, enggak melonjak kayak sekarang. Soalnya kami coba naikkin harga buat nutup biaya, eh potongannya ikut naik juga,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pergeseran Struktur Pasar E-Commerce Mulai Terlihat

Di tengah tekanan biaya yang terus meningkat, ekonom mulai melihat potensi pergeseran struktur pasar e-commerce. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda, mengatakan kenaikan biaya platform berisiko membuat penjual meninggalkan marketplace karena margin usaha semakin tertekan.

Menurutnya, konsumen Indonesia masih sangat sensitif terhadap harga, termasuk ongkos kirim. Ketika biaya platform naik, penjual pada akhirnya akan membebankan biaya tersebut ke harga produk sehingga permintaan berpotensi melambat.

“Kalau harga naik, konsumen cari yang lebih murah. Seller juga bisa pindah ke social commerce yang biayanya lebih rendah,” ujar Nailul sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nailul menilai langkah platform menaikkan biaya tidak lepas dari perubahan strategi bisnis perusahaan digital yang kini mulai mengejar profitabilitas. 

Di sisi lain, ia menilai pemerintah perlu memberi perlakuan berbeda antara produk lokal dan barang impor di e-commerce, termasuk melalui insentif logistik untuk produk UMKM domestik. 

Menurutnya, perlindungan diperlukan karena mayoritas barang yang beredar di marketplace masih didominasi produk impor.

Reporter: Ibtihal